Konten dari Pengguna

Sejarah Medan: Kampung Kecil yang Menjadi Kota Dagang Internasional

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Jalan Balai Kota Medan di depan Pos Blok Medan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Jalan Balai Kota Medan di depan Pos Blok Medan. Foto: Unsplash

Medan, kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia, memiliki kisah perjalanan yang unik dalam sejarah Nusantara. Berbeda dengan kota-kota besar lain yang tumbuh dari kerajaan-kerajaan kuno, sejarah Medan bermula dari sebuah kampung kecil bernama Medan Putri yang berdiri di pertemuan dua sungai. Transformasi dari kampung nelayan dan petani lada menjadi kota dagang internasional terjadi berkat kejayaan perkebunan tembakau yang mengubah wajah Tanah Deli selamanya. Artikel ini akan menguraikan lebih lengkap mengenai sejarah dari kota Medan.

Daftar isi

Kampung Medan Putri: Cikal Bakal Kota Medan

Dalam buku Lintasan Sejarah Peradaban dan Budaya Penduduk Pesisir Sumatera Timur 1612-1950 karya Tengku Luckman Sinar Basarshah II, dijelaskan bahwa Medan merupakan kampung kecil bernama Medan Putri yang terletak di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura.

Kedua sungai tersebut merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang ramai, sehingga Kampung Medan Putri cepat berkembang menjadi pelabuhan transit penting. Pendiri kampung ini adalah Guru Patimpus, seorang tokoh yang berpikiran maju dengan mengirim anaknya berguru membaca Al-Quran di Aceh.

Legenda Putri Hijau dan Perang Aceh-Deli

Dalam e-jurnal berjudul Situs Benteng Putri Hijau: Sejarah, Mitos, dan Perspektif Masyarakat karya Nabila Dwisuda dan kawan-kawan, terdapat legenda tentang Putri Hijau yang hidup di Kesultanan Deli Lama sekitar 10 km dari Kampung Medan.

Sultan Aceh jatuh cinta dan melamarnya, namun lamaran ditolak oleh kedua saudara laki-laki Putri Hijau. Penolakan ini memicu perang antara Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Deli, mencerminkan dinamika hubungan politik antara dua kesultanan besar di Sumatera pada masa itu.

Kedatangan Jacob Nienhuys dan Revolusi Tembakau

Tahun 1863 menjadi titik balik ketika Jacob Nienhuys, seorang pedagang tembakau Belanda, datang ke Labuhan Deli. Dalam buku Sejarah Perkebunan Sumatera Timur karya Tengku Sinar disebutkan bahwa Nienhuys mendapat bantuan dari Said Abdullah Bilsagih untuk memperoleh konsesi tanah seluas 4.000 bahu di Tanjung Sepassi.

Pada Maret 1864, Nienhuys mengirim contoh tembakau hasil kebunnya ke Rotterdam. Hasilnya mengejutkan, daun tembakau Deli dianggap berkualitas tinggi dan sempurna sebagai pembungkus cerutu.

Seperti yang dicatat dalam buku Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera karya Ann Laura Stoler, nama Deli langsung melambung di Eropa sebagai penghasil bungkus cerutu terbaik dunia.

Pendirian Deli Maatschappij dan Booming Perkebunan

Kesuksesan Nienhuys membawa kepercayaan besar dari pemodal Amsterdam. Pada 28 Oktober 1869, dibentuklah NV Deli Maatschappij, perusahaan perseroan terbatas yang menjadi pionir industri perkebunan skala besar di Tanah Deli.

Dalam catatan Sejarah Tembakau Dengan Kota Medan karya Dr. Ir. H.M. Edwin Syahputra Lubis, dijelaskan bahwa pada tahun 1865, perkebunan Nienhuis menghasilkan 189 bal daun tembakau dengan keuntungan besar di pasar Eropa.

Didukung Undang-Undang Agraria tahun 1870, wilayah Sumatera Timur yang tadinya hutan belantara berubah total menjadi kawasan perkebunan produktif.

Perpindahan Pusat Ekonomi ke Medan

Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sangat luas, kantor-kantor perusahaan perkebunan memindahkan markas mereka dari Labuhan ke Kampung Medan Putri. Seperti yang dicatat dalam catatan sejarah resmi Pemerintah Kota Medan, perpindahan ini membuat Kampung Medan Putri semakin ramai dan berkembang, sehingga lebih dikenal dengan sebutan Kota Medan.

Pada tahun 1886, Medan secara resmi memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya Residen Pesisir Timur serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909, Medan menjadi kota terpenting di luar Jawa setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran.

Paris van Sumatera dan Warisan Kota Perkebunan

Kejayaan perkebunan tembakau membawa dampak budaya yang unik bagi Medan. Kota ini mendapat julukan "Paris van Sumatera" bukan karena mirip dengan Paris, melainkan karena para Deliaan, sebutan untuk tuan kebun Belanda merasa jiwa romantis, etos kerja keras, dan keberanian Paris sesuai dengan semangat mereka.

Gedung-gedung bercorak art deco bercat putih, monumen, taman-taman kota, dan jalanan lebar Medan terkait dengan dunia perkebunan.

Setelah kemerdekaan, Medan terus berkembang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan di Sumatera Utara, menjadi rumah bagi berbagai etnis yang datang sejak era perkebunan dan membentuk masyarakat multikultural yang khas.

Warisan sejarah perkebunan tembakau masih terasa hingga kini, terlihat dari lambang Provinsi Sumatera Utara yang menampilkan daun tembakau.

Baca juga: Sejarah Bali Sejak Zaman Prasejarah hingga Pasca Kemerdekaan

(NDA)