Sejarah Maluku: Kepulauan Rempah yang Mengubah Peradaban Dunia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maluku, kepulauan kecil di timur Indonesia, menyimpan kisah besar yang pernah mengguncang dunia. Meski wilayahnya tidak luas, tanahnya menghasilkan rempah-rempah berharga seperti cengkih dan pala, yang pada masa lalu nilainya lebih tinggi dari emas. Karena kekayaan alam inilah, Maluku menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa besar dunia, dari Portugis hingga Belanda. Sejarah Maluku bukan hanya kisah perdagangan, tetapi juga perjalanan tentang kekuasaan, perjuangan rakyat, dan pembentukan identitas yang masih terasa hingga kini. Simak terus uraian berikut ini untuk mengetahui informasi lebih lanjut seputar sejarah dari kota Maluku.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Akar Peradaban dan Asal-Usul Orang Maluku
Jejak manusia di Maluku telah ada sejak ribuan tahun lalu. Menurut penelitian Jatmiko dan Mujabuddawat dalam Kapata Arkeologi berjudul Jejak Budaya Paleolitik di Pulau Seram, Pulau Seram merupakan salah satu yang tertua di kawasan ini.
Masyarakat setempat menyebutnya “Nusa Ina” atau Pulau Ibu, dipercaya sebagai tempat asal-usul orang Maluku. Temuan arkeologis seperti lukisan cadas, gua hunian, dan artefak batu menunjukkan bahwa kebudayaan di Maluku sudah maju jauh sebelum kedatangan bangsa asing.
Sementara itu, Wuri Handoko dalam jurnal Kapata Arkeologi berjudul “Asal-Usul Masyarakat Maluku, Budaya dan Persebarannya” menulis bahwa para migran membawa budaya megalitik, tembikar, dan sistem sosial berbasis kekerabatan yang berkembang menjadi negeri-negeri adat.
Kejayaan Maluku sebagai Pusat Rempah Dunia
Sejak abad pertengahan, Maluku menjadi satu-satunya penghasil cengkih dan pala di dunia. Pulau Ternate, Tidore, dan Banda adalah pusat perdagangan internasional yang strategis.
Dalam jurnal Maluku Pusat Rempah-Rempah dan Pengaruhnya dalam Era Niaga Sebelum Abad ke-19 terbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku, disebutkan bahwa jalur rempah dari Maluku menjadi penghubung antara Jawa, Sulawesi, India, hingga Arab dan Eropa.
Penelitian Syahruddin Mansyur dalam jurnal Kapata Arkeologi juga mencatat bahwa komoditas rempah dari Maluku dikirim ke India, Arabia, dan Eropa melalui pelabuhan penting seperti Kozhikode dan Ceylon (Sri Lanka).
Kedatangan Portugis dan Awal Kolonialisme
Tahun 1511 menjadi titik balik sejarah ketika Portugis menaklukkan Malaka dan kemudian mencapai Maluku pada 1512. Mereka disambut oleh Sultan Bayanullah dari Ternate, yang mengizinkan pembangunan Benteng Sao Paulo. Namun, monopoli perdagangan yang diterapkan Portugis memicu konflik dengan penguasa lokal.
Persaingan antara Portugis dan Spanyol pun pecah, di mana Portugis bersekutu dengan Ternate dan Spanyol dengan Tidore. Pertikaian ini berakhir lewat Perjanjian Saragosa (1529), yang memaksa Spanyol meninggalkan Maluku.
Dominasi VOC dan Penderitaan Rakyat
Pada abad ke-17, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) dari Belanda mengambil alih kekuasaan di Maluku. Mereka menerapkan sistem monopoli yang kejam, seperti kebijakan Ekstiparsi, yaitu penebangan paksa tanaman rempah untuk menjaga harga tetap tinggi.
Menurut catatan sejarah, pada 1621 Jan Pieterzoon Coen memimpin pembantaian di Kepulauan Banda yang menyebabkan hampir seluruh penduduknya tewas atau diusir. Perlawanan muncul dari tokoh seperti Pangeran Nuku dari Tidore, yang menurut Hans Hägerdal dalam buku The Revolt of Prince Nuku, membentuk aliansi lintas budaya melawan VOC.
Maluku dalam Era Kemerdekaan dan Warisan Sejarahnya
Setelah Jepang menduduki Maluku pada 1942, wilayah ini akhirnya bergabung dengan Republik Indonesia pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun, sempat terjadi gejolak seperti pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950.
Menurut Bambang Suwondo dalam buku Sejarah Daerah Maluku terbitan Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, masa pasca kemerdekaan menjadi periode penting bagi Maluku untuk membangun kembali jati dirinya dalam bingkai NKRI.
Kini, seperti dijelaskan oleh Marlon NR. Ririmasse dalam jurnal Kapata Arkeologi berjudul Jejak dan Prospek Penelitian Arkeologi di Maluku, warisan arkeologi dan budaya Maluku menjadi aset penting. Benteng kolonial, tradisi lisan, dan keragaman etnis menunjukkan betapa kaya dan kompleksnya sejarah kepulauan ini.
Baca juga: Sejarah Makassar Sejak Abad ke-14 Hingga Jadi Pusat Perdagangan Internasional
(NDA)
