Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Ini 4 Teori Para Ahli

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah masuknya Islam ke Indonesia berkaitan dengan budaya perdagangan dan pelayaran pada saat itu. Meski demikian, para ahli masih bersilang pendapat tentang bagaimana proses masuknya Islam hingga bisa mendominasi budaya Hindu-Buddha yang telah melekat sebelumnya di masyarakat.
Setidaknya ada 4 teori tentang proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Berikut rangkumannya dari buku Jejak Awal Islam di Nusantara: Sejarah Masuknya Agama dan Kebudayaan Islam susunan Dr. Syarifuddin, M.Pd dkk.
1. Teori Gujarat
Tokoh yang mendukung Teori Gujarat ini adalah para ilmuwan Belanda seperti Pijinappel dan Moqette. Menurut mereka, agama Islam dibawa ke Indonesia pada awal abad ke-13 M oleh orang-orang Arab yang sudah lama tinggal di Gujarat, India.
Itu karena terjalin hubungan dagang antara masyarakat Nusantara dengan pedagang Gujarat yang datang lewat jalur Indonesia-Cambay-Timur Tengah-Eropa. Meskipun teori ini didukung oleh beberapa bukti, tapi ada dua kelemahan utamanya:
Masyarakat Samudra Pasai menganut mazhab Syafi'i, sementara masyarakat Gujarat lebih banyak menganut mazhab Hanafi.
Saat islamisasi Samudra Pasai, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu.
2. Teori Persia
Teori Persia menyatakan bahwa Islam dibawa oleh kaum Syiah, Persia, ke di Indonesia pada abad ke-7 M. Teori ini dicetuskan oleh Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat. Beberapa bukti yang mereka jadikan pembenaran adalah:
Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad yang sangat dijunjung oleh orang syiah/Islam Iran.
Penggunaan istilah Persia untuk mengeja huruf Arab.
Kesamaan seni kaligrafi pada beberapa batu nisan.
Maraknya aliran Syiah khas Iran pada awal masuknya Islam di Nusantara.
Adanya perkampungan Leren/Leran di daerah Giri, Gresik.
Namun, setelah ditelisik ternyata teori ini juga memiliki kelemahan. Pada abad ke-7 M, kekuasaan Islam masih dalam genggaman Khalifah Umayyah yang berada di Damaskus, Baghdad, Mekkah dan Madinah. Jadi, tidak memungkinkan bagi ulama Persia untuk menyokong penyebaran Islam secara besar-besaran ke Nusantara.
3. Teori Makkah
Teori Arab atau Teori Makkah menyatakan bahwa proses masuknya Islam di Nusantara berlangsung pada abad ke-7 M. Islam dibawa para musafir Arab (Mesir) yang memiliki semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh belahan dunia. Teori ini didukung 3 bukti utama, yaitu:
Pada tahun 674, di pantai Barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab).
Kerajaan Samudra Pasai menganut mazhab Syafi'i yang pada waktu itu digunakan di Mesir dan Mekkah.
Adanya penggunaan gelar Al Malik pada raja-raja Samudera Pasai yang hanya lazim ditemui pada budaya Islam di Mesir.
Hingga kini, Teori Arab dianggap sebagai yang paling kuat. Kelemahannya hanya terletak pada kurangnya fakta dan bukti yang menjelaskan peran bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Nusantara.
4. Teori Cina
Teori Cina dicetuskan oleh Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby. Mereka menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia karena dibawa perantau Muslim Cina yang datang ke Nusantara. Teori ini didasari pada beberapa bukti, yaitu:
Adanya perpindahan orang-orang muslim Cina dari Kanton ke Asia Tenggara, khususnya Palembang pada tahun 879 M.
Adanya masjid tua berarsitektur Cina di Jawa
Raja pertama Demak berasal dari keturunan Cina (Raden Patah)
Gelar raja-raja Demak ditulis menggunakan istilah Cina
Catatan Cina menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara pertama kali diduduki oleh para pedagang Cina.
Pada dasarnya, semua teori di atas memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Pada intinya, kedatangan Islam ke Nusantara cukup kompleks, yang artinya tidak berasal dari satu tempat, kelompok, dan dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: Dakwah Utsman bin Affan dan Pengaruhnya dalam Sejarah Islam
