Konten dari Pengguna

Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Ini 4 Teorinya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sholat.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sholat. Foto: Shutterstock

Masuknya Islam ke Indonesia merupakan perjalanan panjang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Proses Islamisasi di Nusantara tidak terjadi secara instan, melainkan melalui interaksi budaya, perdagangan, dan dakwah yang berlangsung selama berabad-abad. Berikut sejarah masuknya Islam ke Indonesia hingga menjadi agama dengan jumlah penganut terbesar di negara ini.

Teori Masuknya Islam di Indonesia

Berbagai teori tentang siapa yang pertama kali membawa ajaran Islam ke Indonesia terus diperdebatkan hingga saat ini. Mengutip buku Sejarah Islam Nusantara karya Rizem Aizid, berikut penjelasan dari masing-masing teori tersebut:

1. Teori Gujarat

Teori pertama yang menjelaskan masuknya Islam ke Nusantara dikenal dengan sebutan Teori Gujarat. Teori ini menyatakan bahwa ajaran Islam dibawa oleh pedagang Gujarat yang berdagang ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Beberapa bukti yang mendukung teori ini antara lain:

  • Minimnya bukti konkret yang menunjukkan peran bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.

  • Hubungan perdagangan yang intens antara India dan Indonesia melalui jalur Indonesia–Cambay–Timur Tengah–Eropa.

  • Ditemukannya inskripsi tertua tentang Islam di Sumatera pada 1297 M, berupa batu nisan Sultan Samudra Pasai, Malik as-Saleh, yang memiliki corak khas Gujarat.

2. Teori Makkah

Teori ini menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M dibawa oleh pedagang Arab, bukan dari Gujarat. Teori ini didukung oleh banyak sejarawan, termasuk Buya Hamka. Berikut beberapa bukti yang mendukung teori ini:

  • Catatan Tiongkok menyebutkan bahwa sejak 674 M, pedagang Arab sudah membangun perkampungan di pantai barat Sumatera.

  • Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama menganut mazhab Syafi’i, berbeda dengan Gujarat yang lebih dipengaruhi mazhab Hanafi.

  • Gelar raja di Samudra Pasai, seperti Al-Malik, menunjukkan pengaruh tradisi Mesir dan Arab dalam pemerintahan.

3. Teori Persia

Selain teori Gujarat dan Makkah, teori Persia juga diakui oleh sejumlah sejarawan sebagai salah satu jalur masuknya Islam ke Nusantara. Teori ini menyatakan bahwa Islam mulai hadir di Indonesia pada abad ke-13, sama seperti teori Gujarat.

Para pendukung teori Persia memberikan beberapa landasan yang memperkuat pandangan ini, antara lain:

  • Adanya tradisi peringatan 10 Muharram atau Asyura untuk mengenang wafatnya Hasan dan Husain, cucu Nabi Muhammad, yang merupakan praktik penting dalam ajaran Syi’ah dari Iran.

  • Kesamaan ajaran tasawuf yang dianut oleh Syekh Siti Jenar dengan ajaran sufi Persia, seperti yang diajarkan oleh Al-Hallaj.

  • Penggunaan istilah dan sistem pengucapan huruf Arab yang dipengaruhi bahasa Persia, khususnya dalam menandai bunyi harakat.

  • Penemuan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang diperkirakan berasal dari tahun 1419. Ini menjadi salah satu bukti penyebaran Islam awal di Jawa Timur.

  • Keberadaan perkampungan Leren atau Leran di Giri, Gresik, yang diduga memiliki hubungan dengan komunitas Muslim Persia pada masa itu.

4. Teori Tiongkok

Selain tiga teori populer sebelumnya, terdapat juga Teori Tiongkok mengenai masuknya Islam ke Nusantara. Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa ke Indonesia oleh perantau Tionghoa.

Pendapat ini dikemukakan oleh Hamka dan sejarawan Tionghoa, Kong Yuanzhi. Salah satu dasar argumen teori ini adalah fakta bahwa komunitas Tionghoa sudah hadir di kepulauan Nusantara sejak abad pertama Hijriah.

Masuknya Islam Melalui Jalur Perdagangan

Mengutip jurnal Sejarah Masuknya Islam di Indonesia susunan Ahmad Hapsak Setiawan, Islam diperkirakan mulai masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan sejak abad ke-7 hingga abad ke-11.

Meskipun perdagangan bukanlah satu-satunya jalur masuknya Islam ke Nusantara, tetapi melalui perdagangan inilah, agama Islam dikenal dan dianut oleh masyarakat pribumi.

Para pedagang Muslim menggunakan dua jenis jalur perdagangan untuk menyebarkan Islam, yaitu jalur darat yang dikenal sebagai Jalur Sutra dan jalur laut. Di Nusantara, penyebaran Islam lebih banyak berlangsung melalui jalur perdagangan laut.

Masuknya Islam Melalui Jalur Perkawinan

Selain melalui perdagangan, jalur perkawinan juga memegang peranan penting dalam proses Islamisasi di Nusantara. Biasanya, para pedagang yang menetap di pelabuhan membentuk perkampungan yang dikenal dengan sebutan Pekojan.

Perkawinan yang dilakukan pun berlangsung secara Islami, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat. Dari perkawinan ini, tidak sedikit keturunan mereka yang kelak menjadi ulama dan penyebar Islam di Nusantara.

Masuknya Islam Melalui Pendidikan

Cara berikutnya yang digunakan para penyebar agama Islam di Nusantara adalah melalui pendidikan dan pengajaran. Alat yang digunakan untuk menyebarkan Islam lewat jalur ini adalah dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.

Di pesantren itulah, para santri diajarkan dengan sedemikian rupa hingga menjadi ahli dalam bidang agama. Para santri yang telah melalui proses pendidikan itu pun mendapatkan status sebagai ulama dan kemudian menyebarkan agama Islam di Indonesia.

Masuknya Islam Melalui Struktur Sosial

Penyebaran Islam di Nusantara juga dilakukan melalui struktur sosial. Para ulama mendakwahkan Islam kepada bangsawan dan raja, sehingga masyarakat biasa mengikuti ajaran yang dianut oleh pemimpin mereka. Dengan cara ini, Islam dapat menyebar secara luas karena pengaruh dari tokoh-tokoh lokal yang dihormati.

Masuknya Islam Melalui Ajaran Tasawuf

Jalan lainnya yang digunakan oleh para penyebar Islam di Nusantara adalah tasawuf. Karena masyarakat Nusantara memiliki kepercayaan yang sangat kuat terhadap hal-hal magis, maka jalan tasawuf ini cukup efektif dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat Nusantara.

Baca Juga: Sejarah Lahirnya Pancasila: Fondasi dan Identitas Bangsa Indonesia