Sejarah Moh Hatta: Dari Proklamator Kemerdekaan hingga Bapak Koperasi Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mohammad Hatta merupakan salah satu pahlawan nasional yang dikenal sebagai tokoh Proklamator bersama Soekarno. Selain itu, ia juga dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia berkat jasa dan pemikirannya dalam membangun ekonomi kerakyatan melalui sistem koperasi. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai sejarah Moh Hatta dari awal hingga akhir hayatnya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Latar Belakang Keluarga Mohammad Hatta
Mohammad Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat, dengan nama lengkap Mohammad Athar. Ayahnya bernama Haji Mohammad Djamil, sementara ibunya Siti Saleha. Dalam budaya Minangkabau, nama Athar sering diucapkan sebagai Atta, yang kemudian berubah menjadi Hatta.
Dalam buku Sejarah Mohammad Hatta yang disusun oleh Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, disebutkan bahwa Hatta menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang.
Ia juga belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan aktif di organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB). Setelah lulus dari Padang, Hatta melanjutkan studi di Sekolah Dagang Prins Hendrik School di Jakarta, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri.
2. Perjalanan Pendidikan di Belanda dan Awal Pergerakan
Pada tahun 1921, Hatta berangkat ke Belanda untuk menempu pendidikan di Handels Hogeschool di Rotterdam. Di sana, ia bergabung dengan Indische Vereniging, sebuah organisasi mahasiswa Hindia Belanda di Belanda yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).
Hatta menjadi salah satu tokoh penting dalam organisasi tersebut. Pada tahun 1926, ia terpilih sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, PI diakui sebagai organisasi politik oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) dan menjadi garda depan pergerakan nasional di Eropa.
3. Penangkapan dan Pengasingan oleh Pemerintah Belanda
Kegiatan politik Hatta di Eropa membuatnya diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1927, ia bersama beberapa tokoh seperti Nazir St. Pamongtjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdulmadjid Djojoadiningrat ditangkap. Namun, pada 22 Maret 1928, pengadilan di Den Haag membebaskan mereka dari semua tuduhan. Dalam persidangan itu, Hatta menyampaikan pidato pembelaan bersejarah berjudul “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka) yang menyuarakan hak kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
Mengutip laman Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), setelah menyelesaikan studinya pada Juli 1932, Hatta kembali ke tanah air. Ia aktif dalam kegiatan politik, seperti mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia. Namun, aktivitas politiknya membuat pemerintah Hindia Belanda kembali menangkapnya.
Hatta sempat dipenjara di Glodok, Jakarta, kemudian dibuang ke Boven Digoel (Papua) pada Desember 1934. Pada tahun 1936–1942, ia dipindahkan ke Banda Neira, lalu ke Sukabumi sebelum akhirnya bebas.
4. Peran Hatta dalam Proklamasi Kemerdekaan
Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tetap berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi salah satu pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dan anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), serta menjabat Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Pada 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta mendampingi Soekarno dalam membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sehari setelahnya, pada 18 Agustus 1945, Soekarno resmi diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia, dan Hatta menjadi Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.
Selain itu, Hatta juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri ketika Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk. Ia juga memimpin Delegasi Republik Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag yang menghasilkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Ratu Juliana pada 27 Desember 1949.
5. Akhir Hayat dan Penghargaan
Pada 12 Juli 1951, ia menyampaikan pidato radio untuk memperingati Hari Koperasi Indonesia. Berkat dedikasinya, pada 17 Juli 1953, Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia dalam Kongres Koperasi Indonesia di Bandung.
Atas jasa dan pemikirannya, Hatta menerima berbagai penghargaan, termasuk Bintang Republik Indonesia Kelas I dari Presiden Soeharto pada 15 Agustus 1972, serta gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia pada 30 Agustus 1975.
Mohammad Hatta wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta dalam usia 77 tahun. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia sekaligus Pahlawan Proklamator.
Baca Juga: Sejarah Soekarno, Sang Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia
(SA)
