Konten dari Pengguna
Sejarah Nasi Jagung: Kuliner Ikonik Jawa Timur Sejak Abad ke-16
9 Januari 2026 11:19 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Sejarah nasi jagung di Indonesia dimulai sejak abad ke-16, tepatnya ketika jagung masuk sebagai tanaman baru dari Amerika melalui pedagang Portugis yang singgah di wilayah timur Nusantara. Kala itu, nasi ini lahir dari jagung yang diolah menjadi beras jagung atau "nasi jagung" untuk menggantikan nasi dari padi di daerah yang kekeringan. Menurut Haryo Bagus Handoko dalam buku Tempat Makan Makanan Favorit di Malang, nasi jagung bahkan menjadi salah satu hidangan ikonik di wilayah Jawa Timur. Untuk lebih mengenal kuliner nasi jagung, simak terus uraian ini.
ADVERTISEMENT
Awal Mula Masuknya Jagung ke Nusantara
Jagung mulai dikenal di Nusantara sekitar abad ke-16. Tanaman ini dibawa oleh bangsa Portugis yang berlayar dari Benua Amerika, khususnya Meksiko, menuju Asia melalui jalur Samudra Hindia hingga Maluku.
Dalam buku Ladang Jagung di Lahan Kering: Peradaban Agraris di Nusa Tenggara Timur terbitan Kemendikbud dijelaskan bahwa jagung cepat diterima masyarakat lokal karena mudah tumbuh di iklim tropis. Tanaman ini cocok dengan kondisi lahan kering dan sistem bercocok tanam masyarakat yang sudah berkembang sejak masa neolitik.
Kementerian Pertanian juga menyebutkan bahwa jagung kemudian berkembang menjadi komoditas pangan penting, bahkan menempati posisi kedua setelah padi. Peran jagung semakin kuat karena dapat menjadi alternatif pangan murah, tahan kekeringan, dan mudah disimpan.
ADVERTISEMENT
Perkembangan Nasi Jagung di Jawa Timur
Di beberapa wilayah Jawa Timur, nasi jagung tumbuh sebagai makanan pokok masyarakat. Contohnya di Dusun Sendi, Pacet, Mojokerto, serta Sawahan, Nganjuk. Masyarakat petani jagung di daerah ini mengolah jagung menjadi nasi sebagai sumber energi harian.
Jurnal UNY bertajuk Identifikasi Hidangan Tumpeng Nasi Jagung karya Bulqis Salwa Pahala Jum’at dkk menjelaskan bahwa nasi jagung dulunya dikonsumsi sehari-hari, sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi simbol budaya dan wisata kuliner.
Kini, nasi jagung sering disajikan dalam bentuk tumpeng pada acara adat. Lauknya sederhana, seperti tahu, tempe, ayam asin, dan sayuran.
Peran Nasi Jagung dalam Upacara dan Adat Lokal
Selain sebagai makanan sehari-hari, nasi jagung juga memiliki makna simbolis dalam upacara adat. Di Brebes, Jawa Tengah, terdapat tradisi sadukun atau ngasa.
ADVERTISEMENT
Kemdikbud dalam artikel bertajuk Ngasa Kabupaten Brebes memberitahukan bahwa masyarakat membuat segenggam nasi jagung yang dibungkus daun pisang, lalu disebar di sawah sebagai doa agar tanah subur dan panen melimpah. Di Nusa Tenggara Timur, nasi jagung juga menjadi makanan pokok dalam berbagai ritual tradisional masyarakat setempat.
Teknik Olah dan Variasi Nasi Jagung
Pengolahan nasi jagung relatif sederhana. Jagung dipipil, lalu direbus atau dikukus hingga matang dan pulen. Dalam praktik sehari-hari, jagung sering dicampur dengan beras putih agar teksturnya lebih empuk.
Merujuk Buku Ajar Kemendikbud: Nasi Goreng Beras Jagung karya Sri Widiastuti, proses menanak nasi jagung umumnya menggunakan periuk tradisional.
Hasilnya menyerupai nasi biasa, tetapi lebih berserat. Jurnal Pangan juga mencatat bahwa di Madura masih lestari nasi empok dari jagung hitam dan putih sebagai makanan bergizi.
ADVERTISEMENT
Nasi Jagung di Era Diversifikasi Pangan
Saat ini, nasi jagung kembali diperkenalkan sebagai bagian dari diversifikasi pangan. Pustaka BPPSDMP Pertanian tentang beras analog menyebut nasi jagung kaya serat dan memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi putih.
Hal ini membuatnya cocok untuk masyarakat lahan kering. Di sektor pariwisata, nasi jagung Sawahan Sedudo menjadi daya tarik kuliner yang sekaligus mengenalkan warisan sejarah Majapahit kepada generasi muda.
(NDA)

