Sejarah Nasi Jaha, Kuliner Khas Manado yang Mirip Lemang

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah nasi jaha berawal dari kebiasaan masyarakat Manado, Sulawesi Utara, yang sering memasak beras ketan di dalam bambu. Cara ini dipilih karena dianggap praktis, tahan lama, dan mudah dibawa oleh petani maupun pejuang pada masa lalu. Aroma bambu yang dibakar juga membuat cita rasanya semakin kuat. Dalam buku Seri Ensiklopedia untuk Anak Indonesia I karya Slamet Riyanto dann Siti Kharimah dijelaskan bahwa nasi jaha melambangkan kekuatan, ketahanan, dan semangat hidup yang diwariskan dari para leluhur kepada generasi berikutnya. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut dari nasi jaha, simak terus uraian ini hingga tuntas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Nasi Jaha di Manado
Nasi jaha sering disamakan dengan lemang, tetapi memiliki ciri khas utama berupa rasa jahe yang pedas dan hangat. Menurut buku 27 Resep Hidangan Nasi Khas Indonesia No. 1, jahe dipilih sebagai bumbu utama nasi jaha karena mudah ditemukan di daerah pegunungan Sulawesi Utara. Jahe juga memberikan rasa pedas gurih yang khas, berbeda dengan lemang yang cenderung manis.
Dalam penyajiannya, nasi jaha selalu hadir dalam pesta syukuran panen yang biasanya dilakukan setahun sekali. Pada acara ini, nasi jaha dimasak dalam bambu besar untuk disantap bersama ratusan orang sebagai simbol kebersamaan.
Teknik Masak Nasi Jaha Tradisional
Proses memasak nasi jaha dimulai dengan merendam beras ketan hingga bersih dan lembut. Beras kemudian dicampur dengan santan kental, jahe parut, serai yang digeprek, daun salam, garam, dan sedikit gula merah.
Campuran ini dimasukkan ke dalam bambu talang sepanjang sekitar 30–40 sentimeter yang sebelumnya dilapisi daun pisang. Bambu ditutup rapat lalu dibakar secara miring di atas bara kayu selama tiga hingga empat jam sampai nasi matang dan harum.
Setelah matang, bambu dibelah, daun pisang dilepas, dan nasi jaha disajikan hangat bersama ikan bakar, sambal dabu-dabu, atau ayam rica.
Dikutip dari Gorontalo Journal Health and Science Community, teknik memasak nasi jaha dengan bambu ini dapat menghasilkan nasi jahe dengan indeks glikemik lebih rendah sehingga relatif lebih aman bagi penderita diabetes.
Nasi Jaha di Tradisi Bakdo Ketupat Gorontalo
Di Desa Reksonegoro, Gorontalo, nasi jaha bukan sekadar makanan, tetapi memiliki arti penting dalam tradisi Bakdo Ketupat atau Lebaran Ketupat. Tradisi ini berakar dari sejarah para keturunan pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di wilayah tersebut setelah Perang Jawa berakhir pada tahun 1830. Sejak saat itu, budaya dan kebiasaan mereka terus diwariskan hingga kini.
Menurut informasi dari Gorontalo.go.id, resep nasi jaha awalnya dibawa oleh masyarakat Jawa Tondano, lalu disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di Gorontalo. Proses penyesuaian inilah yang membuat nasi jaha berkembang menjadi kuliner khas daerah setempat. Dalam perayaan Lebaran Ketupat, warga biasanya memasak nasi jaha menggunakan bambu berukuran besar sebagai simbol kebersamaan, kemudian menyajikannya dalam acara silaturahmi antarwarga.
Nasi jaha sendiri dimaknai sebagai lambang ketahanan hidup dan semangat perjuangan para leluhur. Sementara itu, jenang manis yang disajikan bersama nasi jaha dipercaya melambangkan keberkahan, doa, dan harapan baik bagi kehidupan di masa depan.
Perbedaan Nasi Jaha dan Variasi Lokal
Nasi jaha Manado dikenal dengan rasa jahe yang kuat dan warna putih. Di Gorontalo, nasi jaha sering ditambahkan kunyit sehingga berwarna kuning dan dikenal sebagai nasi bulu. Sementara itu di daerah Singkil, Manado, terdapat variasi nasi jaha yang dicampur ikan cakalang asap untuk menambah rasa gurih.
Baca juga: Sejarah Lemang, Ketan dalam Bambu Khas Sumatera
(NDA)
