Sejarah Pangeran Diponegoro, Sang Pahlawan Nasional Melawan Penjajahan Belanda

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pangeran Diponegoro merupakan salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia yang dikenal karena kepemimpinannya dalam Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830) melawan pemerintah kolonial Belanda. Perang ini tercatat sebagai salah satu konflik paling besar dalam sejarah Indonesia dengan korban mencapai ratusan ribu jiwa. Artikel ini akan mengulas secara lengkap sejarah Pangeran Diponegoro dari awal hingga akhir kehidupannya.
1. Asal Usul dan Latar Belakang Pangeran Diponegoro
Mengutip Sejarah Peradaban Islam di Indonesia karya Suyuthi Pulungan, Pangeran Diponegoro memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo, lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta. Ia adalah putra Sultan Hamengkubuwono III, tetapi tidak diangkat sebagai pewaris tahta karena lahir dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati.
Sejak kecil, Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyat kecil. Karena itu, ia memilih tinggal di Tegalrejo bersama neneknya dibanding menetap di keraton.
2. Awal Mula Perlawanan Terhadap Belanda
Pangeran Diponegoro mulai menunjukkan ketidaksukaannya terhadap campur tangan Belanda dalam urusan internal keraton. Belanda kerap membuat kebijakan yang memecah belah para bangsawan dan merebut tanah-tanah milik bangsawan.
Merasa muak dengan situasi tersebut, Diponegoro kemudian menarik diri ke Tegalrejo. Namun, ketegangan memuncak ketika Belanda bermaksud membangun jalan yang melintasi tanah milik Diponegoro di Tegalrejo. Ia menolak keras proyek tersebut dan mencabut patok-patok yang telah dipasang oleh pihak Belanda.
Akibatnya, pada 20 Juni 1825, pasukan Belanda menyerang Tegalrejo. Serangan ini menjadi pemicu pecahnya Perang Diponegoro. Gerakan ini mengobarkan semangat perlawanan di seluruh Jawa, sehingga perang ini pun dikenal dengan sebutan Perang Jawa.
2. Jalannya Perang Jawa
Setelah Tegalrejo jatuh ke tangan Belanda, Pangeran Diponegoro berpindah ke Desa Selarong, yang kemudian dijadikan markas. Di sana, ia menghimpun kekuatan bersama para bangsawan dan rakyat yang kecewa terhadap Belanda maupun keraton.
Menurut buku Nama & Kisah Pahlawan Indonesia karya Angga Priatna dan Aditya Fauzan Hakim, dalam perjuangannya Diponegoro didampingi oleh penasihat spiritual Kyai Mojo, panglima perang Sentot Alibasyah Prawirodirjo, serta pamannya Pangeran Mangkubumi.
Strategi perang gerilya yang dijalankan Diponegoro membuat Belanda kewalahan. Perlawanan meluas ke berbagai wilayah seperti Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang, Rembang, hingga Madiun, Magetan, dan Kediri.
4. Akhir Perjuangan Pangeran Diponegoro
Dalam buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI karya Abdurakhman dan Arif Pradono, disebutkan bahwa untuk menekan pasukan Diponegoro, Belanda menerapkan strategi Benteng Stelsel, yaitu pembangunan benteng-benteng kecil yang mempersempit ruang gerak musuh. Taktik ini perlahan melemahkan kekuatan pasukan Diponegoro.
Ditambah lagi, beberapa tokoh penting seperti Sentot Alibasyah akhirnya menyerah yang membuat perlawanan semakin berkurang. Melihat kondisi tersebut, Jenderal H. M de Kock menjalankan siasat dengan mengundang Pangeran Diponegoro untuk berunding secara damai di Magelang pada 28 Maret 1830. Namun, perundingan itu ternyata hanyalah jebakan.
Meskipun Diponegoro menolak menyerah, ia akhirnya ditangkap dan ditawan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro kemudian dibuang ke Manado, lalu dipindahkan ke Ujung Pandang (Makassar) hingga wafat pada 8 Januari 1855. Makam Pangeran Diponegoro kini berada di Kompleks Kampung Jawa, tepatnya di Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Sejarah Cut Nyak Dien, Pahlawan Nasional Perempuan yang Tangguh dari Aceh
(SA)
