Konten dari Pengguna

Sejarah Pemanfaatan Tanaman Herbal dalam Pengobatan Melayu

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tanaman herbal dalam pengobatan Melayu. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanaman herbal dalam pengobatan Melayu. Foto: Unsplash

Sejarah pemanfaatan tanaman herbal dalam pengobatan Melayu mencerminkan kearifan lokal yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu, di mana masyarakat memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber obat utama. Pengobatan ini tidak hanya bergantung pada tumbuhan, tetapi juga terintegrasi dengan doa dan pengetahuan turun-temurun dari tabib atau dukun. Buku Tanaman Obat Herbal Nusantara karya Abd. Razak, S.Farm., M.Si. dkk memberitahukan bahwa tradisi ini lahir dari campuran animisme, Hindu-Buddha, dan Islam. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut mengenai sejarah dari pemanfaatan tanaman herbal dalam pengobatan Melayu.

Daftar isi

Pengaruh Islam pada Pengobatan Herbal Melayu

Pengobatan tradisional Melayu berkembang kuat seiring masuknya Islam ke wilayah Nusantara sejak abad ke-13. Pada masa itu, para ulama dan pedagang Muslim membawa ilmu pengobatan dari dunia Arab dan Persia, lalu memadukannya dengan pengetahuan lokal.

Menurut Repositori Kemdikbud tentang Pengobatan Melayu, pengaruh ini terlihat jelas dalam naskah kuno seperti Asal Ilmu Tabib Melayu karya Raja Haji Daud dari Kesultanan Riau-Lingga. Naskah tersebut menunjukkan bahwa pengobatan tidak hanya mengandalkan ramuan dari alam, tetapi juga disertai doa dan ayat Al-Qur’an.

Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau (Disbud Kepri) menjelaskan bahwa masyarakat Melayu memanfaatkan akar, daun, bunga, dan umbi seperti kunyit, jahe, dan serai, yang direbus atau dioleskan sebagai obat, sambil memohon kesembuhan kepada Allah.

Kitab Tib: Warisan Pengetahuan Herbal

Salah satu sumber penting pengobatan Melayu adalah Kitab Tib, yaitu kumpulan naskah yang berisi resep herbal untuk berbagai penyakit. Kitab ini membahas keluhan ringan seperti sakit kepala hingga perawatan luka.

Jurnal UAI berjudul Teknik Pengobatan Tradisional Masyarakat Melayu karya Fitria Hayani dkk menyebutkan bahwa masyarakat Melayu Lingga menggunakan sekitar 102 jenis tumbuhan dari 53 famili tanaman. Tanaman dari keluarga Zingiberaceae, seperti jahe dan lengkuas, menjadi yang paling sering digunakan.

Sementara itu, Jurnal UIN Suska Riau bertajuk Ramuan Herbal Non Instan dalam Naskah Kitab Tib karya Ellya Roza memberitahukan bahwa penggunaan daun sirih, madu, dan habbatussauda umumnya digunakan untuk mengatasi penyakit kepala, yang menunjukkan perpaduan bahan lokal dan pengaruh Islam.

Tanaman Herbal Populer dalam Tradisi Melayu

Beberapa tanaman herbal sangat dikenal dalam tradisi Melayu karena mudah ditemukan dan manfaatnya luas. Kunyit (Curcuma longa), jahe (Zingiber officinale), dan temulawak sering direbus sebagai obat minum atau ditumbuk untuk obat oles.

Jurnal Biologi Tropis melalui penelitian Ethnobotany of Medicinal Plants Suku Melayu Tanjung karya Asmita dkk menjelaskan bahwa jahe digunakan untuk melancarkan pencernaan dan mempercepat penyembuhan luka.

Disbud Kepri juga menyebutkan daun sirih untuk membersihkan luka dan sambiloto untuk menurunkan demam, sekaligus menekankan pentingnya menjaga kelestarian tanaman obat.

Cara Pengolahan Obat Herbal Melayu

Cara mengolah obat herbal Melayu tergolong sederhana dan mudah dipahami orang awam. Bahan herbal biasanya direbus, ditumbuk, atau diparut, lalu dicampur madu atau minyak kelapa. Rebusan tersebut kemudian diminum dua hingga tiga kali sehari, sedangkan ramuan oles digunakan untuk penyakit kulit.

Jurnal UIN tentang Peran Ulama dalam Pengobatan Melayu karya Choirun Niswah dkk menjelaskan bahwa ulama sering memimpin pengobatan dengan membaca doa, serta menggunakan bahan seperti daun sirih, madu, dan jintan hitam untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Pewarisan Pengetahuan Obat Herbal Melayu

Pengetahuan pengobatan herbal Melayu awalnya diwariskan secara lisan dari tabib kepada muridnya. Seiring waktu, ilmu tersebut ditulis dalam aksara Jawi agar tidak hilang.

Hingga kini, tradisi pengobatan herbal Melayu masih dipraktikkan di Riau dan Kepulauan Riau sebagai alternatif pengobatan alami, terjangkau, dan tetap bernilai spiritual.

Baca juga: Bagaimana Pengetahuan Navigasi Diwariskan Secara Lisan di Nusantara?

(NDA)