Konten dari Pengguna

Sejarah Pembuatan Naskah Kuno di Atas Daun Lontar

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi naskah kuno di atas daun lontar. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi naskah kuno di atas daun lontar. Foto: Pexels

Naskah kuno di atas daun lontar merupakan salah satu bukti nyata keunggulan budaya dan peradaban Nusantara dalam melestarikan ilmu pengetahuan. Tradisi menulis di atas daun lontar telah berlangsung ribuan tahun dan menjadi media penyimpanan informasi penting, dari kitab suci hingga catatan sejarah. Menurut jurnal berjudul Sejarah, Penyebaran, dan Teknik Pembuatan Naskah Lontar di Nusantara karya Hibrkraft, pembuatan naskah lontar tak hanya persoalan teknologi sederhana, tetapi juga memuat makna religius dan filosofi mendalam.​ Artikel ini akan menguraikan secara lengkap mengenai sejarah pembuatan naskah kuno di atas daun lontar.

Daftar isi

Asal-Usul Daun Lontar dalam Pembuatan Naskah Kuno

Daun lontar berasal dari pohon lontar atau siwalan (Borassus flabellifer) yang tumbuh subur di daerah tropis Nusantara. Secara etimologis, kata "lontar" sendiri diambil dari bahasa Jawa kuno “rontal,” yang berarti daun pohon tal.

Dalam buku Jejak Sejarah Buku di Indonesia: Dari Lontar sampai Digital karya Wahjudi Djaja disebutkan bahwa lontar menjadi media tulis utama sebelum kertas menyebar luas.

Proses pembuatan daun lontar hingga menjadi media tulis meliputi pemilihan daun yang tua dan kering, kemudian direbus, dikeringkan, dan dipress berkali-kali agar menjadi lembaran yang datar dan tahan lama. Teknik ini memungkinkan naskah lontar dapat bertahan ratusan tahun jika dirawat dengan tepat.​

Teknik Penulisan pada Naskah Lontar

Penulisan pada daun lontar dilakukan dengan cara menggores menggunakan alat bernama pangrupak, semacam pisau tumpul yang cukup tajam untuk menoreh permukaan daun tanpa merusak struktur seratnya.

Menurut jurnal Sejarah Pembuatan Naskah Kuno di Atas Daun Lontar dari Kemendikbud, tulisan di daun lontar awalnya berupa aksara daerah seperti aksara Jawa, Bali, dan Sunda yang kemudian diwarnai dengan tinta alami dari bahan rempah dan arang agar tulisan lebih tahan lama. Lontar-lontar yang sudah ditulis kemudian dijepit menggunakan mbalagbag agar tetap rapi dan mudah disusun menjadi buku.​

Peran Budaya dan Makna Spiritual Naskah Lontar di Nusantara

Naskah lontar bukan sekadar dokumen biasa, tetapi memiliki makna sakral dalam budaya Indonesia, khususnya di Bali dan Jawa. Dalam buku Rescuing Balinese Manuscripts (Lontar) with Balinese Wikisource karya Dewa Ayu Carma Citrawati disebutkan bahwa lontar sering berisi teks keagamaan, mantra, dan ajaran leluhur yang dijaga ketat oleh para pemangku adat dan pedanda.

Naskah lontar juga dipandang sebagai medium komunikasi dengan dunia spiritual, yang diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari budaya lokal.​ Selain fungsi religius, lontar juga berperan sebagai dokumentasi sejarah, ilmu pengetahuan tradisional, serta sastra rakyat.

Tantangan dalam Pelestarian Naskah Lontar

Meski kaya akan nilai budaya dan sejarah, naskah lontar menghadapi tantangan serius dari segi kerusakan fisik akibat cuaca dan serangan hama. Menurut laporan dari Dinas Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur, upaya pelestarian dilakukan dengan digitalisasi dan konservasi fisik agar naskah kuno ini tetap lestari.

Museum Lontar di Bali adalah salah satu institusi yang aktif dalam mengedukasi publik mengenai sejarah dan teknik pembuatan naskah lontar, sekaligus sebagai pusat pelestarian yang penting.​

Baca juga: Sejarah Uang Rupiah Sebagai Mata Uang Kebanggaan Indonesia

(NDA)