Sejarah Peristiwa Tiga Daerah 1945, Ketika Rakyat Tak Percaya Pamong Desa

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Jepang menyerah pada Sekutu, kondisi Indonesia tidak langsung damai. Ada banyak kekacauan selama masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Salah satu peristiwa revolusi yang terkenal adalah Tiga Daerah.
Peristiwa Tiga Daerah terjadi di tiga wilayah, yaitu Brebes, Tegal dan Pekalongan. Peristiwanya terjadi pada Oktober hingga Desember 1945. Simak sejarah Peristiwa Tiga Daerah 1945 selengkapnya di bawah ini.
1. Latar Belakang Peristiwa Tiga Daerah
Dirangkum dari buku Pemberontak Tak (Selalu) Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara susunan Petrik Matanasi, peristiwa Tiga Daerah bermula ketika rakyat sipil mulai banyak yang menderita akibat Jepang.
Panen rakyat wajib disetor ke Jepang guna mendukung mereka dalam Perang Pasifik. Namun, setelah Jepang menyerah ke Sekutu, setoran panen itu akhirnya tersimpan dan menumpuk di gudang.
Rakyat pun meminta hasil panen yang menumpuk itu agar dibagikan saja pada masyarakat. Namun, permintaan ini tidak digubris camat maupun pamong desa yang ada.
Kelambanan pamong desa dalam membagikan hasil panen yang menumpuk tidak hanya terjadi satu tempat. Berikut beberapa wilayah yang tidak mendapat hasil panen:
Kecamatan Moga
Pemalang Selatan
Desa Cerih
Tegal bagian selatan
2. Dampak Kelambanan Pembagian Hasil Panen
Di Cerih, rumah Harjowiyono selaku lurah dikepung massa. Massa mengancam jika Harjowiyono tidak keluar, maka rumahnya akan dibakar.
Harjowiyono pun keluar rumah, tapi massa sudah telanjur jengkel dan akhirnya melucuti lurah tersebut. Ia dipaksa mengenakan pakaian dari karung goni. Sedangkan istrinya dikalungi padi.
Selanjutnya, lurah dan istrinya diarak keliling desa dengan diiringi musik gamelan milik sang lurah. Setelah diarak, sang lurah dan istrinya dihinakan oleh penduduk dengan dipaksa minum air mentah dan makan kulit padi. Aksi semacam ini terjadi dimana-mana dan digerakkan oleh para oknum yang disebut jagoan.
3. Oknum Jagoan Menuntut Narapidana Dibebaskan
Pada awal Oktober 1945 di Randudongkal, muncul tuntutan dari para jagoan agar narapidana dibebaskan. Kekisruhan ini membuat toko-toko Cina ditutup.
Pejabat Randudongkal lalu meminta bantuan polisi bersenjata dari Pemalang untuk menjaga wilayah, agar tidak ada tindak kerusuhan dari para jagoan itu.
4. Revolusi di Talang
Talang merupakan daerah penting yang menjadi sorotan selama terjadinya peristiwa Tiga Daerah. Saking terkenalnya Talang, Soekarno dalam pidatonya pada Desember 1945 menyebut gerakan Tiga Daerah sebagai Negara Talang.
Di Talang, terdapat jagoan bernama Kutil yang dikagumi dan ditakuti banyak orang. Banyak spekulasi soal sosok Kutil, di antaranya:
Alat PKI
Agen NICA
Anarkis
Algojo yang kejam dan buas
Kutil melakukan banyak gebrakan selama menjadi sosok yang disegani, yakni:
Memimpin sebuah pengajian yang cukup ramai di daerahnya.
Mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) dengan menjadikan bekas Bank Rakyat Talang sebagai markas. Tugasnya melucuti orang-orang Jepang dan NICA.
Mendaulat Kyai Haji Abu Syujai sebagai Bupati Tegal pada 6 November 1945.
Belakangan, dalam pengadilan atas Kutil di Pekalongan, diungkapkan bahwa dia banyak melakukan pembunuhan demi melindungi teman-temannya. Kutil pun menjadi orang Indonesia pertama yang dijatuhi vonis mati di awal kemerdekaan.
5. Berakhirnya Peristiwa Tiga Daerah
Gerakan Peristiwa Tiga Daerah akhirnya ditumpas oleh pemerintah. Sebab, dianggap bisa menjadi bahaya besar dalam revolusi kemerdekaan Indonesia yang digulirkan pemerintahan Soekarno-Hatta.
Baca Juga: Revolusi Sejarah dalam Masyarakat Indonesia: Latar Belakang dan Dampaknya
