Sejarah Pontianak Sejak Awal Berdiri hingga Perkembangannya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kota Pontianak merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki sejarah menarik untuk disimak. Sejarah Pontianak dapat ditelusuri sejak masa penjajahan Hindia Belanda di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lengkap seputar perjalanan berdirinya Pontianak dari masa ke masa, simak penjabaran selengkapnya pada uraian artikel di bawah ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Sejarah Berdirinya Pontianak
Secara geografis, Pontianak terletak di pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dua sungai besar yang kini menjadi bagian penting sebagai lambang kota ini.
Menurut laman resmi PPID Kota Pontianak, kota ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771 (24 Rajab 1181 H). Awal mula berdirinya Pontianak dimulai saat rombongan Syarif Abdurrahman membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar.
Di tempat tersebut, ia dan rombongannya mendirikan balai serta rumah sebagai tempat tinggal. Wilayah itu kemudian diberi nama Pontianak.
Pada tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Pusat pemerintahan kala itu ditandai dengan berdirinya Masjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadriyah, yang kini masih berdiri di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Pontianak tumbuh menjadi kota perdagangan dan pelabuhan yang ramai.
2. Sejarah Pemerintahan Kota
Dua tahun setelah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan, Pontianak mulai mengalami pengaruh kolonialisasi Belanda dari Batavi. Pada tahun 1778, Belanda yang dipimpin oleh Willem Ardinpola memasuki Pontianak dan menempati wilayah di seberang istana kesultanan, yang kini dikenal sebagai Tanah Seribu atau Verkendepaal.
Pada 5 Juli 1779, Belanda menandatangani Politiek Contract dengan Sultan Pontianak. Perjanjian ini mengatur penggunaan wilayah Tanah Seribu sebagai tempat aktivitas dan pemukiman bangsa Belanda. Dari perjanjian tersebut, terbentuklah struktur tempat kependudukan dengan susunan sebagai berikut:
Pemerintah Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Istana Kadariah Barat)
Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak)
Controleur het Hoofd Onderaffleeling van Pontianak/Hoofd Plaatselijk Bestur van Pontianak (Kepatihan)
Demang het Hoofd der Distrik Van Pontianak (Wedana)
Asistent Demang het Hoofd der Onderdistrik van Siantan (Asisten Wedana/Camat)
Asistent Demang het Hoofd der Onderdistrik van Sungai Kakap (Asisten Wedana/Camat)
Pada masa selanjutnya, Asistent Resident het Hoofd de Afdeeling van Pontianak yang berperan seperti Bupati Tingkat II Pontianak, mendirikan Plaatselijk Fonds, lembaga yang mengelola kekayaan pemerintah serta dana pajak. Selama masa pendudukan Jepang, lembaga tersebut berganti nama menjadi Shintjo.
Hingga pada akhirnya sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, Pemerintah Daerah Tingkat II Pontianak resmi berubah menjadi Pemerintah Kota Pontianak seperti sekarang.
3. Asal Usul Nama Pontianak
Asal-usul nama Pontianak juga memiliki beberapa versi cerita yang diwariskan secara turun-temurun, seperti yang dirangkum dari laman resmi Pemkot Pontianak, berikut:
Cerita gangguan kuntilanak: Dikisahkan bahwa saat menyusuri Sungai Kapuas, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie sering diganggu kuntilanak. Untuk mengusirnya, ia menembakkan meriam ke arah sumber suara tersebut. Lokasi jatuhnya peluru meriam kemudian dijadikan tempat berdirinya kesultanan, sementara tepat di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, kini dikenal sebagai Bering.
Pohon kunti: Versi lain menyebut nama Pontianak berasal dari kata pohon punti, yakni pohon tinggi yang banyak tumbuh di Kalimantan. Nama ini disebut dalam surat Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus kepada Syarif Yusuf Al-Kadrie.
Pontian: Ada juga versi yang menafsirkan Pontian sebagai “tempat singgah” atau “pemberhentian”. Nama ini merujuk pada posisi strategis Pontianak yang menjadi persinggahan penting bagi para pedagang.
Baca Juga: Sejarah Medan: Kampung Kecil yang Menjadi Kota Dagang Internasional
(SA)
