Sejarah Rawon, Hidangan Sup Hitam Khas Jawa Timur

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rawon merupakan sup daging sapi berwarna hitam pekat yang telah menjadi ikon kuliner Jawa Timur sejak lebih dari seribu tahun lalu, menjadikannya salah satu makanan tertua dalam sejarah Nusantara. Menurut jurnal Rawon: the black soup delicacy from East Java karya Erni Sofia Murtini dan Befrika S. Murdianti, rawon sudah ada sejak tahun 901 Masehi. Pada masa itu, hidangan ini disebut rarawwan dalam Prasasti Taji dari era Kerajaan Mataram yang ditemukan di Ponorogo. Rawon awalnya menjadi santapan bangsawan, kini dinobatkan sebagai sup terbaik dunia versi TasteAtlas 2024. Untuk lebih mengenal makanan khas Jawa Timur satu ini, simak terus uraian berikut.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Nama Rawon
Dikutip dari buku Ensiklopedia Makanan Khas Jawa karangan Wind Dylanesia, Nama rawon diyakini berasal dari kata Jawa “rawa” yang berarti hitam atau gelap, menggambarkan kuahnya yang memang berwarna pekat.
Warna hitam pada rawon sendiri berasal dari kluwek atau keluak, yaitu biji buah pangium edule yang difermentasi. Kluwek memberi rasa khas seperti kacang, sedikit mirip cokelat dan kopi.
Penelitian bertajuk Rawon: the Black Soup Delicacy from East Java oleh Erni Sofia Murtini dan Befrika S. Murdianti juga menegaskan bahwa rawon sudah ada sejak zaman Jawa Kuno, bukan sekadar cerita turun-temurun. Asal-usul ini menunjukkan bagaimana masyarakat dulu memanfaatkan bahan lokal dan mengolahnya dengan cara tradisional.
Bahan Utama Pembuatan Rawon
Kluwek adalah bahan utama rawon. Bahan ini dihaluskan bersama bawang putih, bawang merah, jahe, kemiri, kunyit, cabai merah, dan garam, lalu ditumis.
Bumbu tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kaldu daging sapi dan ditambah serai, lengkuas, daun salam, daun jeruk, serta sedikit gula untuk menyeimbangkan rasa.
Menurut Journal of Ethnic Foods, fermentasi kluwek menghasilkan reaksi kimia alami yang membuat kuah rawon menjadi hitam dan beraroma umami.
Dulu rawon memakai daging kerbau, tetapi sekarang lebih sering menggunakan daging sapi seperti brisket atau shank yang dimasak lama hingga empuk.
Pelengkap seperti tauge, telur asin, emping, dan kerupuk udang membuat hidangan ini semakin nikmat, terutama saat disajikan dengan nasi hangat.
Perkembangan Rawon di Zaman Majapahit
Pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13–16), rawon menjadi makanan istimewa di kalangan raja dan bangsawan. Dalam naskah Kakawin Bhomokaya karya Mpu Panuluh dari Kerajaan Kediri, hidangan ini disebut dengan nama rarawwan.
Rawon juga disajikan pada pesta bangsawan Surakarta dan Mangkunegaran, dan resep cetak pertamanya muncul dalam Serat Wulangan Olah-Olah Warna-Warni (1926).
Rawon semakin populer di Jawa Timur pada abad ke-19 berkat maraknya perdagangan rempah. Awalnya hanya disantap kaum elit, namun lama-lama rawon menyebar ke masyarakat umum melalui pasar tradisional, terutama di Surabaya.
Varian Rawon Tradisional
Rawon Surabaya menjadi varian yang paling terkenal. Ada juga rawon setan, yang biasanya dijual malam hari di warung kaki lima.
Di Bali, terdapat varian tanpa kluwek yang memakai daging babi karena menyesuaikan budaya setempat, sehingga kuahnya berwarna cokelat. Di Singapura, hidangan nasi rawon ala Melayu biasanya disajikan dengan paru goreng dan sambal sotong.
Journal of Ethnic Foods juga mengangkat rawon Ponorogo yang dianggap memiliki nilai sakral, karena kluwek dipercaya punya makna mistis dalam folklor Jawa Timur. Banyaknya varian ini menunjukkan bahwa rawon berkembang mengikuti budaya setiap daerah.
Pengaruh Rawon dalam Kuliner Modern
Saat ini rawon diakui sebagai salah satu ikon kuliner Jawa Timur dan sudah terdaftar sebagai makanan khas sejak 2013.
Dalam artikel bertajuk Strategies for Promoting Traditional Indonesian Cuisine di Atlantis Press disebutkan bahwa rawon memiliki nilai sejarah lebih dari 1.000 tahun, bahkan dikaitkan dengan Prasasti Taji yang diterbitkan oleh Rakryan i Watu Tihang.
Popularitas rawon di mancanegara juga meningkat berkat penghargaan dari TasteAtlas, yang membuat banyak restoran internasional mulai menyajikannya. Meski mengalami berbagai adaptasi modern, cita rasa dan identitas rawon tetap dipertahankan.
Baca juga: Sejarah Gudeg, Masakan Nangka Manis yang Jadi Ikon Kota Yogyakarta
(NDA)
