Sejarah Rebana dan Penggunaannya dalam Tradisi Islam Nusantara

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rebana adalah alat musik pukul berbentuk bundar yang terbuat dari kulit kambing dan bingkai kayu. Alat musik ini berasal dari budaya Arab dan mulai dikenal di Nusantara sejak masuknya Islam sekitar abad ke-13. Seiring waktu, rebana tidak hanya menjadi alat musik, tetapi juga bagian penting dari tradisi keagamaan Islam di Indonesia. Artikel ini akan menguraikan informasi lebih lanjut tentang sejarah rebana dan penggunaannya dalam tradisi Islam Nusantara.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Masuknya Rebana ke Nusantara
Rebana mulai dikenal luas di wilayah pesisir utara Jawa, seperti Gresik dan Tuban, bersamaan dengan dakwah para Wali Songo. Studi Penamas Kementerian Agama berjudul Pertunjukan Seni Rebana Biang di Jakarta menjelaskan bahwa rebana berasal dari Jazirah Arab melalui Yaman.
Awalnya, rebana digunakan untuk melantunkan doa-doa seperti kata “Robbana” yang berarti “Tuhan kami”, terutama dalam acara penyambutan Rasulullah dan kegiatan keagamaan lainnya.
Sementara itu, jurnal dalam Garuda Kemdikbud bertajuk Analisis Historis Corak Kesenian Islam Nusantara menyebutkan bahwa Sunan Bonang mengembangkan versi rebana khas Jawa. Irama rebana ini dibuat lebih pelan dan menyesuaikan selera masyarakat lokal, berbeda dengan rebana Timur Tengah yang cenderung cepat dan ritmis.
Rebana dalam Perayaan Maulid Nabi
Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, rebana sering digunakan untuk mengiringi pembacaan shalawat seperti Barzanji dan Burdah. Pola pukulannya sederhana dan berulang, seperti “tepak-tepak-tepuk”, sehingga mudah diikuti.
Menurut dokumen dalam Dinas Kebudayaan Bantul berjudul Sholawat Jawi, rebana melambangkan rasa gembira atas kelahiran Nabi. Cara memukulnya pun harus lembut agar kulit kambing tidak cepat rusak.
Selain di Jawa, repositori Kemendikdasmen dalam tulisan Terbangan Alat Musik Pukul Sumatera Selatan mencatatkan bahwa penggunaan rebana juga digunakan masyarakat Palembang untuk mengiringi qasidah, disertai gerakan tubuh pelan sebagai ungkapan rasa syukur.
Perkembangan Rebana Biang dan Marawis
Di Betawi, muncul jenis rebana yang disebut rebana biang pada abad ke-19. Rebana ini sering digunakan untuk menyambut tamu penting atau acara kerajaan, biasanya disertai pantun bernuansa Islam.
Kementerian Agama Jawa Timur juga mencatat keberhasilan MAN 1 Tulungagung yang menjuarai festival rebana nasional berkat penguasaan pola pukul hadrah klasik.
Selain itu, rebana juga pernah digunakan sebagai sarana penguatan identitas Islam dalam organisasi Sarekat Islam. Saat itu, rebana tidak hanya mengiringi zikir, tetapi juga menjadi bagian dari semangat perjuangan umat.
Rebana di Kalangan Sufi dan Pesantren
Di lingkungan sufi dan pesantren, rebana sering digunakan untuk mengiringi wirid, tahlil, dan zikir, terutama pada malam Jumat. Kementerian Agama Sulawesi Barat menyebutkan bahwa kasidah dengan iringan rebana menjadi jembatan antara ajaran Islam dan budaya lokal, sehingga mencerminkan Islam Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin.
Balai Pelestarian Nilai Budaya juga mencatat bahwa pesantren di Banten masih mempertahankan teknik pukul marawis khas Yaman. Tradisi ini menjadi bukti kuat bahwa rebana bukan hanya alat musik, tetapi juga warisan budaya dan keagamaan yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Peran KH Ahmad Dahlan dalam Pembaharuan Pendidikan di Indonesia
(NDA)
