Sejarah Sate dari Tusuk Bambu Pedagang Jawa hingga Ikon Kuliner Dunia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sate adalah hidangan tradisional Indonesia yang terdiri dari potongan daging (ayam, sapi, atau kambing) yang ditusuk dan dibakar di atas arang, lalu diberi bumbu sesuai ciri khas daerahnya. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Theory and Practice of Meat Processing oleh Rahmah dkk dengan judul Diversity of Sate (Satay) as Indonesian Ancient Food dijelaskan bahwa cara penyajian potongan daging pada tusuk bambu dipengaruhi oleh budaya Arab, dan pengaruh ini paling terlihat dalam perkembangan budaya makanan Indonesia. Untuk mengetahui sejarah sate selengkapnya, simak uraian ini hingga tuntas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Akar Sejarah Sate di Indonesia
Sebagian besar ahli sepakat bahwa sate berasal dari Pulau Jawa, Indonesia, meski waktunya masih menjadi perdebatan. Menurut penelitian Rahmah dan tim dalam buku Theory and Practice of Meat Processing, catatan paling awal tentang sate ditemukan di teks kuno Indonesia. Kata sate sendiri diduga berasal dari bahasa Jawa “sak biting” yang berarti “satu tusuk”, dan hidangan ini sudah ada sejak awal abad ke-15.
Di sisi lain, berdasarkan buku Southeast Asian Specialties karya Rosalind Mowe diberitahukan bahwa pada abad ke-19, istilah sate menyebar bersamaan dengan migrasi para migran Melayu dari Hindia Belanda ke Afrika Selatan di mana makanan ini dikenal sebagai "sosatie". Orang Belanda juga membawa sate dan banyak hidangan khas Indonesia lainnya ke Belanda.
Pengaruh Budaya Arab Terhadap Sate
Sejarah sate tidak bisa dilepaskan dari gelombang migrasi pedagang Arab dan India ke Nusantara. Dalam buku Southeast Asian Specialties: A Culinary Journey yang diterbitkan Culinaria dijelaskan bahwa sate berasal dari Arab, dan telah diadaptasi sesuai dengan selera multikultural orang Asia dengan berbagai saus pedas dan cara yang berbeda dalam merendam daging.
Pada sekitar tahun 1600-an, masyarakat mulai menggunakan rempah-rempah untuk membuat berbagai masakan, termasuk rebusan dan hidangan berbahan dasar daging kambing.
Penyebaran dan Variasi Sate di Nusantara
Sejarah sate menunjukkan bahwa makanan ini berkembang sangat cepat pada abad ke-19, terutama karena banyak pedagang keliling yang menjualnya.
Dalam buku Mustika Rasa terbitan Departemen Pertanian RI disebutkan, ada sekitar 1.500 resep masakan Indonesia yang dipengaruhi oleh cita rasa Tiongkok, Arab, India, dan Eropa.
Di dalamnya juga sudah tercatat berbagai jenis sate, seperti sate ayam, sate babi, sate bandeng, sate kerang, sate lilit, sate Madura, sate Padang, dan sate pusut.
Penelitian Rahmah dkk dalam buku Theory and Practice of Meat Processing pun menjelaskan bahwa sate awalnya berkembang di Pulau Jawa, lalu menyebar ke berbagai daerah lain di Indonesia seperti Sumatra dan Sulawesi. Dari sini muncullah banyak variasi sate, termasuk penggunaan jenis daging yang berbeda-beda.
Menjelang akhir abad ke-19, sate bahkan sudah dikenal hingga Malaysia, Singapura, dan Thailand berkat para perantau Jawa dan Madura yang berdagang di negara-negara tersebut.
Teknik Memasak Sate di Indonesia
Hal menarik lain dalam sejarah sate adalah cara memasaknya yang ternyata merupakan teknik kuno. Sejak dulu, sate umumnya dimasak dengan cara dipanggang, dan teknik ini masih digunakan hingga sekarang.
Dalam buku Foods of Indonesia karya Barbara Sheen dijelaskan bahwa daging untuk sate biasanya dipotong kecil seukuran kuku jempol, lalu dibumbui dan direndam dengan rempah. Setelah itu, daging ditusuk dengan bambu dan dipanggang di atas bara arang. Sate kemudian disajikan dengan saus kacang yang dibuat dari kacang tanah dan campuran rempah-rempah.
Baca juga: Cara Memilih Minyak yang Lebih Sehat untuk Memasak
(NDA)
