Sejarah Sekaten: Tradisi Agung Warisan Keraton yang Terjaga Berabad-abad

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perayaan Sekaten selalu menjadi magnet budaya yang menyedot perhatian masyarakat Jawa maupun wisatawan mancanegara. Tradisi yang berlangsung setiap bulan Maulid ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga simbol kekuatan historis yang diwariskan oleh para Wali Songo. Berbagai publikasi sejarah budaya Jawa, termasuk pembahasan mengenai Islamisasi Jawa dalam Southeast Asia: An Introductory History karya Milton Osborne, menegaskan bahwa tradisi seperti Sekaten berperan penting sebagai jembatan antara dakwah Islam dan budaya lokal. Artikel ini akan menguraikan sejarah Sekaten dalam budaya Jawa selengkapnya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Awal Mula Sejarah Sekaten
Sejarah Sekaten diyakini berawal pada masa dakwah Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga, yang menggunakan gamelan sebagai media pendekatan kultur kepada masyarakat Jawa.
Melalui alunan gamelan yang diberi nama Gamelan Sekati, warga datang berkerumun, lalu Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam dengan cara lebih mudah diterima.
Narasif mengenai metode dakwah akulturatif ini didukung oleh para wali yang mengadaptasi unsur budaya lokal untuk menyebarkan agama. Tradisi Sekaten menjadi contoh paling representatif dari strategi tersebut.
Fungsi Gamelan Sekati dalam Proses Penyebaran Islam
Gamelan Sekati, yang terdiri dari dua perangkat gamelan bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, menjadi pusat perayaan sejak ratusan tahun lalu.
Alunan gamelan ini dimainkan secara ritmis untuk menarik perhatian masyarakat, sebelum akhirnya mereka diajak mengikuti pembacaan syahadat sebagai simbol masuknya Islam.
University of Texas Press dalam buku Asian Music menjelaskan bahwa karakter suara gamelan Sekati yang berdentum keras (lebih besar dibanding gamelan reguler) memang diciptakan untuk memperoleh daya tarik massal.
Sekaten sebagai Tradisi Keraton yang Mengakar
Sekaten kemudian menjadi tradisi resmi keraton setelah Kesultanan Demak dan selanjutnya diteruskan oleh Keraton Surakarta serta Keraton Yogyakarta. Perayaan ini berlangsung selama sepekan dan puncaknya ditandai dengan Grebeg Maulud, yaitu prosesi gunungan yang dibawa keluar dari keraton.
Sejumlah peneliti sejarah Jawa yang dipublikasikan melalui Cambridge University Press menekankan bahwa keberlanjutan tradisi ini membuktikan kuatnya peran keraton dalam mempertahankan budaya sebagai identitas politik sekaligus spiritual masyarakat Jawa.
Makna Perayaan Sekaten di Tengah Masyarakat
Makna utama Sekaten tidak hanya terletak pada ritual keraton, tetapi juga pesan moral dan religius mengenai kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan ini sekaligus menjadi ajang syukur, hiburan rakyat, dan bentuk solidaritas sosial. Bagi masyarakat Jawa, Sekaten menghadirkan ruang berkumpul yang memadukan unsur religius, budaya, dan ekonomi.
Makna tersebut sejalan dengan paparan UNESCO Intangible Cultural Heritage Resources yang pernah mendokumentasikan bagaimana tradisi musik, ritual sakral, dan pasar rakyat membentuk ekosistem budaya yang menjaga kesinambungan nilai turun-temurun.
Perkembangan Sekaten di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, Sekaten kini diwarnai dengan pasar malam, wahana hiburan, pameran kerajinan, dan festival UMKM. Namun inti ritual keraton tetap dipertahankan.
Gamelan Sekati masih ditabuh di pelataran Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta atau Masjid Agung Surakarta, menjadi simbol sakral yang tidak berubah sejak ratusan tahun lalu.
Fenomena adaptasi budaya tanpa menghilangkan esensi sejarah ini menekankan bahwa tradisi seperti Sekaten bertahan karena mampu mengikuti perubahan sosial tanpa kehilangan fungsi utamanya.
Baca juga: Sejarah Kemunculan Pasar Tradisional di Indonesia
(NDA)
