Sejarah Sie Reuboh: Daging Sapi Asam Pedas Khas Aceh

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah sie reuboh berawal dari kebutuhan orang Aceh menyimpan daging sapi dalam waktu lama sebelum ada lemari pendingin, terutama setelah hari meugang dan musim kurban. Dalam bahasa Aceh, sie reuboh berarti “daging rebus”, merujuk pada potongan daging dan lemak sapi yang dimasak dengan banyak cabai, rempah, dan cuka hingga kering dan awet. Olahan daging asam pedas khas Aceh Besar ini awalnya dimanfaatkan sebagai bekal perjalanan dan simpanan lauk keluarga setelah hari raya kurban. Artikel ini akan menguraikan informasi lebih lanjut seputar sie reuboh.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Sie Reuboh di Aceh Besar
Pemerintah Aceh menyebut sie reuboh sebagai makanan tradisional turun-temurun yang sudah lama dikenal masyarakat Aceh Besar. Daging sapi (atau kerbau) dipotong bersama lemak, dibumbui cabai, bawang, jahe, kunyit, garam, lalu direbus dengan cuka aren hingga kering sehingga dapat disimpan berhari‑hari tanpa bahan pengawet.
Penelitian bertajuk Eksistensi Sie Reuboh Sebagai Makanan Tradisional Khas Aceh Besar dari UIN Ar‑Raniry menegaskan bahwa hidangan ini menjadi ciri penting identitas kuliner Aceh Besar dan biasa disajikan pada hari meugang, bulan Ramadan, serta Idulfitri dan Iduladha.
Fungsi Sie Reuboh Sebagai Bekal Perjalanan dan Logistik Perang
Mengutip situs resmi Pemerintah Aceh, sie reuboh dahulu dibuat sebagai bekal para saudagar yang berniaga jauh dari kampung dan nelayan yang melaut berhari‑hari, karena lauk ini tahan lama dan praktis dipanaskan kembali.
Pada masa perang kolonial Belanda, pasukan Aceh memanfaatkan sie reuboh sebagai perbekalan gerilya, sebab daging yang dimasak dengan banyak cabai dan cuka bisa bertahan hingga berbulan‑bulan bila disimpan dengan baik.
Bahan dan Cara Memasak Sie Reuboh
Sie reuboh umumnya dibuat menggunakan daging sapi berlemak (gapah), cabai merah, cabai kering, cabai rawit, kunyit, jahe, bawang putih, bawang merah, lengkuas, garam, dan cuka aren atau cuka kelapa.
Kemudian potongan daging dan lemak ditaburi garam, dicampur bumbu cabai dan rempah, lalu direbus dalam kuali hingga air menyusut dan bumbu meresap, setelah itu ditambah cuka sebagai pengasam sekaligus pengawet alami.
Buku Seri Pusaka Cita Rasa Indonesia: Ragam Lauk Pauk Sumatera karya Murdijati-Gardjito menggambarkan rasa sie reuboh sebagai perpaduan pedas dan asam yang kuat dengan aroma rempah tajam, menjadikannya sangat cocok disantap dengan nasi panas dan sayuran sederhana sebagai penyeimbang.
Peran Sie Reuboh dalam Tradisi Masyarakat Aceh
Hingga kini, sie reuboh tetap menempati posisi istimewa dalam tradisi Aceh Besar. Pemerintah Aceh mencatat bahwa hidangan ini hampir selalu hadir dalam hajatan adat, kenduri keluarga, dan jamuan setelah hari raya, bahkan sering disimpan untuk menjamu jamaah haji yang baru pulang.
Bagi masyarakat Aceh sendiri, makanan ini bukan sekadar lauk, melainkan simbol kebersamaan, kedermawanan, dan kemampuan mengelola rezeki daging kurban dengan bijak.
Baca juga: Sejarah Garang Asem, Olahan Ayam Berkuah Santan Khas Jawa Tengah
(NDA)
