Sejarah Soto Ayam, Sup Kuning Ikonik dari Nusantara

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Soto ayam sering dianggap sekadar “sup ayam kuning” yang hangat dan mengenyangkan, padahal di balik semangkuk hidangan ini tersimpan jejak panjang sejarah dan percampuran budaya. Merujuk buku Soto Ayam Nusantara karya Wahyuni Mulyawati dan Ilse Harahap, soto diyakini berkembang di kepulauan Indonesia, namun pembentukannya tidak lepas dari sentuhan tradisi kuliner Tionghoa, India, dan lokal sekaligus. Dari proses akulturasi itulah lahir soto ayam yang kemudian menyebar dan dicintai di banyak negara. Artikel ini akan menguraikan sejarah soto ayam lebih lanjut yang menarik untuk kamu simak.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Soto Ayam di Nusantara
Sejumlah penulis kuliner menggambarkan soto sebagai hasil pertemuan kebudayaan yang panjang, bukan hidangan yang muncul tiba‑tiba dalam satu masa.
Jurnal Characteristics of Soto, an Ethnic Food that Reflects Multiculturalism in Indonesia yang diterbitkan di Canrea Journal menjelaskan bahwa istilah “soto” memiliki jejak hubungan dengan komunitas Tionghoa di Jawa, sementara penggunaan bumbu rempah yang kuat menunjukkan pengaruh lokal serta tradisi Asia Selatan.
Dalam konteks itu, soto ayam dipandang sebagai salah satu varian yang kemudian berkembang pesat karena bahan ayam lebih mudah dijangkau berbagai lapisan masyarakat. Hidangan ini juga tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kota‑kota pelabuhan dan pusat permukiman multietnis, sehingga soto ayam perlahan menjadi bagian identitas kuliner nasional.
Pengaruh Tionghoa dan Akulturasi Soto Ayam
Dalam artikel ilmiah Acculturation of Java and Chinese Culture in Historical Perspective yang diterbitkan oleh Universitas Sebelas Maret, MBS Alam menjelaskan bahwa jejak historis soto sering dikaitkan dengan hidangan Tionghoa bernama caudo atau jaoto, yakni semacam sup jeroan yang diperkenalkan komunitas Hokkien di pelabuhan Jawa pada masa kolonial.
Istilah “soto” sendiri digadang berasal dari kata caudo, di mana “cau” dimaknai sebagai “rumput” yang merujuk pada aneka rempah dan bumbu yang digunakan. Di tangan juru masak Nusantara, sup ala pendatang ini diolah dengan kunyit, serai, jahe, dan daun jeruk hingga menghasilkan kaldu kuning yang wangi dan jauh berbeda dari bentuk awalnya.
Oleh karena itu, soto dianggap sebagai contoh nyata percampuran budaya Jawa dan Tionghoa, terutama dalam penggunaan bihun, kecap, dan bawang putih goreng. Unsur‑unsur ini kemudian disesuaikan dengan bahan dan selera lokal sehingga melahirkan ragam soto, termasuk soto ayam berkuah kuning.
Perkembangan Varian Soto Ayam di Berbagai Daerah
Seiring waktu, soto ayam berkembang menjadi puluhan varian daerah yang masing‑masing punya ciri khas. Contohnya di Lamongan, Jawa Timur, warga terbiasa memasak soto ayam tanpa santan, dengan tambahan koya (campuran kerupuk udang dan bawang putih).
Namun, di beberapa daerah lain ada yang menikmati soto ayam dengan menggunakan santan, ada yang kuahnya lebih bening, ada juga yang dihidangkan dengan mi/lontong/nasi.
Menurut buku Soto: Nikmat dari Indonesia untuk Dunia oleh Eni Harmayani, dkk., keragaman ini menunjukkan bahwa satu konsep dasar soto ayam mampu beradaptasi dengan bahan dan tradisi setempat, namun tetap diikat oleh ciri umum berupa kaldu ayam yang hangat, taburan bawang goreng, dan aroma rempah yang kuat.
Kedudukan Soto Ayam di Dunia Kuliner Nusantara
Di era modern, soto ayam tidak hanya bertahan sebagai masakan tradisional, tetapi juga semakin dikenal di luar negeri. DelishGlobe menyebut soto ayam sebagai “a bowl of comfort” yang mulai dipopulerkan di restoran dan dapur rumahan di berbagai negara, terutama lewat diaspora Indonesia dan tren kuliner Asia Tenggara.
Popularitas ini didukung oleh karakter soto ayam yang relatif mudah diterima selera global, yakni gurih, hangat, dan kaya rempah tanpa rasa terlalu ekstrem.
EastCulinary menambahkan bahwa soto ayam kerap dijadikan “pintu masuk” untuk memperkenalkan kuliner Indonesia kepada orang asing, karena wujudnya mirip sup ayam yang sudah akrab di banyak budaya, namun dengan lapisan rasa yang jauh lebih kompleks.
Dari warung pinggir jalan hingga meja makan internasional, sejarah soto ayam menunjukkan bagaimana sebuah hidangan bisa menjadi jembatan kenangan, identitas, dan pertemuan lintas budaya.
Baca juga: Sejarah Gudeg, Masakan Nangka Manis yang Jadi Ikon Kota Yogyakarta
(NDA)
