Konten dari Pengguna

Sejarah Sunan Kalijaga, Tokoh Penyebar Islam di Tanah Jawa yang Legendaris

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pria muslim. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pria muslim. Foto: Pexels

Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Wali Songo dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Kisahnya yang unik, dari seorang perampok harta pejabat yang korupsi menjadi wali yang disegani, menjadikannya inspirasi bagi banyak orang tentang kekuatan hidayah dan taubat. Metode dakwahnya yang brilian menggunakan wayang, gamelan, dan tembang-tembang Jawa membuktikan bahwa penyebaran agama Islam di Nusantara tidak melalui kekerasan, melainkan dengan pendekatan kultural yang menghormati kearifan lokal. Artikel ini akan mengulas sejarah Sunan Kalijaga lebih lanjut.

Daftar isi

Masa Muda Raden Said

Dalam buku Sunan Kalijaga (Raden Said) karya Yoyok Rahayu Basuki dijelaskan bahwa Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 Masehi dengan nama asli Raden Said. Ayahnya adalah Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur, seorang adipati Tuban yang terhormat. Sunan Kalijaga juga dikenal dengan berbagai nama seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.

Masa remaja Raden Said sangat kontroversial karena ia dikenal sebagai perampok. Namun, tindakannya memiliki latar belakang yang kompleks. Ia merasa prihatin dengan ketidakadilan yang dialami rakyat kecil yang harus membayar pajak atau upeti yang memberatkan.

Ia kemudian membongkar gudang makanan milik para pejabat, mencuri, dan membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Tindakan ini membuat ayahnya merasa malu dan akhirnya mengusirnya dari rumah.

Pertemuan dengan Sunan Bonang

Titik balik kehidupan Raden Said terjadi ketika ia hendak merampok seseorang yang ternyata adalah Sunan Bonang, salah satu Wali Songo. Pertemuan ini mengubah hidupnya sepenuhnya. Sunan Bonang tidak menghukumnya, melainkan membimbingnya untuk menjadi muridnya.

Dalam jurnal Javano-Islamicus Volume 1 Nomor 2 tahun 2024 disebutkan bahwa Wali Songo tidak menggunakan kekerasan dalam menyebarkan Islam, melainkan menggunakan strategi humanis dengan memahami masyarakat dan budaya Jawa terlebih dahulu.

Bimbingan spiritual dari Sunan Bonang mengubah Raden Said menjadi sosok yang saleh dan berilmu. Inilah yang menjadi cikal bakal perubahan nama Raden Said menjadi Sunan Kalijaga, yang kelak menjadi salah satu penerus dakwah paling sukses di tanah Jawa.

Metode Dakwah Melalui Seni dan Budaya

Menurut penelitian dalam Jurnal Muasharah Volume 5 Nomor 2 tahun 2021, Sunan Kalijaga bersama Sunan Kudus dan Sunan Giri menggunakan metode dakwah kultural dengan memanfaatkan seni dan budaya lokal.

Sunan Kalijaga dikenal karena upayanya menggunakan wayang sebagai media dakwah. Wayang yang awalnya dianggap terlarang karena kemiripannya dengan bentuk manusia, dimodifikasi olehnya agar tidak persis menyerupai manusia dengan membuat tangan dan kaki berukuran berbeda serta kepala yang lebih menyerupai binatang.

Merujuk artikel Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang tahun 2021, Sunan Kalijaga juga menciptakan tembang-tembang Jawa yang sarat makna religius seperti Lir-Ilir.

Tembang ini bukan sekadar hiburan artistik, tetapi memiliki pesan filosofis mendalam dalam aspek agama. Melalui lirik yang indah dan mudah diingat, ajaran Islam dapat tersampaikan kepada masyarakat tanpa terasa memaksa.

Peran dalam Kesultanan Demak

Dalam Jurnal Kampus Akademik Publising dijelaskan bahwa Sunan Kalijaga juga menjadi penasehat Kesultanan Demak Bintoro. Wilayah dakwahnya terpusat di Demak, Jawa Tengah, dan ia dikenal paling luas pengaruh serta cakupan dakwahnya di tanah Jawa. Pendekatan dakwahnya yang lembut dan menghargai budaya lokal membuat Islam diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa yang saat itu masih kuat menganut ajaran Hindu-Buddha.

Dalam menyebarkan Islam tanpa menimbulkan konflik dengan kepercayaan yang sudah ada, menurut jurnal Musala tentang Metode Dakwah Abangan dan Putihan Walisongo di Jawa, Sunan Kalijaga menggunakan beberapa metode berikut:

  • Bil hikmah, yaitu menawarkan hakikat filosofis yang tinggi;

  • Mauidzah hasanah, dengan komunikasi dakwah yang bijaksana; dan

  • Al-jidal allati hiya ahsan, yakni berdebat dengan cara yang paling baik.

Warisan Budaya dan Spiritual

Keberhasilan Sunan Kalijaga dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan budaya Jawa melahirkan konsep "Islam Kultural" atau "Islam Nusantara". Pendekatan ini memungkinkan ajaran Islam berakar kuat di tanah Jawa tanpa menghilangkan identitas budaya lokal. Berbagai karya seni yang diciptakannya seperti wayang, gamelan dengan nuansa islami, dan tembang-tembang religius masih hidup dan dilestarikan hingga kini.

Makamnya yang terletak di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, menjadi salah satu situs ziarah yang ramai dikunjungi umat Islam. Kisah hidupnya yang penuh transformasi dari seorang perampok menjadi wali yang mulia terus menginspirasi bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Baca juga: Sejarah Raden Paku Sunan Giri: Ulama, Pemimpin Dakwah, dan Pendiri Kerajaan

(NDA)