Konten dari Pengguna

Sejarah Sutomo, Perjalanan Sang Pelopor Kebangkitan Nasional

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah sutomo. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah sutomo. Foto: Unsplash

Sutomo atau Dr. Soetomo adalah tokoh penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Ia dikenal sebagai dokter sekaligus nasionalis yang aktif dalam kegiatan politik dan sosial. Ia menjadi sosok yang memperkenalkan perjuangan modern lewat organisasi Boedi Oetomo untuk membangkitkan semangat rakyat. Untuk mengenal lebih dalam, simak sajian informasi lengkap tentang sejarah Sutomo di bawah ini.

Daftar isi

1. Latar Belakang dan Masa Kecil Sutomo

Sutomo lahir pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur, dengan nama kecil Soebroto. Ia berasal dari keluarga priyayi yang terdidik, sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk menempuh pendidikan formal sejak dini.

Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di Bangil, Jawa Timur. Di sekolah inilah ia mengganti namanya dari Soebroto menjadi Sutomo. Setelah lulus dari ELS, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran bumiputra, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia.

Pada awal masa pendidikan, Sutomo bukanlah sering membuat gaduh dan kurang serius. Namun perubahan besar terjadi ketika ayahnya meninggal. Sejak saat itu ia mulai menunjukkan kesungguhan dalam belajar.

2. Lahirnya Boedi Oetomo

Berdasarkan buku Soetomo dan Perjuangannya terbitan Museum Kebangkitan Nasional, gagasan pembentukan organisasi bermula ketika Dokter Wahidin Sudirohusodo berkunjung ke STOVIA. Dalam pertemuan itu, Wahidin mengemukakan ide untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang berfokus pada peningkatan pendidikan anak bangsa.

Gagasan tersebut sangat membekas di benak Sutomo. Setelah melalui diskusi bersama rekan-rekan STOVIA seperti Gunawan Mangunkusumo, akhirnya pada 20 Mei 1908 mereka mendirikan Boedi Oetomo. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Lahirnya Boedi Oetomo menjadi momentum perubahan dari perjuangan fisik menuju perjuangan yang berbasis pemikiran. Organisasi ini mendapat sambutan positif, hingga cabangnya muncul di berbagai daerah. Organisasi ini juga menginspirasi lahirnya Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Indische Partij.

3. Karier Kedokteran

Menurut buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap oleh Mirnawati, setelah lulus pada tahun 1911, Sutomo bekerja sebagai dokter di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera. Ia bertugas di Semarang, Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), hingga Malang.

Dalam perjalanan tugasnya, ia bertemu Everdina Broering, seorang perawat Belanda yang kemudian menjadi istrinya. Pada tahun 1919–1923, Sutomo melanjutkan pendidikan kedokterannya di Belanda. Di sana, ia terlibat aktif dalam organisasi pelajar Hindia Belanda Indische Vereniging, bahkan dipercaya memimpinnya karena rekam jejaknya dalam Boedi Oetomo.

4. Perannya dalam Pergerakan Nasional dan Akhir Hayat

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1923, Sutomo mengajar di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) di Surabaya. Ia kemudian mendirikan Indonesische Studieclub (ISC) yang berkembang sangat pesat. Pada tahun 1930, organisasi ini berubah nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI).

Pada tahun 1935, Sutomo berupaya mempersatukan Boedi Oetomo dan PBI untuk memperkuat gerakan nasional. Melalui Kongres Fusi, lahirlah partai baru bernama Partai Indonesia Raya (Parindra), yang memiliki visi mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kesibukan yang padat membuatna jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. Ia meninggal dunia pada 30 Mei 1938 di Surabaya, sebelum sempat menyaksikan Indonesia merdeka. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, pada 27 Desember 1961, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Tan Malaka, Perjalanan Hidup Sang Pemikir Revolusioner

(SA)