Sejarah Tan Malaka, Perjalanan Hidup Sang Pemikir Revolusioner

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tan Malaka memiliki perjalanan hidup yang panjang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia dikenal sebagai sosok pemikir, revolusioner, yang teguh memperjuangkan nasib rakyat tertindas. Melalui gagasan dan tindakannya, Tan Malaka mendorong lahirnya gerakan rakyat menentang kekuasaan kolonial. Artikel ini akan menguraikan lengkap mengenai sejarah hidup Tan Malaka hingga akhir hayatnya.
1. Asal Usul dan Masa Kecil Tan Malaka
Tan Malaka lahir dengan nama Ibrahim pada tahun 1897 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Ia berasal dari keluarga Minangkabau. Ia mendapatkan gelar Datuk Tan Malaka yang diwarisi menurut garis keturunan ibu.
Menurut penelitian berjudul Tan Malaka dan Perjuangannya dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indoensia karya Niat Mawati Baeha dkk, pendidikan dasarnya dimulai di Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi. Lulus dari sekolah tersebut, ia melanjutkan studi ke Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda dengan bantuan dari gurunya, Horensma.
Selama di Belanda, pemikiran Tan Malaka mulai terbuka terhadap ide-ide sosialisme dan komunisme. Ia juga bergabung dalam partai politik di usia muda. Tujuan utamanya agar suatu hari dapat kembali ke Indonesia untuk mencerdaskan anak bangsa dan membebaskan rakyat dari belenggu kapitalisme dan imperialisme Belanda.
2. Awal Kiprah Politik
Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1919, Tan Malaka bekerja sebagai guru di Deli, Sumatera Timur. Pengalamannya selama di sana menjadi bukti nyata betapa menderitanya masyarakat pribumi di bawah tekanan kaum kapitalis.
Pada tahun 1921, Tan Malaka mulai aktif dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sarekat Islam. Ia bahkan sempat memimpin organisasi tersebut saat terjadi kekosongan kepemimpinan. Selain itu, ia juga menjadi penggerak utama dalam aksi massa melawan penjajahan.
3. Pengasingan, Penulisan, dan Lahirnya Karya
Perjuangan Tan Malaka tak lepas dari berbagai rintangan, termasuk penangkapan dan pengasingan oleh pemerintah kolonial. Dalam buku Sosiologi Nusantara: Memahami Sosiologi Integralistik karya Syarifuddin Jurdi, disebutkan bahwa antara 1922 hingga 1942, Tan Malaka hidup dalam pelarian dari kejaran kolonial Belanda. Ia berpindah-pindah ke berbagai negara seperti Singapura, Filipina, Thailand, Kanton, Rusia, Jerman, Shanghai, Hong Kong, Pulau Amoy, Bangkok, Rangoon, Malaysia, hingga kembali ke Belanda, dengan menggunakan beragam nama samaran.
Selama masa pelarian itu, Tan Malaka melahirkan banyak karya penting yang memengaruhi gerakan nasional Indonesia, di antaranya: Madilog (1943), Dari Penjara ke Penjara (3 Jilid, 1948), Aksi Massa (1923), Manifesto Bangkok (1927). Setidaknya, terdapat sekitar 26 karya hasil pemikiran Tan Malaka, sebagian besar membahas ilmu sosial, khususnya pergerakan rakyat.
4. Peran Tan Malaka Pasca Kemerdekaan
Saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1944, Tan Malaka berhasil kembali ke tanah air. Ia segera menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok pergerakan nasional dan turut berperan besar dalam suksesnya rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945. Ia tampil bersama Soekarno di hadapan ribuan rakyat.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, situasi politik dalam negeri masih tidak stabil. Dikutip dari laman Britannica, Tan Malaka mendirikan Persatuan Perjuangan, sebuah gerakan politik yang menentang kebijakan Sutan Sjahrir, karena dianggap lebih memilih jalur diplomasi dengan Belanda.
Konflik politik ini memuncak pada peristiwa 3 Juli 1946, yang dikenal dengan upaya kudeta oleh kelompok Persatuan Perjuangan. Tan Malaka dituduh terlibat dalam penculikan Sjahrir dan akhirnya ditahan selama dua tahun tanpa diadili. Setelah bebas pada 7 November 1948, ia mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak)
5. Akhir Hidup Tan Malaka yang Tragis
Kisah hidup Tan Malaka berakhir dengan tragis. Pada 21 Februari 1949, saat masih bergerilya melawan Belanda di Kediri, Jawa Timur, ia ditangkap oleh Batalyon Sikatan di bawah komando Kolonel Soengkono. Tan Malaka kemudian ditembak mati di Desa Selopanggung, Kediri. Ia baru diakui secara resmi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 28 Maret 1963, di masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Baca Juga: Sejarah PRRI Permesta: Gerakan Pemerintah Daerah dalam Menuntut Keadilan
(SA)
