Sejarah Tari Piring: dari Ritual Syukur hingga Menjadi Pertunjukan Memukau

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekayaan budaya Indonesia tidak hanya tercermin dari beragam bahasa dan adat istiadat, tetapi juga melalui kesenian tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Tari Piring sebagai tarian khas Minangkabau asal Sumatera Barat. Untuk memahami perkembangannya dari masa ke masa, berikut sejarah Tari Piring sebagaimana dirangkum dari buku Keanekaragaman Seni Tari Nusantara karya Resi Septiana Dewi dan laman Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Jejak Awal Tari Piring dalam Tradisi Minangkabau
Menurut catatan sejarah, Tari Piring telah muncul sejak lebih dari 800 tahun silam. Awalnya, tarian ini digunakan masyarakat Minangkabau sebagai bagian dari ritual upacara kesuburan.
Piring yang berisi hasil panen dijadikan persembahan bagi dewa-dewa sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Gerakan menari sambil membawa piring bukan sekadar estetika, tapi menggambarkan kehidupan agraris masyarakat Minang yang selalu dekat dengan alam.
Seiring waktu, Tari Piring juga berkembang pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Ketika kerajaan tersebut runtuh akibat serangan Majapahit pada abad ke-16, seni tari ini justru semakin menyebar.
Banyak orang Minangkabau bermigrasi ke negeri-negeri Melayu, termasuk Malaysia, sehingga Tari Piring pun dikenal dan dipentaskan di sana, terutama pada acara pernikahan kalangan bangsawan.
Penyebaran Tari Piring di Minangkabau
Tari Piring tidak hanya dikenal di satu daerah, tetapi telah menyebar ke hampir seluruh wilayah budaya Minangkabau. Proses penyebarannya berlangsung seiring dengan pembentukan nagari-nagari baru serta pengangkatan penghulu di masing-masing wilayah.
Adapun perkembangan dan penyebaran Tari Piring tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah Minangkabau itu sendiri, yang meliputi beberapa periode penting:
Zaman Kerajaan Minangkabau di Pagaruyung (1350–1800 M)
Masa Gerakan/Perang Paderi (1803–1837 M)
Masa Penjajahan Belanda (1837–1942) dan Jepang (1942–1945)
Masa Kemerdekaan Indonesia (sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang)
Gerakan Tari Piring
Keindahan Tari Piring terletak pada kombinasi gerakan yang khas dan penuh energi. Para penari biasanya menggenggam dua piring di telapak tangan, lalu mengayunkannya dengan lincah.
Adapun gerakan dalam Tari Piring bersumber dari berbagai inspirasi, antara lain:
Gerakan dasar pencak silat
Alang babega (menirukan elang terbang)
Tupai bagaluik (tupai yang bergelut)
Bungo kambang (gerakan bunga yang mekar)
Selain itu, terdapat pula gerakan yang terinspirasi dari aktivitas sehari-hari masyarakat Minangkabau, seperti:
Gerak bacamin (bercermin)
Gerak basiang (mengasah pisau)
Gerak buai anak (mengayun bayi)
Gerak mangompu suto (menyulam benang)
Gerak malunyah (mengunyah)
Gerak maiinjak piriang (memijak piring)
Gerak bagolek (berguling)
Gerak manyemba lalok (menyambut tidur)
Urutan Seni Tari Piring
Tari Piring memiliki beragam versi tergantung di mana tempat tarian tersebut ditampilkan. Namun, tidak begitu banyak perbedaan antara Tari Piring yang dilakukan di satu tempat dengan tempat lainnya.
Secara keseluruhan, sebuah pertunjukan Tari Piring biasanya disajikan melalui tahapan berikut:
Persiapan Awal
Penari berlatih untuk memastikan kecakapan gerak dan pernapasan agar tidak kacau saat pentas.
Semua piring diperiksa dalam kondisi baik. Piring yang retak harus diganti agar tidak membahayakan penari maupun penonton.
Jumlah piring ditentukan sesuai kebutuhan pertunjukan dan kondisi panggung.
Penari mengenakan dua cincin khusus, masing-masing di jari kanan dan kiri, untuk menghasilkan dentingan khas saat mengetuk piring.
Setelah pertunjukan Silat Pulut di depan pengantin usai, piring-piring diatur dalam berbagai bentuk sesuai jumlah dan tata panggung.
Mengawali Tarian
Pertunjukan dimulai dengan iringan rebana dan gong.
Penari membuka tarian dengan melakukan sembah pengantin sebanyak tiga kali sebagai bentuk penghormatan.
Saat Menari
Penari mengambil piring yang ada di hadapannya, lalu mulai mengayunkan tangan mengikuti irama musik.
Gerakan dilanjutkan dengan langkah demi langkah, memijak piring yang sudah disusun sebelumnya sambil bergerak menuju arah pengantin.
Semua piring yang tersusun harus dipijak, lalu penari mengundurkan langkah tanpa membelakangi pengantin.
Kedua tangan diayun ke kanan dan kiri untuk menghasilkan bunyi ting ting ting dari ketukan cincin pada bagian bawah piring.
Sesekali piring diputar-putar di telapak tangan, bahkan diangkat dan diputarkan di atas kepala untuk menambah variasi gerakan.
Mengakhiri Tarian
Setelah semua piring selesai dipijak, penari menutup pertunjukan dengan sembah penutup.
Penutup dilakukan dengan tiga kali sembah pengantin: pertama dengan tangan kanan, kedua dengan tangan kiri, dan terakhir dengan kedua tangan yang saling berhadapan.
Baca Juga: Sejarah Jam Gadang sebagai Ikon Kota Bukittinggi
