Konten dari Pengguna

Sejarah Jam Gadang sebagai Ikon Kota Bukittinggi

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jam gadang. Foto: Sony Herdiana/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jam gadang. Foto: Sony Herdiana/Shutterstock

Di tengah Kota Bukittinggi, Jam Gadang berdiri kokoh sebagai ikon yang melekat kuat dengan identitas Sumatera Barat. Menara setinggi 26 meter ini tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga menyimpan kisah panjang budaya Minangkabau.

Mari simak sejarah serta fakta menarik seputar Jam Gadang yang dikutip dari buku Ensiklopedia Sejarah Penemuan Jam - Kereta Api - Telepon - Televisi - Komputer karya Suliswinarni dan buku Pesona Kota Bukittinggi susunan Dilla Desvi Yolanda.

Hadiah yang Penuh Makna dari Negeri Belanda

Sejarah Jam Gadang dimulai pada tahun 1926, ketika pemerintah kolonial Belanda membangunnya sebagai hadiah untuk Ratu Wilhelmina. Pembangunan itu digagas oleh Hendrik Roelof Rookmaaker, sekretaris kota Fort de Kock (nama lama Bukittinggi pada masa kolonial).

Desain bangunannya dipercayakan kepada arsitek pribumi Yazid Rajo Mangkuto. Adapun biaya pembangunannya mencapai sekitar 3.000 gulden, jumlah yang sangat besar pada masa itu.

Menara ini dibangun dengan material unik tanpa rangka besi dan adukan semen. Sebagai gantinya, campuran pasir putih, kapur, dan putih telur digunakan sebagai bahan perekat yang membuat bangunan tetap kokoh dan tahan lama hingga kini.

Mesin Jam Sama dengan Big Ben

Jam Gadang memiliki kemiripan dengan Big Ben di London, karena keduanya sama-sama menara jam berukuran besar. Keduanya bisa disebut “saudara” karena mesin jamnya diproduksi oleh pabrik yang sama pada tahun 1926, yaitu Recklinghausen di Jerman.

Mesin eksklusif ini hanya dibuat dua unit di dunia, satu dipasang di Big Ben, Inggris, dan satu lagi di Jam Gadang, Bukittinggi. Dengan mekanisme manual ini, penjaga menara harus memutar roda gigi jam setiap pekan agar waktunya tetap akurat.

Perubahan Atap Sesuai Zaman

Bagian atap Jam Gadang telah mengalami tiga kali perubahan sesuai dengan zaman yang berkuasa. Saat pertama kali dibangun oleh Belanda, atapnya berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di puncaknya.

Kemudian, ketika Jepang menduduki Indonesia, atap tersebut diubah menyerupai kelenteng bergaya pagoda. Lalu, setelah Indonesia merdeka, atap Jam Gadang dimodifikasi kembali menjadi berbentuk gonjong khas rumah adat Minangkabau.

Perubahan-perubahan ini menjadikan Jam Gadang tidak sekadar penunjuk waktu, melainkan juga saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. Bentuk atap saat ini menjadi simbol kuat identitas Minangkabau sekaligus wujud perlawanan budaya terhadap masa kolonial.

Ciri Khas Jam Gadang

Jam Gadang bukan sekadar menara jam. Bangunan ini memiliki dasar berukuran 13 x 4 meter dan terdiri dari enam tingkat. Bagian teratasnya digunakan sebagai ruang penyimpanan bandul. Pada 2007, bandul ini sempat patah akibat gempa besar yang melanda Sumatera Barat, tetapi segera diganti oleh pemerintah daerah.

Ciri khas lain yang menarik adalah penulisan angka “4” pada jam yang berbeda dari kaidah Romawi biasa. Alih-alih ditulis “IV”, angka tersebut ditulis “IIII”. Keunikan ini menambah daya tarik Jam Gadang sekaligus membuatnya berbeda dari menara jam lain di dunia.

Fungsi Sosial dan Wisata di Era Modern

Kini, Jam Gadang bukan hanya simbol sejarah, melainkan juga pusat aktivitas masyarakat. Lokasinya berada di kawasan strategis, dikelilingi pasar tradisional, Istana Bung Hatta, serta taman kota yang telah diperluas. Selain itu, kawasan ini juga sering dijadikan tempat festival, bazar, hingga acara kebudayaan yang menarik perhatian wisatawan.

Baca Juga: Mengulik Sejarah Monas, dari Pencetusan hingga Proses Pembangunannya