Sejarah Tritura, Isi, dan Dampaknya untuk Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tri Tuntutan Rakyat atau Tritura adalah salah satu gerakan mahasiswa paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan pada 10 Januari 1966 menyerukan tiga tuntutan kepada pemerintah, mereka tidak hanya menyuarakan kekecewaan terhadap rezim, tetapi juga memulai babak baru yang mengakhiri era Orde Lama dan melahirkan Orde Baru. Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan pemuda dan mahasiswa mampu mengubah arah politik bangsa ketika mereka bersatu dalam tujuan yang sama. Artikel ini akan mengulas informasi lengkap mengenai sejarah Tritura.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Latar Belakang Krisis Politik dan Ekonomi
Dalam karya ilmiah yang ditulis St. Purnomo Sidi berjudul Gerakan Mahasiswa 1966 dan Perubahan Politik di Indonesia dijelaskan bahwa sikap anti-neokolonialisme Presiden Soekarno menyebabkan Indonesia kehilangan dukungan politik dan ekonomi luar negeri.
Pada periode 1963-1965, Indonesia mengalami krisis multidimensi yang sangat serius akibat kebijakan konfrontasi dengan Malaysia dan upaya merebut Irian Barat yang menguras energi dan anggaran negara.
Situasi semakin memburuk setelah tragedi Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan tujuh jenderal TNI. PKI dituding sebagai dalang di balik peristiwa berdarah tersebut, namun pemerintah Orde Lama dinilai lambat dalam mengambil tindakan tegas.
Krisis ekonomi memuncak dengan inflasi yang mencapai ratusan persen, membuat harga kebutuhan pokok melonjak drastis dan rakyat menderita kelaparan.
Lahirnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia
Setelah peristiwa G30S, mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam berbagai organisasi mulai gelisah dengan kondisi bangsa. Dalam jurnal yang ditulis Robiyani dkk tentang Eksistensi Gerakan Mahasiswa Tahun 1966 Sebagai Upaya Tumbangkan Kepemimpinan Soekarno dijelaskan bahwa pada 25 Oktober 1965 diadakan pertemuan antarhimpunan mahasiswa yang melahirkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI. Organisasi ini secara tegas menuntut pembubaran PKI dan perbaikan kondisi ekonomi.
KAMI kemudian bergabung dengan berbagai kesatuan aksi lainnya seperti KAPI, KAPPI, KABI, KASI, KAWI, dan KAGI dalam satu front bersama yang solid.
Rumusan dan Isi Tritura
Pada 9 Januari 1966, Presidium KAMI Pusat mengadakan rapat dan memutuskan untuk menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran. Tiga orang wakil KAMI Pusat yaitu Ismid Hadad, Saverinus Suwardi, dan Nazaruddin Nasution merumuskan tiga tuntutan bersejarah tanpa campur tangan pihak lain. Tritura terdiri dari tiga tuntutan utama, yakni:
Bubarkan Partai Komunis Indonesia karena dianggap terlibat dalam G30S dan mengancam ideologi Pancasila;
Rombak Kabinet Dwikora yang dinilai gagal mengendalikan stabilitas politik dan ekonomi serta diisi oleh simpatisan PKI;
Turunkan harga kebutuhan pokok yang sudah sangat memberatkan rakyat.
Demonstrasi Bersejarah 10 Januari 1966
Pada tanggal 10 Januari 1966, di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, untuk pertama kalinya Tritura dikumandangkan. Ribuan mahasiswa kemudian bergerak menuju Gedung Sekretariat Negara untuk menyampaikan tuntutan mereka langsung kepada pemerintah.
Pemerintah menyambut demonstrasi dengan panser, bayonet, dan semburan gas air mata. Pejabat yang ingin ditemui, yakni Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh, tidak berada di tempat. Demonstrasi terus berlangsung hingga 13 Januari 1966, dan desakan Tritura akhirnya sampai ke telinga Presiden Soekarno.
Respons Pemerintah dan Gugurnya Arif Rahman Hakim
Pada 21 Februari 1966, Soekarno mengumumkan perombakan kabinet, tetapi masih mengikutsertakan para simpatisan PKI. Kenyataan ini menyulut kembali gelombang demonstrasi pada 24 Februari 1966.
Dalam bentrokan dengan Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden, seorang mahasiswa Universitas Indonesia bernama Arif Rahman Hakim tertembak dan gugur. Peristiwa tragis ini semakin mempertegas tekad mahasiswa untuk terus memperjuangkan Tritura.
Lahirnya Supersemar dan Orde Baru
Rentetan demonstrasi yang menyuarakan Tritura akhirnya memaksa Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar. Surat ini memberikan wewenang kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban.
Supersemar menjadi awal dari peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Dalam penelitian Robiyani dijelaskan bahwa Tritura berhasil memobilisasi kekuatan mahasiswa se-Indonesia dan membawa perubahan besar dalam peta politik bangsa.
Baca juga: Sejarah Dwikora: Latar Belakang, Isi, Tujuan, dan Pelaksanaannya
(NDA)
