Konten dari Pengguna

Sejarah Upacara Kasada di Gunung Bromo: Tradisi Suci Suku Tengger

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Bromo. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Bromo. Foto: Pexels

Sejarah upacara Kasada di Gunung Bromo bukan sekadar cerita tentang persembahan, tetapi juga tentang pengorbanan, kesetiaan, dan hubungan harmonis manusia dengan alam dan leluhur. Tradisi ini telah melampaui zaman, menjadi simbol keteguhan identitas Suku Tengger di tengah arus modernisasi. Simak uraian di bawah ini untuk mengetahui informasi seputar upacara Kasada di Gunung Bromo selengkapnya.

Daftar isi

Asal-Usul dan Sejarah Upacara Kasada

Sejarah upacara Kasada berakar dari legenda kuno masa Kerajaan Majapahit. Dikutip dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), masyarakat Tengger percaya bahwa terdapat pasangan suami istri bernama Roro Anteng dan Joko Seger, keturunan Majapahit yang menetap di kawasan Tengger setelah kerajaan tersebut mengalami kemunduran.

Mereka hidup makmur namun lama tidak dikaruniai anak. Dalam keputusasaan, mereka memohon kepada Dewa di Gunung Bromo agar diberi keturunan. Permohonan itu dikabulkan dengan syarat bahwa anak bungsu mereka kelak harus dikorbankan ke kawah Bromo sebagai tanda pengabdian.

Setelah memiliki 25 anak, pasangan itu melanggar janji, dan karena itu Gunung Bromo meletus. Anak bungsu mereka, Raden Kusuma, akhirnya rela mengorbankan diri demi menenangkan Dewa Bromo. Sebelum menghilang ke kawah, ia berpesan agar masyarakat Tengger mengadakan upacara Kasada setiap tahun sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada para dewa.

Makna Filosofis di Balik Upacara Kasada

Menurut kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta bertajuk Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo sebagai Warisan Budaya Takbenda, upacara Kasada bukan sekadar ritual persembahan, tetapi juga perwujudan ajaran Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Melalui Kasada, masyarakat Tengger mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi serta memohon perlindungan dari bencana. Mereka percaya bahwa keseimbangan hidup hanya dapat terwujud jika manusia menjaga hubungan baik dengan kekuatan alam dan leluhur.

Prosesi Upacara Kasada di Gunung Bromo

Upacara Kasada biasanya dilaksanakan setiap bulan purnama ke-12 dalam penanggalan Tengger (sekitar Juli–Agustus dalam kalender Masehi). Rangkaian acaranya dimulai dari upacara Pujan Kasada di pura-pura desa, di mana para dukun dan pemuka adat memimpin doa bersama.

Puncaknya berlangsung di Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo. Ribuan umat Tengger berkumpul dengan membawa sesaji berupa hasil bumi, ternak, bunga, dan uang. Setelah doa selesai, mereka berjalan menuju kawah Bromo untuk melarung persembahan ke dalamnya sebagai simbol pengorbanan kepada Sang Hyang Widhi.

Fenomena unik ini sering menarik perhatian wisatawan dan peneliti budaya dari berbagai negara, menjadikan Kasada bukan hanya tradisi religius tetapi juga warisan budaya takbenda yang memperkuat identitas nasional.

Peran Dukun dan Struktur Sosial dalam Upacara Kasada

Dalam tradisi Kasada, dukun Tengger memegang peranan penting. Mereka dianggap sebagai penghubung antara dunia manusia dan spiritual. Setiap pelaksanaan Kasada juga menjadi momen pengukuhan dukun baru melalui prosesi sakral yang disebut “Pemilihan Dukun Kasada”.

Selain dukun, masyarakat Tengger berpartisipasi penuh dalam berbagai tahapan, mulai dari persiapan sesaji hingga doa bersama. Gotong royong ini menunjukkan kuatnya rasa solidaritas dan kebersamaan dalam komunitas Tengger yang masih terjaga hingga kini.

Kasada Sebagai Warisan Budaya dan Daya Tarik Wisata

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan Upacara Yadnya Kasada sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Pengakuan ini menegaskan pentingnya tradisi tersebut bagi pelestarian budaya Nusantara.

Selain nilai spiritualnya, upacara ini juga menjadi daya tarik wisata budaya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara datang setiap tahun untuk menyaksikan perpaduan antara ritual sakral, panorama alam, dan kearifan lokal yang menakjubkan.

Baca juga: Sejarah Dwikora: Komando Soekarno Hadapi Malaysia

(NDA)