Konten dari Pengguna

Sejarah Wayang Kulit sebagai Kesenian Tradisional Indonesia yang Mendunia

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wayang kulit  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wayang kulit Foto: Shutterstock

Wayang kulit merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai sejarah dan filosofi. Sebagai bentuk seni pertunjukan tradisional, wayang kulit telah mengalami perkembangan yang signifikan sejak masa lampau hingga saat ini. Mari simak rangkuman sejarah wayang kulit dalam artikel ini.

Asal Usul Wayang Kulit

Mengutip laman Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, wayang kulit pertama kali muncul di Pulau Jawa dan Bali. Kata "wayang" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "bayangan" atau "gambar," sementara "kulit" merujuk pada bahan kulit yang digunakan untuk membuat figur dalam pertunjukan ini.

Salah satu pendapat mengemukakan bahwa wayang kulit muncul pertama kali di wilayah Jawa Timur. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa wayang kulit berasal dari India, yang dibawa masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya pengaruh agama Hindu dan Buddha pada awal Masehi.

Wayang Kulit dalam Tradisi Jawa Kuno

Sejarah awal wayang kulit erat kaitannya dengan upacara keagamaan masyarakat Jawa kuno. Pada masa tersebut, wayang digunakan sebagai media untuk mendatangkan arwah leluhur.

Menurut Jurnal Sejarah Perkembangan dan Perubahan Fungsi Wayang Dalam Masyarakat susunan Fatkur Rohman Nur Awalin, indikasi bahwa wayang sudah ada sejak 1500 SM dapat ditemukan dalam praktik pemujaan arwah nenek moyang yang disebut "hyang."

Pengaruh Agama Hindu dan Buddha

Masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia pada abad ke-1 Masehi membawa pengaruh besar terhadap perkembangan wayang kulit. Pada awalnya, pertunjukan wayang digunakan sebagai sarana penyampaian ajaran agama serta cerita epik seperti Mahabharata dan Ramayana.

Seiring berjalannya waktu, wayang kulit mulai memasukkan elemen-elemen lokal dan mitologi pribumi. Hal ini menciptakan perpaduan seni yang unik antara tradisi asli Indonesia dengan pengaruh budaya dari India.

Masa Kerajaan Majapahit

Pada masa Kerajaan Majapahit, wayang kulit mengalami perkembangan yang signifikan. Prabu Brawijaya I menugaskan anaknya untuk menggambar bentuk dan corak wayang dengan berbagai warna sesuai adegan masing-masing.

Tugas ini diberikan karena anaknya memiliki bakat menggambar yang baik. Proses pembuatan wayang tersebut terjadi sekitar tahun 1301 M, dan sejak saat itu, setiap pergantian raja, wayang kulit terus mengalami perubahan wujud dan bentuk.

Pada tahun 1478 Majapahit jatuh. Banyak orang telah memeluk agama Islam dan memisahkan diri dari Majapahit menjadi negara-negara pesisir, termasuk Kerajaan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah, putra Prabu Kertabumi/Brawijaya V.

Setelah Majapahit runtuh, semua alat perlengkapan upacara kerajaan dipindahkan ke Demak. Hal ini menandai awal pengaruh budaya Majapahit yang terbawa ke pusat-pusat kekuasaan baru.

Masa Kerajaan Demak

Dikutip dari jurnal Wayang dan Seni Pertunjukan: Kajian Sejarah Perkembangan Seni Wayang di Tanah Jawa sebagai Seni Pertunjukan dan Dakwah karya Bayu Anggoro, pada zaman Kerajaan Demak, pertunjukan wayang kulit digunakan sebagai media dakwah penyebaran agama Islam, sekaligus sebagai alat pendidikan dan hiburan.

Cerita-cerita wayang diambil dari babad, yaitu versi lokal dari wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Bentuk wayang kulit pada masa ini mulai menyerupai wayang yang dikenal sekarang.

Adapun pertunjukan wayang dipimpin oleh seorang dalang yang juga berperan sebagai tokoh agama, sehingga nilai pendidikan dan dakwah dapat tersampaikan dengan baik.

Masa Kerajaan Mataram

Pada masa Panembahan Senopati tahun 158-1601, wayang dikembangkan dengan menambahkan tokoh binatang seperti gajah, garuda, dan kuda.

Pada masa pemerintahan Sunan Agung (1613-1645), bentuk mata dan detail tokoh wayang disempurnakan oleh filosof Sastro Ghending, yang menciptakan berbagai wanda seperti Bolodewo Wanda Geger dan Arjuna Wanda Gendreh.

Pada masa Mangkurat Tegal Arum (1646-1677), terdapat dua lakon pagelaran wayang terkenal, yaitu Lakon Kasepuhan dan Lakon Kanoman. Lakon Kasepuhan dipentaskan di istana dengan punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, sedangkan Lakon Kanoman dipentaskan di kadipaten dengan karakter punakawan yang sama.

Pada masa pemerintahan Paku Buwana II (1727-1749) dibuat wayang Kyai Pramuka sebagai induk (babon) wayang pusaka. Selanjutnya, pada masa Paku Buwana IV (1755) dan Paku Buwana V, muncul berbagai pola wayang baru seperti Kyai Jimat, Kyai Kadung, dan Kyai Pageran Singosari I, yang menyebar ke seluruh Jawa.

Pada masa Mengku Negara (1850-1860), dibuat wayang bernama Kyai Sabet. Sejak saat itu, bentuk wayang tetap dipertahankan hingga saat ini, menjadi standar yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit.

Masa Kemerdekaan

Pada masa kemerdekaan, wayang kulit purwa diakui sebagai warisan budaya nasional yang wajib dilestarikan. Pelestarian wayang kulit purwa perlu diusahakan dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Di era globalisasi ini, fungsi dan peran wayang sudah berbeda dibandingkan masa lalu. Kini, wayang kulit tidak hanya menjadi media pendidikan atau budaya, tetapi juga berfungsi sebagai hiburan yang menarik. Pertunjukannya dapat disaksikan melalui televisi maupun berbagai media digital.

Baca Juga: Sejarah Demokrasi di Indonesia: Ini Tahapan Perkembangannya