Siklus Litik dan Lisogenik dalam Proses Perkembangbiakan Virus

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses reproduksi virus terdiri atas dua tipe utama, yaitu siklus litik dan lisogenik. Pemilihan jenis siklus ini bergantung pada ketahanan sel inang terhadap virus penginfeksi. Jika sel inang memiliki kondisi yang lemah, virus cenderung menjalani siklus litik. Sebaliknya, jika sel inang memiliki pertahanan lebih baik, virus akan memilih siklus lisogenik terlebih dahulu sebelum mungkin beralih ke fase litik. Simak penjelasan lengkap mengenai kedua siklus tersebut di bawah ini.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
1. Perkembangbiakan Virus pada Siklus Litik
Dalam siklus litik, virus melakukan replikasi genomnya hingga menyebabkan sel inang hancur. Berdasarkan buku Virus dan Peranannya: Materi Ajar IPA Biologi Fase E, Kelas X oleh Drs. Akmal, M.Pd., siklus litik terdiri dari lima fase utama yaitu:
Fase adsorbsi (fase penempelan): Diawali dengan menempelnya virus pada sel inang melalui ikatan khusus antara kapsid protein virus dan reseptor pada permukaan sel inang.
Fase injeksi (fase memasukkan asam nukleat): Virus mulai memasukkan DNA atau RNA ke dalam sel inang, sementara kapsid atau selubung protein virus tetap berada di luar sel. Setelah seluruh materi genetik masuk, kapsid akan terlepas.
Fase sintesis (fase pembentukan): Virus mengambil alih sistem metabolisme sel inang. DNA dan RNA sel inang digunakan untuk menggandakan asam nukleat virus. Selain itu, virus akan melakukan sintesis protein hingga membentuk bagian-bagian kapsid, seperti kepala, ekor, dan serabut ekor.
Fase perakitan: Bagian-bagian virus yang sudah terbentuk pada tahap sintesis kemudian diisi dengan asam nukelat sehingga menjadi virus yang utuh.
Fase lisis (fase pemecahan sel inang): Enzim lisozim yang dikeluarkan oleh virus akan menghancurkan dinding sel inang, kemudian diikuti dengan pelepasan virus-virus baru.
2. Perkembangbiakan Virus pada Siklus Lisogenik
Berbeda dengan siklus litik, siklus lisogenik berlangsung tanpa menghancurkan sel inang. Namun, jika kondisi sel inang memburuk, virus dapat beralih ke siklus litik. Masih mengutip dari sumber yang sama, berikut tahapan dalam siklus lisogenik:
Fase adsorbsi: Virus menempel pada permukaan sel inang menggunakan reseptor yang sesuai, kemudian melubangi dinding sel dengan bantuan enzim lisozim.
Fase injeksi: Virus memasukkan materi genetiknya (DNA atau RNA) ke dalam sel inang dan melepaskan kapsid yang tidak lagi dibutuhkan.
Fase penggabungan: DNA virus dengan DNA sel inang menyatu. Dengan demikian, sel inang kini memiliki DNA campuran antara miliknya sendiri dan DNA virus.
Fase pembelahan: DNA virus yang bergabung dengan DNA bakteri menjadi tidak aktif (profage). Profage hanya akan bereplikasi ketika asam nukelat sel inang bersintesis dan melakukan pembalahan.
Fase Pemisahan (memasuki daur litik): Siklus lisogenik sebenarnya terhenti ketika sudah sampai fase pembelahan. Namun, jika kondisi lingkungan tidak mendukung, profage akan aktif. Virus akan memisahkan diri dari DNA inang dan mulai mengambil alih fungsi metabolisme sel untuk mensintesis protein.
Fase sintesis: Virus memanfaatkan sistem sel inang untuk memperbanyak asam nukelat dan membentuk komponen kapsid baru.
Fase perakitan: Bagian-bagian kapsid yang terbentuk dirakit menjadi virus baru. Asam nukleat kemudian dimasukkan ke dalam kapsid sehingga virus menjadi utuh.
Fase lisis: Enzim lisozim kembali dihasilkan untuk menghancurkan dinding sel inang. Virus-virus baru pun dilepaskan untuk memulai infeksi berikutnya.
Baca Juga: Apakah Virus Termasuk Makhluk Hidup? Ini Jawabannya
(SA)
