Konten dari Pengguna

Sungai Bawah Tanah Karst: Karakteristik, Proses Terbentuk, dan Contohnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sungai bawah tanah. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sungai bawah tanah. Foto: Unsplash

Sungai bawah tanah merupakan fenomena hidrologi yang umum dijumpai di kawasan karst. Aliran air ini terbentuk dan mengalir di bawah permukaan tanah, kemudian dapat muncul kembali sebagai aliran permukaan yang dimanfaatkan oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya. Artikel ini membahas secara rinci mengenai pengertian, karakteristik, proses terbentuk, serta contoh sungai bawah tanah karst di Indonesia.

1. Pengertian Sungai Bawah Tanah Karst

Sungai bawah tanah karst merupakan aliran air yang bergerak melalui celah batuan, lubang runtuhan, hingga gua secara alami. Menurut laman Geological Survey Ireland, sungai bawah tanah di wilayah karst dapat berkembang pada batuan gipsum dan kuarsit, tetapi paling umum ditemukan pada batuan kapur atau batu gamping yang mudah larut.

2. Karakteristik Utama Sungai Bawah Tanah Karst

Mengutip tesis berjudul Identifikasi Sungai Bawah Tanah pada Kawasan Karst Berdasarkan Data Geolistrik Self Potential dan Resistivitas di Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Malang Selatan karya Yanti Boimau, berikut beberapa karakteristik utama sungai bawah tanah karst yang dapat diamati:

  • Terdapat sejumlah cekungan dengan bentuk dan ukuran yang bervariasi. Cekungan tersebut ada yang tergenang air maupun kering, dengan kedalaman serta jarak antarcekungan yang berbeda-beda.

  • Banyak dijumpai bukit-bukit kecil yang merupakan hasil erosi akibat proses pelarutan kimia pada batu gamping.

  • Sungai-sungai permukaan tidak berkembang dengan baik atau bahkan hampir tidak ditemukan.

  • Aliran sungai bersifat terputus-putus, sering kali menghilang ke dalam tanah dan muncul kembali di lokasi lain.

  • Terdapat sungai-sungai bawah tanah serta gua-gua kapur yang dapat ditemukan di permukaan maupun di bawah permukaan tanah.

  • Ditemukan endapan sedimen lumpur berwarna merah yang merupakan endapan residual hasil pelapukan batu gamping.

  • Permukaan lahan terbuka menunjukkan kenampakan yang kasar, pecah-pecah, berlubang, atau membentuk tonjolan runcing.

3. Proses Terbentuknya Sungai Bawah Tanah Karst

Karst terbentuk melalui proses pelarutan batuan yang mengandung kalsium karbonat (CaCO₃). Semakin tinggi kandungan CaCO₃ dalam batuan, semakin berkembang pula bentuk lahan karst yang dihasilkan. Berdasarkan laman Geological Survey Ireland, sungai bawah tanah karst terbentuk akibat pelarutan batuan kapur oleh air hujan yang bersifat asam lemah.

Air hujan yang jatuh melalui atmosfer menyerap karbon dioksida (CO₂), kemudian menyerap lebih banyak CO₂ saat meresap ke dalam tanah. Proses ini membentuk larutan asam karbonat lemah yang secara perlahan melarutkan batuan kapur. Seiring waktu, retakan dan rongga di dalam batuan semakin membesar hingga membentuk sistem drainase bawah tanah yang kompleks.

4. Contoh Sungai Bawah Tanah Karst di Indonesia

Indonesia memiliki potensi kawasan karst yang sangat luas, tersebar di berbagai pulau seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Beberapa contoh sungai bawah tanah karst di Indonesia antara lain:

  • Sungai bawah tanah Bribin dan Seropan di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, yang telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air minum dan keperluan domestik masyarakat sekitar.

  • Sungai bawah tanah di Gua Petruk, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang menjadi salah satu sistem aliran bawah tanah karst yang terkenal.

Baca Juga: Ciri-ciri Air Kolam yang Mengalami Eutrofikasi Akibat Limbah

(SA)