Rabia Al-Adawiyya, Sosok Wanita Sufi yang Mengabdi kepada Allah SWT

All about hijab.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rukun Islam memiliki lima poin yang harus kita lakukan sebagai umat Muslim. Akan tetapi, ada satu tujuan yang lebih tinggi dari itu semua, yaitu mendekatkan diri secara spiritual dengan Sang Pencipta. Dalam Islam, titik ini dapat merujuk pada apa yang disebut dengan "Mistisme Islam" atau "Tasawuf".
Secara umum, sufisme adalah ajaran Islam yang senantiasa mengutamakan pembersihan hati atau jiwa dalam praktiknya, meskipun ajaran ini tak semuanya dipraktikan oleh umat Islam. Menurut ahli sufi, praktik demikian adalah cara bagi manusia untuk mencampai kesempurnaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Banyak karya mistik sufi terkenal seperti Rumi, Hafez dan Syams Tabrizi, yang menggambarkan bagaimana seseorang dapat tumbuh lebih dekat dengan Tuhan dengan selalu mengingat-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tak hanya pria, ada pula tokoh sufi wanita terkenal pada masanya hingga sekarang.
Rabia Al-Adawiyya, juga dikenal sebagai Rabia Basri, diketahui merupakan perempuan sufi pertama dalam Islam. Dia menyumbangkan buah pemikirannya tentang kedekatan manusia dengan Tuhannya. Melansir dari situs Mvslim, berikut inikisah tentang Rabia Al-Adawiyya.
Kisah dibalik wanita hebat
Menurut penyair sufi bernama Fariduddin Attar, Rabia berasal dari keluarga miskin dari Basra, Irak. Ketika ayahnya meninggal, dia dijual sebagai budak seharga beberapa dirham. Alih-alih mengeluh kepada Allah SWT, dia justru berkata:
"Ya Tuhan, aku adalah orang asing, tanpa ayah dan ibu. Aku telah dijual dalam perbudakan, dan sekarang pergelangan tanganku patah. Namun, terlepas dari semua ini, aku tidak akan tertekan dengan apa yang sedang menimpa diriku, sehingga aku tahu apakah aku telah mendapatkan kepuasan atau tidak."
Meskipun dia sedang menghadapi kesulitan dalam perbudakan dan kemiskinan, Rabia tetap sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan melalui doa dan zikir. Bahkan, tuannya meyaksikan cahaya di sekeliling Rabia ketika berdoa dan tak sampai hati menahannya sebagai budak. Akhirnya, dia membebaskan gadis malang itu.
Rabia menarik diri dari kehidupan sebelumnya untuk pergi ke padang gurun dan mengabdikan diri pada amal saleh. Kecintaannya yang penuh terhadap agama dan meditasinya, serta keimanan dan kesabarannya, diungkapan melalui ucapannya yang dikenal hingga saat ini:
"Ya Allah! Jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di neraka, dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, keluarkan aku dari surga. Tapi jika aku memuja-Mu demi Diri-Mu, jangan membenci aku dengan keindahan-Mu yang abadi."
Rabia digambarkan sebagai wanita yang mandiri dan kuat
Melalui cara hidup Rabia, peran gender tradisional dan status kekayaan dalam masyarakat sering dipertanyakan. Kehidupannya sebagai wanita mandiri dan kemampuan intelektual yang ia miliki, menunjukkan bahwa kekayaan dan status tidak dipengaruhi oleh keadaan finansial.
Rabia membuktikan, manusia bisa menjadi "kaya" melalui nilai spiritual dan pengendalian ego yang dimiliki. Seseorang tidak perlu menjadi manusia yang kaya secara materi untuk memiliki status tinggi di hadapan Tuhan. Rabia menjalani kehidupan di mana dia benar-benar melepaskan dirinya dari semua keinginan lain selain cinta kepada Allah SWT.
Dia menekankan bahwa, untuk sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan, seseorang perlu memahami bahwa hubungan antara manusia dan Tuhan adalah hubungan pribadi dan tidak mementingkan diri sendiri dan tidak terikat pada tradisi atau budaya apa pun. Rabia adalah contoh dari seseorang yang selalu meninggalkan kecintaan dunia untuk Tuhannya.
