Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dianggap Aneh, Ini Fakta Soal Larangan Bermain Layangan di Pontianak

HiPontianakverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Anggota Polsek Pontianak Timur melakukan razia layangan di Jalan Tanjung Raya 2. Foto: Dokumentasi Polsek Pontianak Timur
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Polsek Pontianak Timur melakukan razia layangan di Jalan Tanjung Raya 2. Foto: Dokumentasi Polsek Pontianak Timur

Hi!Pontianak - Masyarakat Indonesia sempat dibuat heboh tentang Peraturan Daerah (Perda) Kalimantan Barat no 3 tahun 2014, tentang ketertiban umum, yang isinya mengatur larangan bermain layangan bagi masyarakat, terkecuali layangan hias.

Banyak yang beranggapan Perda ini aneh, karena layangan merupakan mainan tradisional untuk anak-anak. Ternyata layangan di Kalbar tidak seperti layangan di daerah lain, berikut fakta-fakta yang berhasil di himpun oleh Hi!Pontianak.

  1. Menggunakan Kawat yang Sebabkan Gangguan Listrik

Menurut data dari PLN unit induk wilayah Kalbar, selama tahun 2018 terdapat 426 kejadian padam listrik dan 392 kasus disebabkan penggunaan kawat dalam bermain layang layang.

Di Kalbar, pemain layangan membuat tali dari kawat dengan menggunakan tali rem sepeda. Kawat pada tali rem yang terdiri dari banyak lapisan, dipisahkan satu persatu. Sehingga menyisakan kawat tipis yang mampu terbang di bawa layangan.

embed from external kumparan

Penggunaan kawat sendiri bertujuan untuk mengait layangan yang putus akibat beradu. Dengan karakteristik kawat yang kuat, tali layangan yang putus akan mudah terikat pada kawat, karena disusun seperti kail pancing.

Semakin panjang kawat yang digunakan, semakin besar kemungkinan untuk mendapat layangan putus. Umumnya para pemain layangan menggunakan kawat dengan panjang 2-4 Meter.

  1. Beradu Pada Ketinggian Tertentu Sehingga Menghalangi Pesawat Terbang

Safety and Risk Management Angkasa Pura II, Bayu A Praditya, mengatakan ada 2 laporan pilot dari 2 maspakai berbeda yang mengaku terganggu akibat aktivitas layang layang di kawasan tepi Sungai Kapuas dan Jeruju, aktivitas layang-layang telah mendekati pesawat. Jelas ini sangat berbahaya karena dapat membahayakan nyawa para penumpang pesawat.

Ternyata layangan di Kalbar, diadu pada ketinggian tertentu, yang membuat hal tersebut terjadi karena dalam proses beradu, layangan akan mengalami proses tarik ulur yang panjang. Sehingga tak heran jika layangan mampu mencapai ketinggian pesawat.

embed from external kumparan

  1. Jadi Ajang Perjudian

Walaupun tidak semua pemain layangan melakukan tindakan ini, tapi ada beberapa oknum yang menjadikan permainan ini menjadi ajang judi. Alasannya karena adu layangan bisa dikatakan judi yang cukup fair. Dalam memenangi adu layangan, banyak faktor yang menjadi penentu, seperti arah angin, kualitas tali gelasan, sampai skill bermain.

  1. Penggunaan Gerinda Engkol

Ketika layangan putus, tentu tali layangan akan menjuntai ke tanah. Permasalahan akan muncul ketika proses pengulungan tali tersebut. Banyak pemain layangan yang tidak ingin repot menggulung tali lalu menggunakan gerinda engkol.

Penggunaan gerenda engkol lah yang berbahaya. Tali layangan adu, umumnya menggunakan tali gelasan. Tali gelasan dibuat dari perpaduan antara tali pancing dan pecahan beling yang dihaluskan dengan cara ditumbuk. Agar dapat melekat di tali, serpihan beling tersebut dicampur dengan cat.

Cat yang sudah bercampur beling kemudian dilumuri pada tali pancing yang telah digantung. Dengan bantuan sinar matahari, tali dan cat tersebut melebur menjadi gelasan. Bisa dibayangkan tali yang tajam tersebut di tarik dengan bantuan gerinda engkol? Tentu bakal melukai siapa aja yang menyentuhnya.

Di Kalimantan barat sendiri, sudah banyak yang terluka bahkan sampai meninggal akibat gelasan disertai penggunaan gerinda engkol.

Nah hal tersebutlah yang membuat layangan di Kalbar berbahaya dan perlu dibuat aturan. Gimana menurut kalian? (hp5)