Konten dari Pengguna

Mengenal Azerbaijan: Ketika Tradisi Asia Dibungkus Kemegahan Eropa

Husni Fatahillah Siregar

Husni Fatahillah Siregar

Corporate Communication

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Husni Fatahillah Siregar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber: Foto Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: Foto Pribadi)

Pernahkah Anda membayangkan sebuah tempat di mana Anda bisa berjalan di jalanan batu abad pertengahan, lalu semenit kemudian berdiri di bawah menara futuristik yang megah? Tempat itu ada di persimpangan Kaukasus. Azerbaijan adalah jawaban bagi para petualang yang mencari eksotisme Asia namun juga ingin merasakan sensasi Eropa.

Mendengar nama Azerbaijan mungkin belum banyak dari Anda yang familiar. Tapi kalau disebut Danau Laut Kaspia, mungkin akan lebih familiar. Ya, Danau Laut Kaspia yang merupakan danau terbesar di dunia membentang di lima negara dan salah satunya terbentang di wilayah Azerbaijan. Selain Danau Laut Kaspia, bagi Anda penggemar balap mobil Formula 1 (F1) pasti juga tidak asing dengan Azerbaijan, karena Baku – ibukota negara Azerbaijan – masuk dalam kalender penyelenggaraan F1.

Baku merupakan kota kosmpolitan yang unik, karena ketika menginjakkan kaki pertama kali Anda akan merasakan vibes yang berbeda. Lokasi geografisnya yang berada di persimpangan Eropa dan Asia, dengan mayoritas penduduk beragama Islam, Anda akan merasakan vibes sebuah tempat atau kota dengan perpaduan rasa Asia, Eropa, Timur Tengah, plus ada rasa Uni Sovietnya (Azerbaijan adalah salah satu negara pecahan Uni Soviet).

Yang membuat kota Baku semakin unik karena menghadirkan perpaduan antara sejarah dan modernitas. Di satu sisi Anda akan melihat Kota Tua yang berusia ratusan tahun dan diakui UNESCO sbeagai warisan budaya dunia, sementara di sisi lain Anda akan menjumpai gedung-gedung dengan desain futuristik yang menjadi ikon kota Baku. Perpaduan kontras ini seperti mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita pasti memiliki masa lalu, yang kemudian dengan segala upaya kita melakukan refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Penasaran dengan paradoks Azerbaijan? Yuk, simak fakta-fakta unik tentang Azerbaijan berikut:

1. Asia “Rasa” Eropa

Secara geografis Azerbaijan masuk wilayah Asia Barat. Namun, Azerbaijan adalah titik temu yang sempurna antara pesona Asia dan Eropa. Terletak di persimpangan Kaukasus, Azerbaijan menawarkan perpaduan budaya Islam yang kaya, arsitektur bergaya Eropa, hingga tradisi dan budaya Asia yang telah mengakar ratusan tahun.

Apabila Anda berjalan menyusuri Nizami Street atau masuk ke kawasan Icherisheher (Kota Tua), Anda akan merasakan sensasi rasa Eropa dengan gaya bangunan arsitektur khas Eropa. Tapi jika Anda menikmati sajian kuliner khas Azerbaijan diserta hidangan tehnya, maka Anda akan merasakan sensasi Asia bercampur Timur Tengah.

2. Tradisi Minum Teh

Bicara mengenai teh, bagi masyarakat Azerbaijan teh ibarat urat nadi dalam kehidupan sosial mereka. Ya, karena negara ini punya tradisi minum teh yang sangat kuat. Mereka meminum teh hitam pekat menggunakan gelas khusus berbentuk buah pir, yang disebut armudu, yang menjaga teh tetap panas di bawah namun hangat di atas. Yang menarik, mereka tidak memasukkan gula blok ke dalam teh untuk dilarutkan, tapi langsung memasukkan dalam mulut lalu meminum tehnya. Oleh karenanya kalau ke kafe atau restoran, biasanya tidak disediakan sendok kecil untuk gula.

Teh bukan hanya sekedar minuman bagi masyarakat Azerbaijan, tapi teh melambangkan simbol keramahtamahan, kehangatan, dan identitas sosial. Oleh karenanya, setiap bertamu ke rumah orang lokal pasti akan disuguhi teh, menolak atau tidak diminum tehnya akan dianggap tidak sopan dan tidak menghormati tuan rumah.

3. Negara Api (Land of Fire)

Bagi penggemar film Avatar dan Naruto, pasti sudah familiar dengan ungkapan negara api menyerang. Ternyata negara api bukan sekedar cerita fiksi di film saja, tapi Azerbaijan adalah negara yang dijuluki “Negara Api atau Land of Fire”. Julukan ini muncul karena Azerbaijan memiliki gunung yang selalu mengeluarkan api yang tidak pernah padam, Yanar Dag. Di gunung ini, api terus menyala dari celah-celah bebatuan akibat rembesan gas alam dari bawah tanah. Kondisi ini juga menggambarkan Azerbaijan memiliki kekayaan sumber daya minyak dan gas alam yang melimpah.

Dengan julukan negara api ini, tidak heran jika Anda akan menjumpai bangunan modern dengan desain tiga gedung berbentuk lidah api yang merepresentasikan nyala api abadi yang menjadi ciri khas Azerbaijan, yaitu Flame Towers.

4. Kota Angin

Selain negara api, Azerbaijan lebih tepatnya kota Baku juga dijuluki “Kota Angin atau The City of Wind”. Hal ini karena kondisi Baku yang terkenal dengan angin kencangnya. Nama Baku sendiri dalam bahasa Persia artinya angn atau kota yang dihantam angin.

Jadi, jika Anda berkunjung ke Baku, bersiaplah untuk menghadapi angin yang kencang.

5. Negara Islam Sekuler Pertama

Mayoritas penduduk Azrbaijan (lebih dari 90%) beragama Islam yang didominasi oleh Islam Syiah, dan menjadikan Azerbaijan dengan populasi Muslim Syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, namun pemerintah Azerbaijan menerapkan sistem sekuler yang memisahkan secara tegas urusan agama, sosial masyarakat, dan urusan pemerintahan. Azerbaijan menjadi negara mayoritas muslim pertama yang mendeklarasikan disri sebagai negara sekuler pada tahun 1918, serta yang pertama memberikan hak pilih kepada perempuan.

Sehingga jangan heran banyak masjid bisa dijumpai, namun tidak bisa mendengar suara adzan dikumandangkan, karena memang kumandang adzan diatur ketat dan dibatasi jarak radius maksimal 500 meter. Walaupun mayoritas penduduk menganut paham Syiah, namun masyarakatnya tetap bisa hidup harmonis berdampingan secara damai dengan penganut paham Sunni.

6. “Drama” di Jalan Raya

Yang tidak kalah menariknya, saat Anda ke Azerbaijan terutama di Baku, Anda akan mendapati gaya mengemudi yang dinamis dan cepat – cenderung ngebut dan ada sedikit pengemudi yang ugal-ugalan. Saling serobot di jalan raya adalah hal yang lumrah, sehingga tidak heran suara klakson yang riuh akan sering didengar.

Nah, menariknya, walaupun warga lokal ngebut dalam mengemudi dan saling serobot, tapi para pengemudi tidak akan masuk ke dalam jalur bis. Jadi, di jalanan kota Baku, bis memiliki jalur sendiri. Semacet apapun kondisi jalanan, para pengemudi tidak akan masuk ke jalur bis. Selain itu, begitu pejalan kaki menginjakkan kaki di zebra cross, maka mobil yang sedang melaju kencang pun akan berhenti dan memberi jalan untuk menyebrang, tidak serta merta tancap gas supaya tidak perlu berhenti.

Azerbaijan adalah sebuah paradoks yang sempurna dimana kehangatan tradisi Asia terbungkus rapi dalam kemasan modernitas Eropa. Berjalan-jalan di Azerbaijan, khususnya di Baku, seperti memiliki paspor ganda: kaki Anda berpijak di tanah Asia, namun jiwa Anda bernapas dalam keanggunan Eropa. Jadi, mengapa harus memilih antara Timur dan Barat jika Azerbaijan menawarkan kemegahan keduanya?