Baharuddin Lopa : Jejak Kejujuran Warisan Bangsa

Mahasiswa PKN STAN
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Faatihah Nuursrayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baharuddin Lopa: Integritas Tanpa Kompromi
Baharuddin Lopa muncul sebagai oase yang tak lekang oleh waktu di tengah carut-marutnya isu korupsi dan krisis kepercayaan terhadap penegak hukum. Ia bukan hanya seorang Jaksa Agung, melainkan juga simbol nilai-nilai luhur yang patut diteladani oleh seluruh lapisan masyarakat. Kisah-kisah kesehariannya, yang mungkin tampak sepele, justru mengungkapkan kedalaman integritas, kejujuran, disiplin, dan keberanian yang menjadi pilar perjuangannya. Mari kita selami lebih dalam warisan teladan dari Baharuddin Lopa.
Nilai Antikorupsi dalam Kisah Hidup Lopa
Jujur: "Tak Mendamba Istana"
Kejujuran Baharuddin Lopa tercermin dalam kisah sederhana namun kuat. Suatu ketika, saat jarum meteran bahan bakar mobil dinasnya tiba-tiba mendekati "F" dari sebelumnya "E", Lopa tak tinggal diam. Ia bertanya kepada ajudannya, dan setelah mengetahui ada pihak yang sengaja mengisi penuh tangki mobilnya, ia segera menghampiri pelaku dan meminta jaksa tersebut menyedot kembali bensin yang bukan haknya. Kejujuran ini menunjukkan bahwa ia jujur pada diri sendiri, mempertanyakan hal yang tidak lazim, sekaligus jujur pada orang lain dengan menolak menerima sesuatu yang bukan haknya.
Disiplin: "Fasilitas Bukan Milik Pribadi"
Disiplin adalah fondasi prinsip hidup Lopa: "Segala sesuatu harus sesuai peruntukannya." Prinsip ini ia terapkan secara ketat, bahkan di lingkungan keluarga. Ia melarang keras istri dan anak-anaknya menggunakan mobil dinas untuk keperluan pribadi sehari-hari. Bentuk disiplin lainnya terlihat dari telepon dinas yang selalu dikunci, bahkan ia memasang telepon koin di rumah dinasnya agar penggunaan telepon dapat terpantau dan sesuai peruntukan. Sikap ini adalah wujud nyata kemampuannya untuk patuh pada tanggung jawab dan memisahkan aset jabatan dari kepentingan pribadinya.
Tanggung Jawab: "Saya Punya Uang Jalan untuk Beli Bensin, dan Itu Harus Saya Pakai"
Perkataan Lopa, "Saya punya uang jalan untuk beli bensin, dan itu harus saya pakai," menggarisbawahi sikap tanggung jawabnya yang luar biasa. Biaya perjalanan adalah haknya sebagai pejabat negara, yang diberikan untuk kepentingan dinas. Dengan tegas, Lopa menggunakan uang tersebut sesuai peruntukannya, menunjukkan bahwa ia memahami dan melaksanakan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak hanya menerima haknya, tetapi juga memastikan penggunaannya selaras dengan amanah yang diberikan.
Kerja Keras: Dedikasi Hingga Akhir Hayat
Nilai kerja keras Baharuddin Lopa terlihat dari dedikasinya yang tak pernah padam dalam menegakkan hukum. Ia mengemban berbagai tugas berat yang berkaitan dengan kejahatan kerah putih, namun semua ia usut tuntas dengan penuh kesungguhan. Dedikasinya yang luar biasa ini bahkan menjadi penyebab beliau meninggal dunia karena kelelahan, bertepatan saat beliau sedang dalam perjalanan dinas. Kematiannya menjadi bukti nyata betapa totalitasnya ia dalam menjalankan amanah negara.
Sederhana: Hidup Tanpa Kemewahan
Kesederhanaan Lopa sangat menonjol. Pernah suatu kali, saat ia dan istrinya menjadi saksi pernikahan kerabat, mereka datang menumpang "pete-pete" (angkutan umum). Padahal, sebagai pejabat, ia memiliki akses ke kendaraan yang lebih baik dan dapat menunjukkan "martabat" jabatannya. Namun, kesederhanaan yang tinggi dalam dirinya membuatnya nyaman menunjukkan hal-hal yang sesuai dengan kemampuan dan seharusnya, tanpa perlu pamer kemewahan atau fasilitas.
Mandiri: Tak Merepotkan Siapa Pun
Sikap mandiri Lopa juga terlihat dari cara ia dan istri menghadiri pernikahan kerabat tersebut. Dengan menggunakan angkutan umum, Lopa menunjukkan bahwa untuk kegiatan pribadi, ia tidak meminta bantuan ajudan atau kerabat untuk menjemputnya, meskipun ia datang sebagai saksi penting. Ia memilih untuk pergi secara mandiri dan tidak merepotkan siapa pun, menegaskan kemandiriannya dalam kehidupan pribadi.
Adil: "Bukan Tega kepada Sahabat"
Keadilan adalah prinsip yang tak bisa ditawar bagi Lopa. Sikap ini ia tunjukkan secara tegas ketika menghadapi kasus yang melibatkan sahabatnya sendiri, K.H. Badawi. Lopa tetap memproses dan mengusut tuntas kasus tersebut. Ia bersikap objektif, tidak memandang hubungan pertemanannya, dan mengusut sesuai kebenaran tanpa menggubris permohonan sang sahabat untuk tidak diproses. Bagi Lopa, yang salah tetap bersalah, tanpa pandang bulu.
Berani: Melawan Kejahatan Kerah Putih
Berhadapan dengan pelaku kejahatan kerah putih yang memiliki kekuatan dan jaringan luas membutuhkan keberanian luar biasa. Mengungkap kasus-kasus besar yang berkaitan dengan "uang" dan melibatkan "banyak oknum" tentu dapat membahayakan posisi jabatan bahkan keselamatan diri dan keluarga. Namun, Lopa tetap berani maju, mengusut tuntas kasus-kasus tersebut tanpa gentar menghadapi siapa pun.
Peduli: Kehadiran Penuh Makna
Kepedulian Lopa tampak dari kesediaannya menjadi saksi pernikahan kerabatnya. Beliau peduli terhadap permintaan kerabatnya dan secara sadar ingin terlibat dalam momen penting tersebut dengan bersedia hadir. Kehadiran dan kesanggupannya adalah wujud nyata kepedulian beliau terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Nilai-nilai teladan Baharuddin Lopa seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, kemandirian, keadilan, keberanian, dan kepedulian, bukan sekadar daftar sifat, melainkan cerminan filosofi hidup yang ia pegang teguh hingga akhir hayatnya. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, warisan Lopa ini menjadi lentera yang menerangi jalan bagi kita semua, mengingatkan bahwa integritas dan dedikasi adalah kunci untuk membangun bangsa yang lebih baik. Mari kita jadikan kisah Baharuddin Lopa sebagai inspirasi abadi dalam setiap langkah kehidupan kita.
Daftar Pustaka:
Komisi Pemberantasan Korupsi. (2014). Orange juice: Belajar integritas kepada tokoh bangsa.
