Konten dari Pengguna

Kandungan Zat Besi pada Susu: Manfaat dan Temuan Penelitian

I

Info Gizi

Kumpulan artikel yang membahas seputar gizi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Info Gizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Susu dalam gelas. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Susu dalam gelas. Foto: Unsplash

Kandungan zat besi pada susu penting diketahui karena mineral ini berperan besar dalam pembentukan hemoglobin, menjaga daya tahan tubuh, serta mencegah anemia.

Banyak orang mengenal susu sebagai sumber protein dan kalsium, tetapi tidak semua menyadari bahwa susu juga mengandung zat besi, meskipun dalam jumlah yang tidak terlalu tinggi. Kandungan inilah yang membuat susu tetap sesuai sebagai sumber gizi pelengkap bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Penelitian mengenai zat besi dalam susu telah dilakukan melalui skripsi Analisis Kandungan Fe dalam Susu Sapi Kemasan Asal Kabupaten Sinjai Secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) oleh Maulidiana .

Dalam penelitiannya, ia menyatakan bahwa susu sapi asal Kabupaten Sinjai mengandung Fe dengan kadar sebesar 0,3479 mg/L pada susu murni dan 0,2398 mg/L pada susu kemasan. Temuan ini memberi gambaran bahwa susu memang berkontribusi terhadap asupan zat besi harian, meski tidak sebesar daging atau hati.

Sementara itu, jurnal Pengaruh Susu dan Produk Susu yang Diperkaya Zat Besi terhadap Status Anemia pada Populasi oleh Vohra K menegaskan bahwa fortifikasi zat besi pada susu mampu meningkatkan kadar hemoglobin dan memperbaiki cadangan zat besi pada kelompok anak-anak serta wanita usia subur, sehingga susu dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyalurkan mineral bagi kelompok rentan anemia.

Peran Penting Zat Besi bagi Tubuh

Zat besi memegang peran utama dalam proses pengangkutan oksigen melalui hemoglobin. Ketika kadarnya rendah, tubuh akan mengalami gejala seperti mudah lelah, pucat, dan sulit berkonsentrasi.

Selain itu, zat besi juga mendukung pembentukan mioglobin yang membantu penyimpanan oksigen di otot. Bagi anak-anak dan remaja yang sedang berkembang, zat besi penting untuk mendukung fungsi otak serta proses belajar.

Sumber zat besi sendiri terbagi dalam dua jenis, yakni heme dan non-heme. Heme banyak ditemukan pada makanan hewani seperti daging, hati, ayam, ikan, telur, dan susu. Sedangkan, sumber non-heme yang berasal dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan umbi-umbian.

Besi heme cenderung lebih mudah diserap tubuh dibanding besi non-heme, sehingga konsumsi pangan hewani tetap penting untuk menjaga kecukupan gizi harian.

Baca juga: Perbandingan Serat pada Roti Gandum dan Roti Tawar Putih

Bagaimana Kandungan Zat Besi pada Susu Dianalisis

Penelitian oleh Maulidiana menganalisis kandungan besi (Fe) pada susu sapi asal Kabupaten Sinjai menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Teknik ini banyak digunakan untuk mengukur logam dalam bahan pangan karena sangat sensitif dan spesifik sehingga bisa memberikan hasil yang tepat.

Dalam penelitian tersebut, sampel susu murni dan kemasan dianalisis pada panjang gelombang tertentu yang memungkinkan pengukuran kadar besi dengan ketelitian tinggi.

Sementara itu, jurnal Vohra K menyoroti bahwa kadar besi dalam susu bisa berbeda berdasarkan jenis produk dan proses pengolahannya.

Produk susu yang difortifikasi zat besi diproses dengan penambahan mineral melalui teknik formulasi, sehingga kandungan akhirnya lebih tinggi dibandingkan susu murni. Sementara susu alami, seperti susu Sinjai yang diteliti oleh Maulidiana, cenderung memiliki kadar besi alami yang stabil tetapi rendah.

Manfaat Susu sebagai Sumber Zat Besi Pendukung

Meskipun kadar zat besi dalam susu relatif kecil, keberadaannya tetap memberi kontribusi bagi masyarakat, terutama untuk kelompok yang konsumsi proteinnya rendah.

Susu mudah diakses dan dapat dikonsumsi semua usia, sehingga membantu memenuhi kebutuhan gizi harian. Selain itu, susu tidak hanya memberikan zat besi, tetapi juga protein, vitamin, kalsium, dan energi.

Produk susu yang difortifikasi dapat dijadikan strategi kesehatan masyarakat untuk menekan angka anemia. Hal ini penting karena kelompok seperti wanita usia subur, ibu hamil, dan anak-anak memiliki risiko kekurangan zat besi lebih tinggi dibanding kelompok lainnya. Dengan tambahan zat besi pada susu, kebutuhan mineral harian dapat terpenuhi tanpa harus mengubah pola makan secara drastis.

Peran Pengolahan dan Keamanan Produk Susu

Proses pengolahan seperti pasteurisasi, penyimpanan, dan pemanasan tidak banyak mengubah kandungan zat besi karena sifat mineral ini relatif stabil. Susu tetap bisa dijadikan sumber mineral alami meskipun telah melalui proses pengolahan. Namun, perbedaan kadar antara susu murni dan susu kemasan tetap bisa terjadi.

Teknik pasteurisasi tetap penting untuk memastikan susu aman dikonsumsi. Meskipun tidak memengaruhi zat besi secara signifikan, pasteurisasi mencegah kontaminasi dan menjaga kualitas susu selama distribusi.

Kesimpulan

Susu mengandung zat besi dalam jumlah yang tidak terlalu tinggi namun tetap bermanfaat sebagai sumber gizi pendukung. Penelitian oleh Maulidiana menunjukkan bahwa susu Sinjai memiliki kandungan zat besi antara 0,2398–0,3479 mg/L, jumlah yang cukup relevan jika dikombinasikan dengan konsumsi protein hewani lain.

Jurnal susunan Vohra K memperlihatkan bahwa fortifikasi susu dengan zat besi dapat menjadi strategi besar dalam mengatasi anemia pada populasi rentan. Dengan demikian, susu tetap menjadi bagian penting dari pola makan seimbang, baik sebagai sumber zat besi alami maupun sebagai media fortifikasi yang efektif.