Sejarah Psikologi Faal dan 3 Tokoh yang Terlibat dalam Perkembangannya

Menyajikan informasi seputar info psikologi yang terkini, terupdate, dan terlengkap.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari info psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Psikologi Faal merupakan salah satu cabang ilmu Psikologi. Sejarah Psikologi Faal telah ada sejak berabad tahun lalu.
Psikologi Faal merupakan cabang ilmu Psikologi yang mempelajari cara kerja sistem saraf pada otak. Pengertian ini berdasarkan buku Psikologi Kebidanan, Ayu Idaningsih dan Yuyun Wahyu Indah Indriyani, (2021:11).
Lebih lanjut, dalam Psikologi Faal, mempercayai pikiran manusia merupakan fenomena yang berakar dari sistem saraf. Maka, setelah memahami mekanisme sistem saraf, akan dapat mengungkap banyak hal berkaitan dengan perilaku manusia.
Sejarah Psikologi Faal Sejak Zaman Neolitik
Sebelum membahas mengenai sejarah Psikologi Faal, ilmu Psikologi muncul dan mulai dipelajari sejak abad ke-19. Ilmu Psikologi berakar dari ilmu faal atau ilmu fisiologi.
Sejarah dari Psikologi Faal bermula ketika manusia mulai memberikan perhatian khusus pada pembelajaran dan pengetahuan otak manusia. Pada saat itu, telah diketahui juga, jika terjadi kerusakan pada otak, maka dapat berujung pada kematian.
Pada zaman Neolitik, yakni sekitar tahun 7000 sebelum Masehi (sM), bahkan telah diadakan pembedahan otak pertama kali di dunia.
Tokoh yang Terlibat dalam Perkembangan Psikologi Faal
Dalam perkembangannya, Psikologi Faal, semakin didalami oleh beberapa tokoh sekitar tahun 470 sebelum Masehi (SM) hingga pada abad yang lebih modern yakni pada tahun 1596. Tokoh yang memiliki pandangan mengenai Psikologi Faal, di antaranya:
1. Hippocrates
Hippocrates pada 470-410 SM, menemukan bahwa otak adalah sumber segala perasaan gembira, kesenangan, kesedihan dan lain sebagainya. Hal ini ditemukan ketika meneliti para gladiator yang menderita kerusakan otak.
2. Plato dan Aristoteles
Sejalan dengan Hippocrates, Plato pada 447-327 SM, juga berpendapat bahwa kedudukan pikiran adalah di otak. Namun, Aristoteles yang merupakan murid Plato beranggapan pikiran terletak di dalam hati, sedang otak dianggapnya hanya seperti “radiator” untuk mendinginkan darah.
2. Rene Descartes
Rene Descartes pada 1596-1650, juga memiliki pendapat serupa dengan Plato. Rene Descartes beranggapan, dalam pikiranlah tersimpan gagasan-gagasan manusia.
Descartes juga mengemukakan teorinya yang terkenal,”Keterpisahan Tubuh dan Pikiran” (Mind-Body Distinction). Teori ini menyatakan bahwa tubuh dan pikiran itu terpisah karena sifatnya yang sama sekali berbeda satu sama lain.
Baca Juga: Apa Saja Teori Psikologi Perkembangan Anak yang Penting? Ini Penjelasannya
Demikian sejarah Psikologi Faal yang mulai ditemukan berabad-abad tahun lalu. Informasinya juga dilengkapi dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perkembangan ilmu ini. (Fitri A)
