Kumparan Logo
Konten Media Partner

8 Hal yang Membuat Bule ‘Malas Datang Lagi' ke Pantai Lakey di Dompu

Info Dompuverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ikon tulisan nama Pantai Lakey di Dompu NTB. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu
zoom-in-whitePerbesar
Ikon tulisan nama Pantai Lakey di Dompu NTB. Foto: Ilyas Yasin/Info Dompu

Info Dompu – Berdasarkan hasil wawancara Info Dompu dengan berbagai pihak, seperti pemilik dan pelayan restoran, dan mantan pekerja salah satu hotel di Pantai Lakey, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu, 2 November 2019, ada berbagai hal yang ternyata membuat bule atau wisatawan asing ‘malas’ datang atau kembali ke pantai paling populer di Dompu ini. Yuk kita simak 8 hal tersebut, antara lain:

  1. Kurang rasa aman dan nyaman ketika berada di Pantai Lakey

Menurut pemilik salah satu restoran di Pantai Lakey, Herman (44), kurangnya rasa aman dan nyaman para tamu bule menyebabkan mereka 'malas datang lagi'. Tidak hanya di Pantai Lakey tetapi bahkan sejak dari Bandara Sultan Hasanuddin di Kabupaten Bima.

Pemandangan Pantai Lakey. Foto: Info Dompu
  1. Bule tidak bebas memilih transportasi yang diinginkan dari bandara

“Banyak bule yang mengeluhkan, dari bandara ke sini mereka diharuskan memakai mobil yang ada di bandara. Mereka tidak bebas untuk menggunakan mobil yang mereka suka,” ujar Herman saat ditemui di restoran miliknya.

Jika ingin menuju Pantai Lakey menggunakan pesawat, maka bandara terdekatnya adalah bandara di Bima, NTB. Biasanya banyak jasa mobil sewaan yang akan langsung menyambut turis asing saat mereka melangkahkan kaki keluar bandara.

  1. Warga lokal sering terlibat keributan dengan turis di lokasi wisata

Hal ini diungkapkan Mulyadin (17) pelayan salah satu restoran di Pantai Lakey yang membenarkan bahwa ada beragam hal yang membuat bule alias turis asing tidak nyaman datang lagi ke pantai ini. Salah satunya karena warga lokal sering terlibat keributan dengan mereka.

Mulyadin pun menceritakan insiden perkelahian yang mengakibatkan warga lokal babak belur dihajar bule yang ternyata seorang karateka. Tamu-tamu yang berkunjung ke restoran Mulyadin bekerja berasal dari beberapa negara seperti Australia, Amerika dan Jepang.

  1. Tukang ojek juga sering ‘memeras’ para bule yang menyewa motor

Hal lainnya diungkapkan Mulyadin bahwa ada juga tukang ojek yang menyediakan jasa penyewaan motor maupun mengantar bule-bule, tetapi tukang ojek justru suka ‘memeras’ para bule.

Kata Mulyadin, mereka sering menuntut ganti rugi tinggi kepada bule jika motornya lecet atau terjatuh saat disewa. “Meski menurut perjanjian jika motor terjatuh saat dipakai yang bertanggungjawab adalah pemiliknya, tapi mereka kerap minta ganti rugi selangit,” ujar Mulyadin yang sudah tiga tahun bekerja di Pantai Lakey.

Suasana saat matahari terbit di Pantai Lakey. Foto: Info Dompu
  1. Cuaca dan Gelombang di Pantai Lakey

Dengan keindahan dan keunikan ombak yang dimiliki pantai Lakey terutama bagi pecinta olahraga surfing, tentu saja para turis tidak akan berkunjung saat cuaca dan gelombang sedang tidak stabil. Mereka biasanya akan kembali datang di bulan tertentu saat mereka bisa menikmati ombak kidal Pantai Lakey.

  1. Layanan untuk turis dinilai buruk

Menurut JN (32), mantan pegawai sebuah hotel terkenal di Pantai Lakey mengakui bahwa menurunnya jumlah kunjungan dan hunian turis juga disebabkan oleh layanan yang buruk.

Dia menceritakan, di hotel tempatnya bekerja, banyak hal yang tidak sesuai seperti dijanjikan oleh pihak hotel. “Misalnya chef-nya, mereka gembar-gemborkan berasal chef profesional tapi ternyata chef lokal,” ujarnya kepada media ini, Sabtu (2/11).

Rumah pantau pantai yang menjadi ikon populer Pantai Lakey. Foto: Fery Pribadi
  1. Bahan makanan untuk tamu kurang fresh dan sangat mahal

Menurut JN, bahan masakan yang disajikan di hotel tempatnya pernah bekerja sudah tersimpan terlalu lama di kulkas sehingga mempengaruhi cita rasa. “Harga masakan juga terlalu mahal, padahal itu masakan sekelas kaki lima. Itu sering dikeluhkan para turis,” tukasnya.

  1. Manajemen hotel tidak profesional

Di hotel tempat JN pernah bekerja tidak profesional. Ia mengatakan Manajemen hotel cenderung buruk. “Pihak hotel sengaja memangkas jumlah karyawan dan hanya mengandalkan anak-anak SMK yang praktek dan tidak digaji,” akunya sambil menjelaskan, mereka hanya ditanggung penginapan dan makan selama berpraktek.

-

Ilyas Yasin dan Vani Oktaviani

kumparan post embed