Konten dari Pengguna

Sering Disakiti, tapi Sulit Pergi? Kenali Intermittent Reinforcement

Izza Zahidah Muthmainnah

Izza Zahidah Muthmainnah

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, gemar mengamati perilaku manusia dan dinamika sosial

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Izza Zahidah Muthmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedih. Foto: Stock-Asso/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedih. Foto: Stock-Asso/Shutterstock

Pernahkah kamu melihat seorang teman atau bahkan dirimu sendiri terjebak di dalam hubungan yang menyakitkan, tapi begitu sulit untuk melangkah pergi? Teman-teman di sekitar sudah lelah mengingatkan, "Udah sih putus aja, kamu pantas dapat yang lebih baik!" Namun nyatanya, melepaskan seseorang tidak pernah sesederhana membalikkan telapak tangan. Mengapa demikian?

Dalam realitas hubungan percintaan, kerap kali kita jumpai sebuah siklus yang membingungkan. Ada hari-hari di mana pasangan hadir dengan sikap yang hangat dan penuh perhatian. Namun, di waktu lain, ia dapat berubah menjadi sosok dingin, abai, serta menunjukkan perilaku yang menyakitkan. Pola yang melelahkan ini sebenarnya menyimpan sebuah teka-teki besar: Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hubungan kita?

Sains di Balik Intermittent Reinforcement

Dalam ranah psikologi behavioristik, kondisi ini disebut intermittent reinforcement, yaitu ketika perhatian dan kasih sayang datang secara tidak konsisten. Hal tersebut membuat otak kita justru memproduksi dopamin atau hormon kebahagiaan dan kecanduan dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan jika kasih sayang itu diberikan secara stabil setiap hari.

Ketidakkonsistenan inilah yang justru menjebak seseorang dalam hubungan yang tidak sehat. Rasa sakit yang dirasakan ketika pasangan bersikap dingin akan langsung terbayar lunas ketika ia kembali manis. Siklus ini menciptakan harapan bahwa "besok ia pasti bisa kembali menjadi sosok yang baik seperti dulu," yang membuat korban rela bertahan melewati ratusan hari yang menyakitkan demi mengejar satu hari yang indah.

Ketika Cinta Berubah Menjadi Kebergantungan Emosional

Ilustrasi cinta. Foto: Shutterstock

Lama-kelamaan, jebakan pola ini akan mengikis kesehatan mental dan memicu terjadinya emotional dependency atau kebergantungan emosional yang akut. Ketika seseorang berada dalam kondisi sedih atau cemas, ia langsung mencari pasangannya agar merasa lebih baik.

Mencari dukungan dari pasangan sebetulnya adalah hal yang wajar dan sehat dalam sebuah hubungan yang seimbang. Namun, batas sehat itu mulai berbahaya ketika seluruh rasa aman, kebahagiaan, dan nilai diri (self-worth) seseorang sepenuhnya digantungkan pada satu orang tersebut. Hubungan pun perlahan berubah menjadi tidak sehat, di mana rasa cinta yang tulus mulai bercampur dengan rasa takut kehilangan yang amat besar.

Dampak paling nyata dari kebergantungan emosional ini adalah munculnya kecemasan dalam diri, yang membuatmu mulai terus-menerus mencari kepastian (reassurance) dari pasangan dengan bertanya-tanya: "Dia sebenarnya masih sayang aku enggak, ya?", "Apakah aku mengganggu dia?", atau "Dia bakal ninggalin aku enggak, ya?"

Anehnya, seberapa sering pasangan meyakinkan kita, rasanya itu tak akan cukup—ibarat sebuah cangkir yang bocor di bagian bawahnya, terus-menerus diisi, tapi dalam sekejap akan kembali kosong lagi. Akibatnya, ketika hubungan itu benar-benar selesai, rasa patah hati yang dialami akan terasa lebih menghancurkan dan merusak.

Memutus Rantai Siklus: Langkah Menuju Batas yang Sehat

Ilustrasi refleksi. Foto: Priyank Dhami/Shutterstock

Memiliki kebergantungan emosional dalam hubungan adalah hal yang normal bagi manusia sebagai makhluk sosial, selama masih dalam batas yang sehat. Kita semua tentu membutuhkan ruang untuk merasa didukung, dimengerti, dan tahu ada seseorang yang setia mendampingi di sisi kita. Namun, ketika rasa aman kita hanya bergantung pada satu orang, di situlah alarm keras bahwa kamu harus segera mengambil tindakan.

Namun tenang saja, kita masih bisa perbaiki ini perlahan-lahan. Langkah pertama yang paling krusial adalah belajar mengenali, menamai, dan menenangkan emosi kamu sendiri tanpa selalu bergantung pada pasangan. Mulailah membangun kembali ruang penenang diri secara mandiri dan mulai merawat hubungan sosial dengan keluarga maupun sahabat yang sempat terabaikan.

Jika polanya sudah terlalu mengakar dan sudah terlalu berat untuk melepaskan jeratan tersebut sendirian, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog. Mengakui bahwa kamu sedang terluka dan membutuhkan pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal yang paling berani untuk mengambil alih kembali kendali atas kebahagiaan hidupmu sendiri.