Konten dari Pengguna

Perang Bubat: Tragedi Berdarah Antara Sunda dan Majapahit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perang Bubat. Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perang Bubat. Foto: Pixabay.

Perang Bubat merupakan salah satu tragedi berdarah yang paling membekas dalam sejarah Nusantara. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1357 ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan bentrokan akibat perbedaan persepsi diplomatik antara dua kerajaan besar pada masa itu.

Tragedi ini dimulai dari rencana pernikahan politik yang seharusnya menjadi jembatan persatuan. Namun berujung pada pertumpahan darah yang mengubah dinamika hubungan Sunda dan Jawa untuk masa yang sangat panjang. Dampaknya masih terasa hingga kini dalam identitas budaya masyarakat Sunda.

Latar Belakang dan Kronologi Perang Bubat

Awalnya, Prabu Hayam Wuruk berencana menikahi Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Kerajaan Sunda. Pernikahan ini diharapkan dapat mempererat kembali hubungan antara Sunda dan Majapahit, meskipun kemudian dipandang berbeda oleh Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Perbedaan Pandangan yang Memicu Konflik

Menurut Wulan Sondarika dkk., dalam artikel Dampak Perang Bubat Terhadap Identitas dan Kebudayaan Masyarakat Sunda, konflik muncul ketika Gajah Mada menganggap Dyah Pitaloka harus diserahkan sebagai upeti, sedangkan pihak Sunda datang untuk melangsungkan pernikahan resmi dengan Majapahit. Perbedaan pandangan tersebut akhirnya memicu Perang Bubat.

Pertempuran di Lapangan Bubat

Ketika rombongan Sunda tiba di Lapangan Bubat, Gajah Mada meminta agar Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti sebagai tanda tunduknya Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Permintaan tersebut ditolak sehingga pecahlah peperangan.

Gugurnya Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka

Dalam peperangan yang berlangsung tidak seimbang, Prabu Linggabuana beserta rombongannya gugur. Dyah Pitaloka kemudian melakukan mati-bela dan dikenang dalam budaya Sunda sebagai simbol kehormatan, martabat, dan kesetiaan.

Dampak Perang Bubat Terhadap Identitas dan Kebudayaan Sunda

Trauma Kolektif Masyarakat Sunda

Perang Bubat meninggalkan luka dan trauma kolektif yang membentuk kesadaran sejarah masyarakat Sunda serta memengaruhi pandangan mereka terhadap identitas dan hubungan antaretnis hingga sekarang.

Penguatan Identitas Budaya Sunda

Perang Bubat memperkuat identitas budaya Sunda yang menjunjung tinggi kehormatan, kemandirian, dan penolakan terhadap dominasi. Dalam ingatan masyarakat Sunda, peristiwa ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Heroisme Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka

Kisah Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka terus dikenang dalam budaya Sunda. Dyah Pitaloka dipandang sebagai simbol kehormatan, martabat, dan kesetiaan, sedangkan Perang Bubat menjadi lambang perlawanan terhadap ketidakadilan.

Pengaruh terhadap Kebudayaan Sunda

Pengaruh Perang Bubat masih terlihat dalam berbagai bentuk ekspresi budaya Sunda, seperti seni, sastra, cerita rakyat, mitos, dan legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pentingnya Menjaga Kedaulatan

Perang Bubat memperkuat kesadaran masyarakat Sunda mengenai pentingnya menjaga kehormatan, kemandirian politik, dan penolakan terhadap dominasi pihak lain. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia