Konten dari Pengguna

Tari Serampang Dua Belas: Asal Usul dan Estetika

J

Jejak Sejarah

Artikel yang membahas seputar ilmu sejarah dalam maupun luar negeri.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari Serampang Dua Belas dimainkan menggunakan pakaian adat Melayu. Sumber foto: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Tari Serampang Dua Belas dimainkan menggunakan pakaian adat Melayu. Sumber foto: pixabay.com

Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu warisan budaya Melayu yang memiliki kekayaan makna dan estetika. Tarian ini berasal dari Sumatra Utara dan dikenal luas berkat gerakan serta irama musik yang khas. Sebagai simbol identitas lokal, tarian ini tetap relevan hingga kini baik dalam acara adat maupun pertunjukan seni.

Asal Usul Tari Serampang Dua Belas

Tari Serampang Dua Belas memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Melayu di pesisir Sumatra Utara. Menurut jurnal Tari Serampang Dua Belas di Sumatera Utara Kajian Estetika Melalui Pendekatan Multikulturalisme oleh Sabri Gusmail, tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an sebagai bentuk ekspresi budaya Melayu Deli yang sarat pesan sosial dan adat istiadat.

Sejarah Penciptaan dan Perkembangan Awal

Pada masa awal kemunculannya, Tari Serampang Dua Belas dipentaskan untuk menggambarkan proses perjodohan dalam adat Melayu. Penciptaannya dimaksudkan sebagai sarana hiburan sekaligus media edukasi nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Seiring waktu, tarian ini semakin dikenal dan menjadi bagian penting dalam berbagai acara budaya di Sumatra Utara.

Nilai Budaya dan Makna Simbolik

Setiap gerakan dan kostum penari memiliki makna tersendiri yang merefleksikan filosofi hidup masyarakat Melayu. Berdasarkan penelitian Sabri Gusmail, rangkaian gerak Tari Serampang Dua Belas menggambarkan tahapan perjodohan, mulai dari perkenalan hingga pernikahan. Selain itu, tarian ini juga menjadi representasi semangat multikulturalisme di wilayah pesisir.

Estetika Tari Serampang Dua Belas

Keindahan Tari Serampang Dua Belas tidak hanya terletak pada gerakannya, tetapi juga pada harmonisasi musik dan visual penari. Unsur estetika ini membedakan tarian tersebut dari seni pertunjukan lain di Nusantara.

Unsur Gerak dan Musik Pengiring

Pola gerak Tari Serampang Dua Belas terdiri dari rangkaian langkah dinamis yang selaras dengan iringan musik tradisional Melayu. Sabri Gusmail menyebutkan bahwa perpaduan ritme musik dan gerakan mencerminkan keharmonisan budaya Melayu serta unsur multikultural yang menyertainya. Instrumen yang digunakan pun khas, seperti akordeon dan gendang.

Kostum dan Tata Rias

Kostum penari didominasi busana tradisional Melayu, lengkap dengan hiasan kepala dan kain songket. Ragam motif dan detail kostum memperlihatkan kehalusan estetika Melayu, sekaligus dipengaruhi budaya lain di sekitarnya. Tata rias berfungsi mempertegas karakter penari dan memperindah visual pertunjukan.

Peran Tari Serampang Dua Belas dalam Pelestarian Budaya

Tari Serampang Dua Belas tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian budaya di Sumatra Utara. Keterlibatan banyak pihak sangat berperan dalam menjaga keberlanjutan tarian ini.

Upaya Pelestarian di Sumatra Utara

Masyarakat dan pemerintah daerah aktif menggelar pelatihan serta pertunjukan Tari Serampang Dua Belas. Selain itu, tarian ini telah masuk dalam kurikulum pendidikan budaya lokal, sehingga generasi muda lebih mengenal dan mencintai warisan leluhur.

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan

Pelestarian Tari Serampang Dua Belas menghadapi tantangan dalam hal regenerasi penari dan perubahan minat generasi muda. Namun, harapan tetap ada agar tarian ini terus diwariskan dan menjadi bagian penting dalam identitas budaya Sumatra Utara.

Kesimpulan

Tari Serampang Dua Belas merupakan simbol budaya Melayu di Sumatra Utara yang kaya akan nilai sejarah, estetika, dan filosofi kehidupan. Melalui kolaborasi antar generasi dan dukungan masyarakat, pelestarian tarian ini diharapkan terus berjalan dan mengukuhkan identitas budaya daerah.

Ditinjau oleh Fakhri Nurzaman