Konten dari Pengguna

Tokoh Indische Partij dan Gerakan Persatuan Hindia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jejak Sejarah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ki Hajar Dewantara (sebelumnya bernama Suwardi Suryaningrat). Foto: Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara (sebelumnya bernama Suwardi Suryaningrat). Foto: Pixabay.

Indische Partij menjadi salah satu organisasi politik paling berani di masa kolonial Belanda. Didirikan pada 25 Desember 1912, partai ini membawa semangat persatuan lintas etnis dengan slogan Indie voor Indiers atau Hindia untuk orang Hindia.

Tiga tokoh utama di balik gerakan ini dikenal sebagai Tiga Serangkai yang memperjuangkan kemerdekaan intelektual melalui propaganda media dan pendidikan. Visi mereka menolak diskriminasi rasial dan menciptakan identitas bersama bagi semua golongan di Hindia Belanda, baik Eropa, Indo, maupun Pribumi.

Tiga Serangkai Pendiri Indische Partij

Lahirnya Tiga Serangkai

Berdasarkan artikel Propaganda Intelektual Indische Partij: Strategi Media dan Pendidikan dalam Membangkitkan Kesadaran Nasional (1912–1925) oleh Rezza Fauzi Muhammad Fahmi dkk., Indische Partij didirikan pada tahun 1912 oleh tiga tokoh pergerakan nasional yang kemudian dikenal sebagai Tiga Serangkai, yaitu Ernest François Eugène Douwes Dekker, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, ketiganya memiliki tujuan yang sama, yakni memperjuangkan persamaan hak seluruh penduduk Hindia Belanda serta menumbuhkan semangat kebangsaan yang melampaui perbedaan ras dan golongan.

Ernest Douwes Dekker

Ernest Douwes Dekker merupakan tokoh utama sekaligus penggagas berdirinya Indische Partij. Ia berpendapat bahwa seluruh penduduk Hindia Belanda, baik pribumi, Indo-Eropa, maupun kelompok lainnya, memiliki hak yang sama untuk memperoleh keadilan dan menentukan masa depan tanah airnya. Melalui berbagai tulisan di surat kabar, Douwes Dekker aktif mengkritik kebijakan kolonial sekaligus mengajak masyarakat membangun persatuan dalam menghadapi penjajahan.

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo adalah seorang dokter sekaligus tokoh pergerakan yang dikenal berani mengkritik kebijakan pemerintah kolonial. Setelah tidak lagi aktif di Budi Utomo, ia bergabung mendirikan Indische Partij karena menginginkan organisasi yang lebih terbuka dan memperjuangkan kepentingan seluruh rakyat Hindia Belanda. Dalam organisasi ini, Tjipto banyak menyuarakan pentingnya persamaan hak, keadilan sosial, dan penghapusan diskriminasi rasial.

Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara)

Soewardi Soerjaningrat, yang kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, berperan penting dalam menyebarluaskan gagasan Indische Partij melalui dunia jurnalistik. Tulisan terkenalnya berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) berisi kritik tajam terhadap pemerintah kolonial yang merayakan kemerdekaan Belanda di tengah penderitaan rakyat Hindia Belanda. Akibat tulisan tersebut, ia bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Belanda pada tahun 1913.

Strategi Propaganda Indische Partij

Media sebagai Sarana Perjuangan

Indische Partij memanfaatkan media massa sebagai sarana utama untuk menyebarluaskan gagasan nasionalisme. Melalui surat kabar De Expres, para tokohnya menerbitkan berbagai artikel yang mengkritik diskriminasi rasial, ketidakadilan kolonial, serta pentingnya persatuan seluruh penduduk Hindia Belanda. Strategi ini bertujuan membangun kesadaran politik masyarakat sekaligus memperkuat semangat perjuangan menuju kemerdekaan.

Pendidikan sebagai Sarana Membangun Kesadaran Nasional

Selain melalui media, para tokoh Indische Partij memandang pendidikan sebagai sarana penting untuk membentuk kesadaran kebangsaan. Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan sikap kritis, rasa cinta tanah air, dan kesadaran akan hak-hak sebagai bangsa yang merdeka. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 setelah ia kembali dari masa pengasingan.

Pembubaran dan Pengaruh Indische Partij

Tidak lama setelah berdiri, pemerintah kolonial menolak permohonan pengakuan badan hukum Indische Partij karena organisasi tersebut dianggap membahayakan kekuasaan Belanda. Penolakan tersebut diikuti dengan berbagai tindakan represif, termasuk pengasingan Tiga Serangkai ke Belanda pada tahun 1913. Walaupun usia organisasi ini relatif singkat, gagasan yang diperjuangkannya terus memengaruhi perkembangan organisasi-organisasi pergerakan nasional pada masa berikutnya.

Warisan Indische Partij

Warisan terbesar Indische Partij terletak pada keberhasilannya memperkenalkan nasionalisme modern yang menekankan persatuan seluruh penduduk Hindia Belanda tanpa membedakan ras maupun etnis. Selain itu, organisasi ini menunjukkan bahwa media massa dan pendidikan dapat menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran politik serta menumbuhkan semangat kebangsaan. Gagasan-gagasan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai organisasi pergerakan nasional yang muncul pada tahun-tahun berikutnya.

Reviewed by Melody Aria Putri, M.Hum., Gr.

Baca Juga: Sejarah Kota dan Jejak Peradabannya di Indonesia