Konten dari Pengguna

Sejarah Loji Gandrung Solo yang Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Jendela Dunia
Menyajikan informasi untuk menginspirasi dan menambah wawasan pembaca
7 November 2025 18:29 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Loji Gandrung Solo yang Sudah Ada Sejak Zaman Belanda
Inilah sejarah Loji Gandrung Solo yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Jendela Dunia
Tulisan dari Jendela Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Sejarah Loji Gandrung Solo. Foto: Unsplash/ Aaron Burden
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Loji Gandrung Solo. Foto: Unsplash/ Aaron Burden
ADVERTISEMENT
Sejarah Loji Gandrung Solo menjadi topik menarik untuk dibahas karena bangunan ini menyimpan banyak kisah penting yang tidak terlepas dari kekayaan budaya dari zaman dahulu.
ADVERTISEMENT
Dengan arsitektur yang memadukan budaya Eropa (Belanda) dan budaya lokal, yaitu khas Jawa, bangunan ini tampil sebagai salah satu ikon bersejarah di Kota Surakarta.

Sejarah Loji Gandrung Solo

Ilustrasi Sejarah Loji Gandrung Solo. Foto: Unsplash/ Mathias Reding
Sebuah bangunan megah yang berada di Jalan Brigjen Slamet Riyadi nomor 261, Kelurahan Penumping, Kecamatan Laweyan. Sejarah Loji Gandrung Solo mencerminkan perjalanan panjang sebuah bangunan berarsitektur indish yang kini menjadi bagian dari kawasan cagar budaya.
Mengutip laman resmi setda.surakarta.go.id, keunikan arsitektur indish yang dimilikinya membuat bangunan ini menarik. Istilah “indish” berasal dari kata “Nederlansch Indie” atau Hindia Belanda, yang merujuk pada gaya arsitektur hasil perpaduan budaya Eropa (Belanda) dengan Jawa.
Desain bangunan Loji Gandrung diketahui dirancang oleh arsitek terkenal asal Belanda, C.P. Wolff Schoemaker, yang juga merupakan guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung).
ADVERTISEMENT
Pada masa awal berdirinya, bangunan ini menjadi tempat tinggal Johannes Augustinus Dezentje, seorang pengusaha perkebunan gula sekaligus tuan tanah ternama di Ampel, Boyolali, yang hidup pada tahun 1797–1839.
Tinus, julukan Dezentje, memiliki hubungan baik dengan Keraton Kasunanan Surakarta. Ayahnya, August Jan Caspar, merupakan pejabat militer pada masa kolonial.
Setelah menikahi Raden Ayu Cokrokusumo yang berasal dari keluarga keraton, Tinus membangun rumah megah tersebut pada tahun 1830. Desainnya terinspirasi gaya bangunan megah Belanda dengan teras panjang, jendela dan pintu berukuran besar, serta langit-langit tinggi.
Pada masa itu, rumah Tinus sering dijadikan tempat berlangsungnya pesta, hingga kegiatan tersebut disebut sebagai “gandrungan” dalam Bahasa Jawa, yang berarti sangat menyukai atau tergila-gila.
Dari sinilah nama Loji Gandrung muncul. “Loji” berasal dari kata Belanda “loge,” yang berarti rumah besar, bagus dan berdinding tembok.
ADVERTISEMENT
Perjalanan sejarah Loji Gandrung tidak berhenti pada aspek arsitektur dan kehidupan keluarga Dezentje. Saat masa pendudukan Jepang, bangunan ini pernah difungsikan sebagai markas pimpinan pasukan.
Bahkan Jenderal Gatot Subroto juga pernah memanfaatkannya untuk menyusun strategi menghadapi Agresi Militer II Belanda pada 1948–1949. Selain itu, Letkol Slamet Riyadi juga menggunakan tempat ini untuk menyiapkan Serangan Umum tahun 1949.
Dua tokoh nasional tersebut menjadikan Loji Gandrung sebagai pusat strategi perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pun pernah singgah dan menginap di bangunan ini.
Hingga sekarang, pesona arsitektur serta nilai historis Loji Gandrung terus menarik perhatian masyarakat. Diresmikan sebagai kediaman resmi Wali Kota Surakarta, bangunan ini juga kerap dipilih oleh banyak pasangan calon pengantin sebagai lokasi foto pre-wedding karena keindahan dan nuansa klasiknya.
ADVERTISEMENT
Namun, penggunaan lokasi tersebut membutuhkan izin tertulis dari Wali Kota Surakarta melalui Bagian Protokol, Komunikasi, dan Administrasi Sekretariat Daerah Kota Surakarta. Dengan langkah ini, keindahan serta kelestarian Loji Gandrung dapat terus terjaga.
Sebagai salah satu bangunan bersejarah di Surakarta, sejarah Loji Gandrung Solo ini menjadi pengingat akan kekayaan budaya yang patut diwariskan dan dijaga oleh generasi selanjutnya. (Idaf)