Konten dari Pengguna

Thrifting: Solusi Vintage Pengganti Fast Fashion

Jessica Wijaya
Siswa/i dari SMA Citra Berkat Tangerang
17 Agustus 2025 0:21 WIB
·
waktu baca 1 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Thrifting: Solusi Vintage Pengganti Fast Fashion
Sebagai remaja, tentunya kita harus lebih selektif dalam memilih pakaian. Thrifting hadir sebagai salah satu cara untuk mengurangi fast fashion.
Jessica Wijaya
Tulisan dari Jessica Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Pernahkah kamu membeli pakaian dan hanya dengan beberapa kali pakai saja pakaianmu sudah robek? Tanpa kita sadari, fast fashion sudah mengelilingi kita, tak sadar bahwa fast fashion dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia itu sendiri. Fast fashion sendiri merupakan sebuah siklus produksi fashion yang sangat cepat sehingga dapat menghasilkan kuantitas produk yang banyak, menawarkan harga yang murah dan terjangkau. Dengan tawaran yang menggiurkan, tak heran banyak masyarakat—terutama remaja, yang termakan dengan pakaian-pakaian yang diproduksi berindikasikan fast fashion. Maraknya tren-tren yang beredar di media sosial juga memperparah kondisi fast fashion di sekitar kita saat ini terutama sebagai remaja yang sehari-hari mengkonsumsi tren di media sosial. Pasalnya, sifat fear of missing out (FOMO) yang biasanya dialami oleh remaja sekarang dijadikan peluang oleh industri fast fashion. Hal ini diperkuat jika ada idola atau influencer terkenal yang menjadi trendsetter, maka akan banyak produk-produk palsu yang meniru produk asli yang sedang naik daun. Dengan peluang yang ada, produk palsu dan berkualitas rendah yang diproduksi oleh industri fast fashion dapat terjual dengan cepat dan mudah.
dibuat oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
dibuat oleh AI
Produksi yang cepat tidak selamanya baik, nyatanya hal ini berdampak buruk pada lingkungan kita. Menurut laman Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Industri fast fashion menghasilkan 10% dari total emisi karbon di dunia dan diperkirakan akan terus bertambah hingga 50% di tahun 2030. Fast fashion yang rata-rata menggunakan bahan poliester, yang di mana harganya merupakan setengah harga dari kapas, ternyata tidak mudah untuk terurai secara hayati (non-biodegradable) karena melepaskan mikroplastik yang dapat merusak ekosistem. Dengan produksi secara berkala, pekerja yang ikut ambil andil juga ikut terdampak. Hal ini disebabkan karena produksi secara terus menerus tanpa henti sehingga menyebabkan kelelahan bagi para pekerjanya. Naasnya, para pekerja tidak mendapatkan upah yang sesuai dengan usahanya. Hal ini menjadikan kita harus lebih berhati-hati dalam memilih produk yang ingin kita gunakan. Menurut laman Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), fast fashion memiliki tiga ciri-ciri, yakni banyaknya model yang dikeluarkan demi tren, saat proses produksi para pekerjanya tidak mendapat upah yang layak, serta bahan baku yang kurang dan tidak berkualitas. Sebagai remaja yang tentunya menyukai barang murah, kita dapat mengganti fast fashion dengan thrifting. Thrifting merupakan pembelian pakaian bekas yang masih layak pakai. Tidak hanya murah, namun pakaian-pakaian bekas yang dijualkan kembali juga rata-rata memiliki kualitas yang lebih baik. Nyatanya, banyak juga pakaian-pakaian hasil thrifting yang tidak kalah unik dan trendy.
dibuat oleh AI
Dengan memahami definisi dan dampak dari fast fashion ini, diharapkan kita sebagai remaja harus lebih selektif dengan pakaian yang akan kita beli. Kita dapat memberikan dukungan kepada alam dengan pelan-pelan mengurangi pembelian dan penggunaan produk fast fashion dengan solusi yang ramah lingkungan seperti thrifting.
ADVERTISEMENT