Konten dari Pengguna

Batik Dewi Sambi: Indahnya Sambirejo Dituang dalam Seutas Kain

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jihan Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Batik Dewi Sambi khas Sambirejo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Batik Dewi Sambi khas Sambirejo (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Batik telah menjadi identitas bangsa Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Selembar kain batik bukan sekadar penutup tubuh, melainkan juga sarana untuk menceritakan sejarah, alam, hingga nilai-nilai kehidupan masyarakatnya. Maka tak heran tiap daerah berlomba lomba pamer uniknya lewat tiap gores motif batik yang khas. Kemudian dari situlah lahir beragam corak batik Nusantara yang masing-masing memiliki cerita berbeda.

Tak terkecuali Kalurahan Sambirejo, Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah yang dikenal dengan bentang alam perbukitan, warisan budaya, serta destinasi wisatanya ini juga memiliki identitas batik sendiri, yakni Batik Dewi Sambi. Batik ini bukan sekadar hasil kreasi visual, melainkan upaya merangkum kekayaan alam, sejarah, dan harapan masyarakat Sambirejo ke dalam rangkaian kombinasi motif.

"Proses kreatif yang memakan waktu tidak sedikit dengan tahapan yang cukup rumit. Setiap kombinasi motif memiliki makna dan filosofinya masing-masing," ujar Pak Je, seorang perajin batik yang berkolaborasi dengan konservator budaya dalam mencipta motif Batik Dewi Sambi.

Tiap Rangkaian Motif Batik Dewi Sambi Mengandung Harap

Dari alam dituang pada media kain, Batik Dewi Sambi memuat berbagai komponen alam yang ada di Sambirejo. Motif pertama yang paling menarik perhatian adalah sosok naga yang ditunggangi kura-kura. Naga bukan sembarang naga dan kura-kuranya juga bukan sembarang kura-kura. Keduanya diadaptasi dari relief Dewa Mantana yang terdapat di Candi Ijo, salah satu cagar budaya yang berada di wilayah Sambirejo. Relief tersebut mengisahkan perjalanan Dewa Mantana dalam pencarian tirta amerta atau air suci, sebuah perjalanan yang sarat makna tentang perjuangan, pengabdian, dan tujuan hidup.

Relief Dewa Mantana di Candi Ijo yang menjadi inspirasi motif Batik Dewi Sambi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Dalam filosofi Batik Dewi Sambi, naga melambangkan kekuatan, keberanian, dan semangat untuk terus bergerak maju. Sebaliknya, kura-kura melambangkan ketekunan, kesabaran, kemakmuran, serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Ketika kedua karakter ini dipadukan, lahirlah pesan bahwa keberhasilan tidak hanya dicapai dengan kekuatan dan kecepatan, tetapi juga melalui kesabaran, kerja keras, dan kemampuan berjalan bersama. Filosofi tersebut sejalan dengan semangat "Guyub, Rukun, Migunani" yang menjadi nilai kehidupan masyarakat Sambirejo, yakni hidup dalam kebersamaan, menjaga kerukunan, dan memberi manfaat bagi sesama.

Motif kedua terinspirasi dari sayatan Tebing Breksi, bekas tambang batu yang kini menjelma menjadi salah satu ikon pariwisata Sambirejo. Garis-garis pada motif menggambarkan lapisan batuan hasil proses geologi selama ribuan tahun. Filosofi yang ingin disampaikan adalah keteguhan dan kemampuan untuk bangkit. Sebagaimana Tebing Breksi yang bertransformasi dari kawasan pertambangan menjadi destinasi wisata unggulan, masyarakat Sambirejo diharapkan mampu melihat peluang dari setiap perubahan, menjaga alam, sekaligus terus berinovasi tanpa meninggalkan identitas lokalnya.

Tebing Breksi dan motif sayatan pada Batik Dewi Sambi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Motif terakhir adalah daun parijoto, tanaman yang tumbuh di kawasan Yogyakarta dan telah lama dikenal dalam masyarakat Jawa. Dalam cerita rakyat, parijoto dipercaya sebagai tanaman dari kahyangan yang melambangkan keberkahan dan harapan. Selain itu, tanaman ini mengandung senyawa antioksidan dan antibakteri yang bermanfaat bagi kesehatan. Karena itu, daun parijoto dipilih sebagai simbol kesehatan, kesejahteraan, dan keberlanjutan kehidupan.

Tanaman Parijoto yang kaya manfaat, salah satu inspirasi Batik Dewi Sambi (Sumber: Digital Education (kompasiana))

Ketiga unsur tersebut kemudian dipadukan menjadi satu kesatuan dalam Batik Dewi Sambi. Perpaduannya menggambarkan kekuatan karakter, semangat gotong royong, hubungan harmonis dengan alam, serta harapan akan kehidupan yang makmur.

"Batik ini mengharapkan pemakainya memperoleh kemakmuran melalui ketekunan bekerja, selalu diberi kesehatan, serta memiliki kekuatan untuk menjaga kebersamaan dan kelestarian warisan budaya Sambirejo," ujar Pak Je.

Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai filosofi di atas kain. Batik Dewi Sambi kini juga digunakan sebagai seragam resmi perangkat kalurahan dan pamong, sehingga menjadi simbol identitas sekaligus pengingat akan nilai-nilai yang ingin terus dijaga dalam kehidupan masyarakat.

Menjaga Tradisi Melalui Teknik Membatik

Ketika bicara batik, kita bicara soal teknik. Batik Dewi Sambi diproduksi menggunakan dua metode, yaitu batik tulis dan batik cap, yang masing-masing memiliki keunggulan tersendiri.

Pada batik tulis, setiap garis dan motif dibuat secara manual menggunakan canting. Sentuhan tangan perajin menjadikan setiap lembar kain memiliki karakter yang unik dan tidak ada yang benar-benar sama. Proses pengerjaannya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan waktu yang panjang, sehingga nilai ekonominya pun lebih tinggi.

Sementara itu, batik cap menggunakan cetakan berbahan tembaga sehingga menghasilkan pola yang lebih konsisten dan efisien untuk produksi dalam jumlah besar. Metode ini memungkinkan Batik Dewi Sambi menjangkau lebih banyak masyarakat tanpa menghilangkan ciri khas motifnya.

Dari sisi visual, Batik Dewi Sambi banyak mengadopsi pakem batik Yogyakarta. Hal tersebut tampak dari dominasi pemilihan warna soga yang memberikan kesan klasik, elegan, dan sarat akan nilai tradisi.

Tidak hanya hadir dalam bentuk kain, Batik Dewi Sambi juga dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, salah satunya adalah syal batik. Produk ini lebih praktis digunakan dan mudah dibawa sebagai buah tangan, sehingga menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin membawa pulang sepotong cerita dan identitas Sambirejo tanpa harus membeli selembar kain batik berukuran penuh.

Berfoto dengan syal Batik Dewi Sambi di Tebing Breksi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sebuah Kain yang Menyimpan Cerita

Di balik setiap guratan Batik Dewi Sambi tersimpan kisah tentang alam, sejarah, dan harapan masyarakat Sambirejo. Batik ini membuktikan bahwa sebuah motif bukan sekadar ornamen, melainkan media untuk merawat ingatan kolektif dan memperkenalkan identitas daerah kepada dunia.

Seiring berkembangnya pariwisata Sambirejo, Batik Dewi Sambi diharapkan tidak hanya menjadi produk ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya yang memperkenalkan kekayaan lokal kepada setiap orang yang mengenakannya. Setiap helai Batik Dewi Sambi sesungguhnya membawa cerita tentang kebersamaan, ketekunan, serta kecintaan masyarakat terhadap alam dan warisan budayanya, yang mana akan jadi cerita yang akan terus hidup selama batik ini tetap dilestarikan dari generasi ke generasi.