Indonesia Darurat Krisis Pola Istirahat

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof.Dr Hamka
·waktu baca 13 menit
Tulisan dari Juang Fiqih Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terus terang, waktu pertama kali baca data ini saya sempat mikir ada yang salah. Masa iya separah itu? Survei KIC soal pola tidur orang Indonesia keluar, angkanya bikin gelisah. Tapi itu baru satu sumber. Terus data lain nyusul dari Kemenkes, dari jurnal-jurnal ilmiah, dari penelitian langsung di lapangan di Surabaya, Palembang, sekolah-sekolah berbagai kota. Semua nunjuk ke tempat yang sama.
Kita lagi mengalami krisis tidur bukan cuma satu-dua orang, bukan cuma di Jakarta. Hampir setengah orang dewasa di negeri ini tiap malam tidur kurang dari yang dibutuhkan tubuhnya. Di kalangan remaja kondisinya malah lebih parah, ada yang angka gangguannya tembus 90% lebih di beberapa riset.
Tulisan ini ngumpulin data dari Survei Kurious–Katadata Insight Center, laporan resmi Kemenkes, plus berbagai riset ilmiah nasional dari 2021 sampai 2026. Tujuannya bukan bikin takut-takutan. Tapi masalah yang kita pura-pura tidak ada, ya tidak akan pernah terselesaikan.
Kata Kunci: gangguan tidur, sleep hygiene, insomnia remaja, screen time, ritme sirkadian, kesehatan mental, kebijakan publik
Kapan Terakhir Kamu Bangun Pagi dan Merasa Benar-Benar Segar?
Bukan sekadar tidak terlalu ngantuk. Bukan yang "lumayan oke lah buat kerja". Tapi beneran segar mata kebuka sendiri sebelum alarm bunyi, kepala langsung jernih, badan ringan. Itu kapan terakhirnya?
Kalau butuh waktu lama untuk mengingatnya, tenang kamu nggak sendirian.
Sesuatu yang ganjil terjadi di pola hidup kita sekarang. Di satu sisi, makin banyak orang rajin olahraga, hati-hati soal asupan makanan, rela bayar mahal buat suplemen atau aplikasi fitness. Tapi tidur — yang sejujurnya jauh lebih penting dari itu semua malah terus-terusan dikorbankan setiap malam. Kadang karena kerjaan belum beres, kadang Netflix sudah autoplay sendiri ke episode berikutnya, kadang kebablasan scroll TikTok sampai tiba-tiba sudah jam dua malam dan nggak jelas dua jam itu ke mana.
Yang bikin ini makin berbahaya adalah justru karena kita sudah nggak ngerasain ini sebagai masalah lagi. Tubuh manusia itu adaptif banget termasuk belajar tetap "jalan" meski kekurangan tidur. Sampai di titik tertentu, kita bahkan nggak tahu lagi seberapa capeknya kita sebetulnya. Nah, di situlah masalah sesungguhnya bersembunyi.
Tidur itu bukan berarti cuma rebahan tidak ngapa-ngapain. Selama kita tidur, otak aktif kerja membuang limbah metabolik yang numpuk seharian termasuk protein yang kalau dibiarkan bisa jadi cikal bakal Alzheimer nantinya. Hormon pertumbuhan keluar. Memori hari ini dipilah dan disimpan. Sistem imun diisi ulang. Semua ini nggak bisa ditunda atau "dibayar" di akhir pekan.
Di Indonesia, semua proses itu terganggu — untuk jutaan orang, hampir setiap malam.
Lebih dari Separuh Orang Dewasa Kita Kurang Tidur Setiap Malam
Survei Kurious–Katadata Insight Center menjangkau 875 orang dari berbagai penjuru Indonesia. Hasilnya cukup bikin diam: 46,2% orang dewasa tidur cuma 4–6 jam semalam. Bahkan 14,4%-nya lebih parah lagi, cuma 2–4 jam. Padahal standar minimum versi Kemenkes RI untuk orang dewasa itu 7–8 jam.
Jadi lebih dari separuh orang dewasa di negeri ini — setiap pagi, bangun dalam kondisi defisit tidur kronis. Bukan karena sekali lembur proyek. Bukan karena deadline mendesak seminggu itu doang. Tapi tiap malam, terus-menerus, sampai tubuhnya mungkin sudah lupa rasanya bangun dengan benar-benar cukup tidur itu seperti apa.
Nah, kalau data orang dewasa sudah bikin nggak nyaman, data remajanya lebih berat lagi:
Dari berbagai penelitian nasional (2021–2026):
Remaja 12–15 tahun: 62,9% punya gangguan tidur — ini angka resmi dari P2PTM Kemenkes RI, bukan estimasi
SMA Surabaya: 90% kualitas tidurnya buruk (Savitri dkk., 2021)
Remaja Palembang: 87,7% kualitas tidur buruk (Kuswanto, 2021)
Satu SMK Informatika: 98,9% siswa terdeteksi punya gangguan tidur dalam satu atau beberapa bentuk
Anak usia 0–36 bulan: 31% sudah punya masalah tidur dan mayoritas orang tuanya tidak sadar
98,9%. Hampir satu sekolah penuh isinya anak-anak yang tidurnya bermasalah. Angka seperti itu nggak bisa dijelaskan dengan "anak sekarang memang lemah." Ini bukan soal mental atau karakter siapa pun. Ini tanda bahwa ada yang tidak beres di lingkungan tempat anak-anak itu tumbuh dan belajar setiap harinya.
Yang bikin gelisah justru ini: kita tidak menganggap ini sebagai krisis. Ngantuk sudah jadi kondisi normal sehari-hari. "Kurang tidur" malah jadi bahan candaan di grup WA, bukan sesuatu yang ditangani serius.
Empat fase tidur yang kita lewatkan:
Transisi masih gampang terbangun
2. Tidur ringan, detak melambat
3. Tidur dalam pemulihan fisik
4. Mimpi, memori dikonsolidasikan
Bukan Soal Kurang Disiplin, Ini Jauh Lebih Rumit dari Itu
Reaksi pertama yang biasanya muncul — termasuk waktu saya pertama lihat data ini — adalah langsung salahkan yang bersangkutan. "Ya makanya HP-nya ditaruh dari tadi." Atau versi yang lebih luas: "Generasi sekarang memang manja, nggak mau susah."
Tapi sebentar dulu. Kalau 90% remaja di satu kota yang sama punya kualitas tidur buruk, itu bukan cerita soal 90% individu yang kebetulan semua-semuanya malas. Pasti ada yang salah dari sisi lingkungannya. Dan lingkungan itu — kalau kita mau jujur — memang nggak pernah didesain untuk mendukung tidur yang baik.
Lalu sebenarnya apa yang jadi akar masalahnya? Dari berbagai penelitian, ada beberapa faktor yang terus-menerus muncul:
Layar, khususnya malam hari. Ini yang paling konsisten keluar di hampir semua riset. Cahaya biru dari layar smartphone menekan produksi melatonin — hormon yang kasarnya "ngasih tahu" otak bahwa malam sudah tiba dan saatnya istirahat. Kalau hormon itu ditekan, sinyal ngantuk telat datang. Kita tetap melek meski badan sudah minta diistirahatkan. Yang lebih mengejutkan: Syilvani dkk. (2024) menemukan bahwa screen time di malam hari punya korelasi lebih kuat dengan gangguan tidur dibanding total screen time harian. Jadi bukan hanya soal lamanya — tapi waktunya kapan.
Algoritmanya memang sengaja begitu. TikTok, Instagram, YouTube — mereka punya ratusan engineer yang memang tugasnya satu: bikin kamu susah berhenti. "One more video." "Just one more scroll." Itu bukan kebetulan. Itu rekayasa yang disengaja. Dan sistem itu nggak peduli apakah besok pagi kamu ujian atau harus bangun jam lima buat kerja.
Tekanan kerja dan sekolah yang tidak manusiawi. PR sampai tengah malam, deadline yang numpuk-numpuk, budaya lembur yang malah dianggap tanda dedikasi — ini semua menciptakan kondisi di mana tidur terasa seperti kemewahan, bukan hak. Banyak orang nggak tidur bukan karena mau, tapi karena memang nggak ada pilihan lain.
Kafein yang salah waktu. Warung kopi buka sampai dini hari, kafe yang penuh pelajar sampai malam, minuman energi gampang dibeli di mana saja — ini pemandangan normal di Indonesia. Yang jadi masalah, kafein punya waktu paruh 5–7 jam di tubuh. Kopi yang kamu minum jam 4 sore masih aktif kerja di tubuh sampai jam 9 atau 10 malam.
Lingkungan yang memang tidak kondusif. Di banyak kota Indonesia, polusi cahaya masuk dari jendela, suara kendaraan nggak pernah beneran berhenti, suhu malam hari panas, dan nggak semua orang punya kamar yang layak untuk tidur nyenyak. Ini bukan sekadar alasan — ini hambatan fisik yang nyata.
Bukan Cuma Ngantuk. Jauh Lebih Serius dari Itu.
Kita sudah keburu akrab sama rasa ngantuk itu sampai otak sendiri anggap itu kondisi normal. "Yaudah, emang capek." Tapi tubuh nggak punya mekanisme normalize. Ia tetap menanggung bebannya, pelan-pelan, diam-diam, ada atau tidaknya kita yang menyadarinya.
Satu angka dulu sebelum saya lanjutkan:
69%
Resiko depresi lebih tinggi pada mereka yang mengalami gangguan tidur jangka panjang dari penelitian longitudinal internasional.
Itu angka besar untuk satu kondisi kesehatan mental saja. Dan depresi baru satu dari sekian banyak dampak yang sudah terdokumentasi:
Yang paling bikin saya nggak bisa tenang dari semua data ini bukan angkanya sendiri. Tapi respons kita terhadapnya:
Tubuh rusak dari dalam, pelan-pelan. Tidur kurang dari 7 jam secara rutin mendongkrak risiko serangan jantung, hipertensi, diabetes tipe 2, dan obesitas. Bukan karena hubungan yang misterius tapi karena waktu tidur itu memang saat tubuh memperbaiki kerusakannya dari seharian beraktivitas. Kalau prosesnya nggak terjadi, kerusakan itu numpuk terus.
Pikiran makin rapuh. Kurang tidur dan masalah mental itu saling memperparah satu sama lain. Kurang tidur munculkan kecemasan. Kecemasan bikin makin susah tidur. Lingkaran itu bisa sangat sulit dihentikan kalau sudah berputar cukup lama. Riset menunjukkan kecemasan bisa naik 27% pada orang yang terus-menerus kekurangan tidur.
Otak tidak bisa kerja penuh. Konsentrasi buyar lebih cepat, memori melemah, keputusan jadi lambat. Untuk pelajar, ini langsung terasa di nilai. Untuk yang sudah kerja, ke kualitas output dan kreativitas. Yang paling tricky: kita seringkali nggak sadar seberapa parahnya penurunan itu — justru karena otak yang kelelahan itulah yang menilai kondisi dirinya sendiri.
Mengemudi mengantuk itu berbahaya, serius. Ini bukan cuma imbauan standar keselamatan. Riset menunjukkan 19 jam tidak tidur menghasilkan gangguan kognitif yang setara dengan kadar alkohol 0,05% dalam darah. Di jalan raya, kondisi seperti itu bisa membunuh — dirinya sendiri atau orang lain.
Anak-anak yang kurang tidur tidak tumbuh optimal. Hormon pertumbuhan dilepas justru saat tidur dalam. Kalau anak bahkan bayi sekalipun punya masalah tidur yang dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya merambah ke perkembangan fisik, kognitif, dan emosional. Dan itu bisa terbawa sampai dewasa.
Obat tidur mulai jadi pelarian. Waktu frustrasi sudah mentok, orang mulai cari jalan pintas. Obat tidur tanpa resep makin gampang didapat. Tapi risikonya nggak ringan: ketergantungan bisa terbentuk cepat, efek sampingnya bisa serius, dan masalah aslinya? Tetap nggak kelar.
Ada Jalan Keluarnya. Dan Tidak Butuh Uang Banyak.
Nah, di sini ada sedikit kabar yang agak melegakan. Masalah tidur beda sama banyak krisis kesehatan lain — sebagian besarnya nggak butuh penanganan medis yang mahal. Nggak perlu resep dokter, nggak perlu alat canggih. Yang dibutuhkan adalah perubahan kebiasaan. Bukan yang sempurna yang konsisten.
Ini yang sudah ada bukti risetnya, bukan sekadar saran klise:
Jam tidur yang konsisten, ini yang paling penting. Tidur dan bangun di jam yang sama tiap hari termasuk Sabtu dan Minggu. Kedengarannya membosankan, tapi ini yang paling konsisten direkomendasikan oleh para peneliti tidur di seluruh dunia. Ritme sirkadian tubuh bergantung pada konsistensi. Kalau jamnya lompat-lompat tiap malam, tubuh nggak akan pernah bisa masuk ke pola yang optimal.
Taruh HP di luar kamar. Bukan di-silent. Bukan mode malam. Di luar kamar, titik. Kedengarannya ekstrem, tapi riset menunjukkan bahwa kehadiran fisik smartphone di kamar aja meskipun nggak dipakai sudah cukup ganggu kualitas tidur. Gantiin dengan buku fisik, nulis jurnal, atau sekadar diam.
Olahraga, tapi perhatikan waktunya. Olahraga rutin sudah terbukti signifikan memperbaiki kualitas tidur. Tapi kalau dilakukan intens dalam 2–3 jam sebelum tidur, efeknya bisa berbalik — suhu tubuh dan detak jantung masih tinggi, justru bikin susah terlelap.
Kamar yang gelap, sejuk, sunyi. Ini kondisi yang cukup jelas dari sisi ilmu tidur: suhu sekitar 18–22°C, gelap, dan sunyi. Di kota besar memang susah, tapi tirai blackout, kipas angin, dan earplug bisa sangat membantu.
Kafein terakhir sebelum jam dua siang. Ini patokan yang sering disebut para peneliti tidur. Mau ngopi habis makan siang? Masih oke. Tapi kopi sore atau malam, sebaiknya diganti teh herbal atau air putih biasa.
Teknik relaksasi yang beneran kerja. Pernapasan 4-7-8 (tarik 4 detik, tahan 7, hembuskan 8), body scan, atau progressive muscle relaxation ini semua punya bukti klinis yang solid. Bukan pseudosains wellness. Cortisol turun, dan onset tidur jadi lebih cepat.
Edukasi soal tidur perlu masuk kurikulum. Ini yang paling sering kita skip. Sleep hygiene harusnya diajarkan di sekolah setara gizi dan olahraga bukan sisipan, tapi materi yang beneran dianggap penting sejak dini.
Dan ini bukan hanya soal individu. Perlu ada regulasi yang beneran mengatur desain adiktif platform digital, terutama untuk melindungi anak dan remaja. Bukan fitur batas waktu yang tersembunyi di balik tiga lapis menu pengaturan yang beneran bekerja dan gampang diakses.
Ini Bukan Masalah yang Tidak Bisa Diselesaikan
Di beberapa negara, cara orang ngomong soal tidur sudah bergeser. Bukan lagi sekadar saran kesehatan biasa tapi sudah masuk ke ranah kebijakan. Buku-buku soal sleep science konsisten nongol di daftar bestseller. Ada perusahaan yang mulai meninjau ulang jam kerja bukan karena altruistik, tapi karena data produktivitas yang bicara sendiri. Di Denmark, beberapa sekolah mengundur jam pelajaran pertama supaya sesuai dengan ritme biologis remaja yang memang secara alami lebih siang..
Indonesia jelas belum sampai di sana. Tapi bukan berarti nggak bisa. Yang dibutuhkan bukan satu kebijakan ajaib tapi gerakan dari berbagai arah sekaligus, karena masalahnya juga datang dari berbagai arah:
Individu yang nggak cuma tahu bahwa tidur itu penting, tapi beneran menjadikannya prioritas. Jarak antara tahu dan melakukan itu jauh sekali.
Keluarga yang berani bikin aturan waktu layar untuk semua anggotanya termasuk orang tua sendiri. Anak belajar dari yang mereka lihat sehari-hari, bukan dari yang dilarangkan ke mereka.
Sekolah yang berhenti membebani siswa dengan PR yang harus dikerjakan sampai tengah malam, dan yang mulai serius memasukkan edukasi tidur ke dalam kurikulum kesehatan.
Perusahaan yang berhenti merayakan lembur sebagai bukti dedikasi. Karyawan yang cukup tidur lebih produktif, lebih kreatif, lebih jarang sakit. Ini bukan soal baik hati ini masuk akal secara bisnis.
Pemerintah yang berani mengatur desain adiktif platform digital dan mengintegrasikan sleep hygiene ke dalam kampanye kesehatan nasional bukan poster di puskesmas, tapi gerakan yang beneran didanai dan diukur dampaknya.
Platform teknologi yang mau jujur soal dampak nyata produk mereka terhadap kesehatan penggunanya terutama anak-anak dan remaja yang paling rentan.
Nggak ada yang terlalu muluk dari semua itu. Yang perlu berubah lebih dulu adalah cara kita memandang tidur bukan sebagai tanda kemalasan atau kelemahan, bukan kemewahan orang yang tidak sibuk, tapi sebagai sesuatu yang memang nggak seharusnya dikorbankan tiap malam.
Tidur Bukan Kemewahan. Itu Hakmu.
Ada sesuatu yang ironis atau lucu, tergantung mood kamu membacanya dari situasi kita sekarang. Kita hidup di zaman di mana informasi soal kesehatan ada di mana-mana. Buka YouTube, konten "cara hidup sehat" bertebaran. Buka Spotify, ada ratusan podcast soal nutrisi, olahraga, meditasi. Tapi justru hal yang paling mendasar dan paling gratis dari semuanya tidur yang cukup adalah yang paling konsisten kita abaikan. Tiap malam. Jutaan orang.
Bukan karena nggak peduli soal kesehatan. Tapi sistemnya jam kerja, desain platform, tekanan akademik, lingkungan fisik kota memang nggak dibangun untuk mendukung orang beristirahat.
Semua data yang sudah kita bahas dari bayi usia nol bulan sampai orang dewasa yang kerja penuh waktu menunjukkan sesuatu yang susah diabaikan: ini bukan lagi tren, ini darurat. Dan taruhannya bukan sekadar rasa ngantuk. Ini soal kesehatan fisik, kesehatan mental, kemampuan belajar anak, kualitas hubungan antar orang, produktivitas kerja dan kalau mau bicara jangka panjang, ini soal kualitas hidup kita sebagai bangsa.
Tapi dan ini yang sedikit menghibur dibanding krisis kesehatan lain, ini termasuk yang paling realistis untuk diperbaiki. Nggak ada yang perlu dibeli. Nggak ada teknologi baru yang harus ditunggu. Banyak dari perubahan itu bisa dimulai malam ini juga.
Tapi kalau cuma mengandalkan kesadaran individu, kita akan terus jalan di tempat. Selama sekolah masih kasih PR yang harus dikerjakan sampai tengah malam, selama platform masih sengaja didesain supaya kamu nggak bisa berhenti, selama lembur masih dianggap tanda dedikasi perubahan nggak akan cukup cepat atau cukup luas. Masalah ini nggak bisa selesai sendirian dalam satu kamar. Ini soal kondisi kita bersama.
Pertanyaan yang paling jujur yang bisa kamu tanyakan ke diri sendiri sebenarnya bukan "sudah olahraga belum hari ini?" atau "sudah makan sehat belum?" Tapi satu yang jauh lebih sederhana: semalam tidur jam berapa, dan bangun jam berapa?
Mulai malam ini kalau bisa. Taruh ponselmu lebih awal. Gelapkan kamar. Biarkan tubuhmu mengerjakan apa yang memang sudah ia tahu cara melakukannya, kalau kita mau memberinya kesempatan.
