Konten dari Pengguna

Rhythm of Kalimantan: Ketika Tanah Borneo Menemukan Irama Masa Depannya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Juliandri Johan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimantan bukan hanya tentang kekayaan alam, tetapi tentang manusia, budaya, dan generasi yang sedang menulis masa depannya. Rhythm of Kalimantan—satu denyut, satu tujuan: membangun Kalimantan, memajukan Indonesia. Foto: Dokumentasi Pribadi - Priskila
zoom-in-whitePerbesar
Kalimantan bukan hanya tentang kekayaan alam, tetapi tentang manusia, budaya, dan generasi yang sedang menulis masa depannya. Rhythm of Kalimantan—satu denyut, satu tujuan: membangun Kalimantan, memajukan Indonesia. Foto: Dokumentasi Pribadi - Priskila

Ada budaya yang tetap hidup, sungai yang terus mengalir, anak muda yang sedang mencari jalan, dan sebuah tanah yang perlahan memasuki babak baru.

Kalau mendengar kata Kalimantan, apa yang langsung terlintas di kepala?

Hutan yang luas? Sungai yang panjang? Kekayaan alam? Atau mungkin kota-kota yang sekarang mulai tumbuh semakin cepat?

Semua benar.

Tetapi kalau kita berhenti sebentar dan melihat lebih dekat, Kalimantan ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih banyak.

Ada orang-orang yang setiap pagi membuka warung. Ada anak-anak yang berangkat sekolah. Ada pengrajin yang masih membuat sesuatu dengan tangannya sendiri. Ada anak muda yang mencoba membangun usaha melalui media sosial. Ada pula tradisi yang terus diwariskan, meskipun zaman sudah berubah.

Kalimantan tidak pernah benar-benar diam.

Ia punya irama sendiri.

Mungkin, itulah yang menarik dari Rhythm of Kalimantan.

Kalimantan Bukan Sekadar Sumber Daya Alam

Ada sebuah foto yang menarik perhatian saya.

Dua orang mengenakan pakaian adat Dayak berdiri di sebuah ruang terbuka. Di belakang mereka terlihat jembatan dan lanskap yang memperlihatkan wajah Kalimantan yang terus berkembang.

Sekilas, kita mungkin hanya melihat sebuah foto budaya.

Tetapi kalau diperhatikan lebih lama, ada cerita lain di sana.

Di depan ada warisan leluhur.

Di belakang ada pembangunan.

Keduanya berada dalam satu gambar.

Budaya Daya Kalimantan sebagai Kekayaan Manusia dan Identitas Borneo. Foto: Dokumentasi Pribadi - Priskila

Kalimantan memang kaya sumber daya alam. Tetapi kekayaan Kalimantan sebenarnya tidak berhenti di sana.

Ada manusia yang tinggal di dalamnya.

Ada budaya yang dijaga.

Ada pengetahuan yang diwariskan.

Ada generasi muda yang sedang menyiapkan masa depannya.

Mungkin karena itu, ketika berbicara tentang masa depan Kalimantan, kita tidak cukup hanya bertanya berapa banyak sumber daya yang dimiliki.

Kita juga perlu bertanya, Apa yang sedang kita bangun untuk manusia yang hidup di atas tanah itu?

Ketika Budaya Bertemu Perubahan

Perubahan zaman tidak bisa dihentikan.

Teknologi masuk ke hampir setiap sisi kehidupan. Anak-anak muda semakin dekat dengan dunia digital. Cara bekerja berubah. Cara berkomunikasi berubah. Bahkan cara orang menjual sesuatu juga berubah.

Tetapi ada sesuatu yang menarik.

Perempuan dengan Busana adat Dayak menjadi bagian dari kekayaan budaya Kalimantan yang terus hidup di tengah perubahan zaman. Foto: Dokumentasi Pribadi - Priskila

Di tengah semua perubahan itu, budaya tetap mencari tempatnya.

Pakaian adat masih dikenakan.

Tarian masih dipentaskan.

Cerita tentang leluhur masih disampaikan.

Motif-motif tradisional masih digunakan.

Bahkan generasi muda kini memiliki cara baru untuk memperkenalkannya.

Dulu mungkin sebuah tradisi hanya dikenal oleh masyarakat di sekitarnya.

Sekarang sebuah video pendek bisa membuat orang dari Jakarta, Surabaya, bahkan negara lain mengenalnya.

Barangkali inilah cara budaya bertahan.

Bukan dengan menolak perubahan, tetapi ikut bergerak bersama perubahan.

Anak Muda dan Cerita Baru dari Borneo

Generasi penerus yang siap merawat warisan sekaligus menjemput masa depan. Foto: Shutterstock

Kalau ingin melihat seperti apa Kalimantan beberapa puluh tahun lagi, mungkin kita tidak perlu melihat gedung-gedung yang sedang dibangun.

Coba lihat anak mudanya.

Mereka yang hari ini duduk di ruang kelas.

Mereka yang sedang kuliah.

Mereka yang baru memulai usaha.

Mereka yang belajar teknologi secara otodidak.

Mereka yang mungkin sedang pergi ke kota lain untuk mencari pengalaman.

Sebagian mungkin akan menetap di luar Kalimantan dan Sebagian lainnya mungkin suatu hari kembali.

Dan ketika mereka kembali, mereka membawa sesuatu yang baru yaitu: Pengetahuan, Pengalaman, Ide, Jaringan dan Mungkin juga keberanian untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

Di sinilah masa depan Kalimantan mulai menemukan bentuknya.

Bukan hanya melalui pembangunan fisik, tetapi melalui manusia yang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Sungai, Hutan dan Kota yang Terus Bergerak

Keasrian alam Borneo. Foto: Shutterstock

Kalimantan juga sedang berubah.

  1. Jalan dibangun.

  2. Kota berkembang.

  3. Aktivitas ekonomi semakin ramai.

  4. Teknologi semakin dekat dengan masyarakat.

Tetapi di tengah perubahan itu, sungai tetap mengalir.

Hutan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan.

Dan masyarakat tetap membutuhkan lingkungan yang sehat.

Itulah tantangan yang menarik.

Kita tentu ingin melihat Kalimantan semakin maju.

Tetapi kemajuan tidak harus berarti meninggalkan apa yang sudah ada.

Kota boleh tumbuh.

Ekonomi boleh berkembang.

Teknologi boleh masuk.

Tetapi sungai jangan kehilangan kehidupannya.

Hutan jangan hanya menjadi cerita dalam buku.

Dan budaya jangan hanya menjadi kostum ketika ada acara.

Karena mungkin, kemajuan yang paling indah adalah ketika masa depan bisa tumbuh tanpa harus menghapus masa lalu.

Rhythm of Kalimantan

Setiap gerak dan simbol memiliki kisahnya sendiri. Di Tanah Borneo, kemajuan zaman dan kelestarian budaya berjalan berdampingan tanpa saling memadamkan. Foto: Shutterstock

Rhythm of Kalimantan

Mungkin inilah alasan mengapa kata Rhythm terasa menarik.

Karena kehidupan di Kalimantan memang seperti sebuah musik.

  • Ada suara sungai.

  • Ada suara hutan.

  • Ada suara pasar.

  • Ada suara mesin.

  • Ada suara anak-anak di sekolah.

  • Ada suara orang tua yang bercerita.

Dan ada suara anak muda yang sedang membicarakan masa depan.

Semuanya berbeda.

Tetapi justru perbedaan itulah yang membuat sebuah irama menjadi hidup.

Kalimantan tidak harus menjadi sama dengan tempat lain untuk disebut maju.

Ia bisa menemukan caranya sendiri.

Menjadi modern tanpa kehilangan budaya.

Menjadi pusat pertumbuhan tanpa melupakan masyarakat.

Memanfaatkan kekayaan alam tanpa melupakan keberlanjutan.

Dan memberi kesempatan kepada generasi muda untuk menentukan sendiri cerita masa depannya.

Mungkin suatu hari nanti, ketika kita kembali melihat Kalimantan, wajahnya sudah jauh berbeda.

Kota-kotanya mungkin semakin ramai.

Jalan-jalannya semakin panjang.

Teknologinya semakin maju.

Tetapi mudah-mudahan masih ada sungai yang mengalir.

Masih ada budaya yang dibanggakan.

Masih ada anak muda yang tahu dari mana mereka berasal.

Dan masih ada manusia yang merasa bahwa Kalimantan bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari siapa diri mereka.

Itulah Rhythm of Kalimantan.

Bukan tentang siapa yang paling cepat.

Bukan tentang siapa yang paling besar.

Tetapi tentang bagaimana sebuah tanah bergerak menuju masa depan tanpa kehilangan jiwanya.

Dari Borneo, untuk Indonesia.