Konten dari Pengguna

11 Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka. Unsplash.com/Nguyen Dang Hoang Nhu
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka. Unsplash.com/Nguyen Dang Hoang Nhu

Penilaian Tengah Semester atau PTS Bahasa Indonesia bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami, menulis, dan menggunakan bahasa secara efektif. Sehingga tersedia berbagai bentuk soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka yang bisa dipahami.

Melalui soal-soal yang beragam, siswa diajak untuk berpikir kritis dan menafsirkan isi teks. Siswa juga diajak untuk mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik sesuai dengan karakteristik Kurikulum Merdeka.

Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka

Ilustrasi Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka. Unsplash.com/Anna Evans

Berikut adalah tersedia deretan soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka beserta jawabannya yang dikutip dari buku Bahasa Indonesia: Anak-anak yang Mengubah Dunia untuk SD/MI Kelas VI, Ade Kumalasari dkk, 2022.

Aku Anak Indonesia

Hana melangkahkan kakinya dengan gelisah. Ia menendang-nendang kerikil yang ia temui sepanjang jalan. Raut wajahnya tampak cemas. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah baru di Indonesia. Keluarganya baru saja pindah dari Kyoto, Jepang, tempat ayahnya menyelesaikan pendidikan doktor.

Sesampai di halaman sekolah yang rindang, Pak Rizal, ayah Hana, menawarinya untuk ikut menemani masuk ke kelas. Namun, Hana menolak. Meski khawatir, ia merasa malu jika harus ditemani orang tuanya. Di Kyoto, ia bahkan sudah berangkat dan pulang sekolah sendiri sejak kelas 1 SD.

“Hana, kamu anak pemberani. Jangan khawatir, anak-anak Indonesia ramah-ramah. Mereka pasti akan senang punya teman baru,” kata ayahnya.

Hana mengangguk.

“Nanti Ayah akan datang lagi menjemputmu, ya. Ayah perlu pergi dulu ke tukang cukur, rambut Ayah sudah gondrong begini,” tambah Pak Rizal sambil menepuk pundak Hana.

Jarak rumah Hana dengan SDN Gaharu hanya lima ratus meter, sehingga ia bisa berjalan kaki ke sekolah. Begitu melewati gerbang sekolah, bel berbunyi nyaring. Semua siswa berlarian masuk ke kelas masing-masing. Hana mencari kelas dengan lambang VI di atas pintu.

Begitu Hana masuk, Bu Pertiwi, guru kelas enam, menyambutnya dengan senyum lebar.

“Ah, kamu pasti Hana. Ayo masuk. Ibu carikan tempat duduk dulu untuk meletakkan tasmu, lalu berkenalan dengan teman-teman sekelasmu.”

Hana mengangguk malu-malu. Ia merasa seluruh pasang mata di kelas itu sedang menatapnya. Ia mendengar bisik-bisik meski tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Dada Hana berdegup semakin kencang.

Bu Pertiwi menyilakan Hana berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri.

“Selamat pagi, teman-teman,” ucap Hana mengawali perkenalan.

Kemarin, Hana sudah berlatih di depan cermin agar tidak canggung mengucapkan kata-kata perkenalan dalam bahasa Indonesia.

“Tolong suaranya lebih keras lagi, biar semuanya bisa mendengar,” kata Bu Pertiwi lembut.

“Nama saya Hana. Saya berusia dua belas tahun. Saya pindah dari Kyoto, Jepang. Ayah saya baru menamatkan kuliahnya di sana. Kami pindah ke kota ini karena ayah saya akan bekerja di sini. Saya senang berkenalan dengan teman-teman semua. Arigato… eh, terima kasih,” kata Hana sambil membungkukkan badan.

Ketika berdiri tegak kembali, ia melihat senyum terkembang di wajah teman-teman sekelasnya. Hana pun lega, kecemasannya mulai berkurang.

“Terima kasih, Hana. Ada yang ingin kalian tanyakan pada Hana?” tanya Bu Pertiwi.

Seorang anak laki-laki mengacungkan tangan.

“Kamu asalnya dari mana? Oh ya, namaku Arjuna, biasa dipanggil Juna,” katanya.

Teman-teman yang lain bersorak, “Huuu…” Sepertinya Juna memang anak yang suka mencari perhatian.

Hana bingung bagaimana harus menjawab. Di Jepang, ia dengan mudah menjawab bahwa dirinya berasal dari Indonesia. Tapi sekarang, di Indonesia, ia harus menjawab apa?

“Saya berasal dari Indonesia…” jawab Hana pelan dan ragu.

Teman-teman tertawa. Bu Pertiwi menengahi, “Mungkin maksud Arjuna, Hana lahir di mana?”

“Oh, saya lahir di Makassar,” jawab Hana.

“Berarti kamu asli Makassar,” sahut Juna dari bangku paling belakang.

“Tapi… ayah saya berasal dari Padang dan ibu saya berasal dari Sunda,” tambah Hana, menyanggah ucapan Juna.

Bu Pertiwi tersenyum dan berkata,

“Sekarang ini memang sulit kalau ditanya asalnya dari mana, karena manusia semakin terhubung dan berpindah-pindah. Seperti Hana, misalnya, yang punya orang tua dari daerah dan suku yang berbeda. Yang jelas, Hana adalah anak Indonesia. Betul kan, Hana?”

Hana mengangguk.

“Jadi, apa yang membuat kalian mengaku sebagai anak Indonesia?” tanya Bu Pertiwi kepada seluruh kelas.

“Karena kita lahir di Indonesia,” jawab Salim sambil mengacungkan tangan.

“Tapi adikku, Naomi, lahir di Kyoto dan dia tetap anak Indonesia,” sahut Hana, yang mulai berani berbicara.

“Hana benar. Aku lahir di Berlin. Orang tuaku Jawa. Aku tetap anak Indonesia,” kata Agni, gadis berkacamata yang duduk di depan.

“Kalian sama-sama benar,” ujar Bu Pertiwi. “Anak Indonesia adalah anak-anak yang lahir atau tinggal di Indonesia, atau anak-anak yang ayah ibunya atau salah satu orang tuanya orang Indonesia. Apalagi yang membuat kita Indonesia?”

“Karena kita bisa berbahasa Indonesia, Bu,” jawab Melodi dengan nada lembut.

Hati Hana menciut. Ia merasa belum mahir berbahasa Indonesia. Di sekolah lamanya, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jepang dan bahasa Inggris.

Rupanya Bu Pertiwi menyadari perubahan raut wajah Hana. Ia lalu bertanya dan meminta Hana menjelaskan kekhawatirannya. Setelah mendengar curahan hati Hana, Bu Pertiwi menenangkan murid barunya itu.

“Jangan khawatir. Dulu Agni juga belum lancar berbahasa Indonesia ketika pindah ke kelas dua. Tapi bapak dan ibu guru serta teman-teman membantu. Sekarang Agni sudah mahir berbahasa Indonesia, bahkan buku kumpulan cerpennya baru saja terbit,” kata Bu Pertiwi.

Agni tampak tersipu.

“Jangan khawatir, Hana. Nanti aku juga bisa ajari kamu bahasa Jawa,” timpal Juna. Seketika terdengar teriakan, “Huuu…”

Tiba-tiba Salim berteriak sambil menunjuk ke jendela.

“Hantuuu!”

Semua mata menoleh ke arah yang ditunjuk Salim. Hana melihat kepala botak muncul dan tenggelam dari balik jendela yang tinggi, khas bangunan peninggalan Belanda. Bu Pertiwi segera melangkah ke pintu. Tidak mungkin ada hantu di siang bolong.

Anak-anak ribut sambil menunjuk-nunjuk ke arah jendela. Ternyata itu adalah Pak Rizal, ayah Hana, yang rambutnya baru saja habis dicukur.

“Maaf, Bu Pertiwi, saya mau menyusulkan oleh-oleh dari Jepang untuk teman-teman Hana. Tadi tidak sempat terbawa karena Hana terburu-buru,” kata Pak Rizal dari jendela.

Hana baru sadar bahwa ia melupakan cendera mata yang sudah disiapkannya untuk teman-teman barunya. Kelas kembali riuh. Hana mengedarkan kantung-kantung kecil berisi permen wagashi dan sisir tsuge, buah tangan khas Tokyo.

Hati Hana terasa hangat karena teman-teman barunya memang ramah dan senang hati menerimanya di kelas. Hana menyalami teman-temannya satu per satu sambil mencoba menghafalkan nama-nama mereka.

Sampai di ujung kelas, siswa terakhir yang ia salami berkata pelan,

“Juna.”

1. Siapa tokoh utama dalam cerita ini?

Jawaban:

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Hana.

2. Apa yang dikhawatirkan oleh tokoh utama?

Jawaban:

Hana khawatir dan cemas karena ini adalah hari pertamanya masuk sekolah baru di Indonesia. Ia takut tidak diterima atau tidak bisa beradaptasi dengan teman-teman barunya.

3. Apakah kekhawatiran tokoh utama terbukti? Mengapa?

Jawaban:

Kekhawatiran Hana tidak terbukti, karena ternyata teman-teman barunya ramah dan menerima Hana dengan baik. Mereka bahkan ingin membantu Hana belajar bahasa Indonesia.

4. Pada awal cerita, Pak Rizal menyatakan bahwa anak-anak Indonesia mempunyai sifat ramah. Apakah kalian setuju dengan pendapat Pak Rizal? Jelaskan alasannya.

Jawaban:

Setuju. Dalam cerita terbukti bahwa anak-anak Indonesia seperti teman-teman Hana menyambutnya dengan hangat, tidak mengejek, dan mau berteman dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka ramah.

5. Apa saja yang akan kalian lakukan jika ada murid baru di kelasmu?

Jawaban:

Jika ada murid baru di kelas, saya akan menyapanya dengan ramah, mengajaknya berbicara dan bermain, serta membantunya menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah agar ia merasa diterima.

6. Sekarang, tuliskan daerah asal kalian!

Jawaban (contoh):

Saya berasal dari Bandung, Jawa Barat.

7. Apakah daerah yang kalian tulis tersebut tempat kelahiran, tempat tinggal, atau keduanya?

Jawaban (contoh):

Daerah tersebut adalah tempat kelahiran dan tempat tinggal saya.

Panggung Dunia Eko Supriyanto

Eko Supriyanto adalah seorang seniman tari kontemporer asal Indonesia. Namanya mulai dikenal luas sejak tahun 2001, ketika ia berhasil terpilih menjadi penari latar diva pop dunia, Madonna, dalam tur konser keliling dunia. Eko berhasil mengalahkan ribuan peserta lain yang mengikuti audisi di Amerika Serikat. Pada tahun 2018, Eko juga menjadi koreografer tarian pembuka Asian Games di Jakarta.

Berikut adalah cuplikan wawancara Eko Supriyanto dengan wartawan Beritagar.id.

Bagaimana awal ketertarikan Mas Eko terhadap dunia tari?

Awalnya, saya dipaksa oleh bapak dan ibu untuk ikut menari bersama kakek. Setelah kakek meninggal, saya diberi les privat di tempat Pak Paijan. Kemudian dari Pak Paijan, saya belajar dengan Pak Pahari di Karang Lor. Beliau adalah salah satu tokoh tari di Magelang.

Ketika saya masuk SMEA, saya sempat setengah berhenti menari karena malu disebut seperti cah wedok (anak perempuan). Namun, saat kelas tiga, saya harus memilih antara bermain voli atau menari lagi. Akhirnya saya memilih kembali ke dunia tari.

Waktu itu saya bertemu dengan Bu Hartik, istri Pak Paijan, yang juga mengajar di SMEA. Dari mereka, saya kemudian berkenalan dengan Pak Alit Maryono, seorang tokoh tari di Magelang. Dari para guru inilah saya mendapat banyak motivasi.

Kami kemudian mendirikan sebuah sanggar tari di Magelang bernama Sanggar Pitaloka. Sanggar ini tidak hanya berfungsi untuk melestarikan tari, tetapi juga mengajarkan regenerasi tari-tarian tradisional seperti gaya Surakarta, gaya Yogyakarta, dan gaya Pak Bagong. Para penarinya adalah anak-anak SD, SMP, dan SMA. Dari situlah saya semakin yakin untuk terus menekuni dunia tari dan akhirnya melanjutkan kuliah di STSI Solo (sekarang ISI Surakarta).

Apa yang membuat Mas Eko yakin memilih karier sebagai penari?

Saya belajar silat Bima, budaya Indonesia Mataram. Dalam keluarga kami, anak laki-laki diwajibkan ikut silat. Namun, kakek saya juga ingin agar cucu-cucunya belajar menari. Walaupun pada akhirnya, hanya saya yang meneruskan menjadi penari sungguhan.

Pada masa itu, sekitar tahun 1980–1990-an, tari masih sering dianggap sebagai kegiatan untuk perempuan. Namun, saya tetap yakin bahwa silat dan tari saling berkaitan. Ketika saya masuk STSI, saya semakin menyadari hal itu setelah bertemu dengan Pak Sardono dan tokoh-tokoh tari lainnya.

Saya merasa beruntung memiliki latar belakang yang seimbang: silat yang maskulin dan tari yang lembut serta ekspresif. Keduanya menjadi pondasi yang menguatkan keyakinan saya bahwa dunia tari memang pilihan hidup saya.

Bisa diceritakan pengalaman menjadi penari latar dalam tur Madonna?

Saya percaya bahwa budaya Indonesia yang saya tampilkan adalah kunci keberhasilan saya. Saat audisi, saya menampilkan tarian Bali yang dipadukan dengan gerakan silat, kemudian tarian Minang yang digabung dengan tarian dari Halmahera Barat, serta tarian Maluku yang saya padukan dengan tarian Aceh.

Madonna sangat mengagumi keragaman kesenian Indonesia. Dalam audisi di Los Angeles, pesertanya mencapai sekitar sepuluh ribu orang, tetapi hanya enam yang terpilih. Di New York, dari sekitar enam ribu peserta, hanya empat yang terpilih. Dari total sepuluh penari yang lolos, hanya saya satu-satunya yang memiliki paspor non-Amerika.

Pengalaman itu sangat berharga dan berpengaruh besar dalam karier saya. Namun, saya tidak berhenti di situ. Saya ingin terus maju dan membagikan pengalaman ini kepada generasi penerus seniman tari Indonesia.

Apa kesibukan Mas Eko sekarang?

Saat ini, saya baru saja menerbitkan buku berjudul “Ikat Kait Impulsif Sarira”. Buku ini merupakan hasil disertasi saya tentang tari kontemporer Indonesia. Dalam buku tersebut saya menyimpulkan bahwa proses kreatif dalam tari kontemporer Indonesia meliputi tiga hal: mengunjungi kembali, mempertanyakan kembali, dan menginterpretasi kembali tradisi kita.

Saya merasa beruntung menjadi bagian dari dunia tari tradisional sekaligus tari kontemporer. Jika tidak ada seniman kontemporer, mungkin tarian tradisional hanya akan tersimpan di museum dan dianggap sebagai barang eksotis semata — sesuatu yang hanya dipuji karena keindahannya tanpa makna lebih.

Tugas seniman tari kontemporer adalah menjembatani antara tradisi dan modernitas, agar tarian tradisional Indonesia tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh dunia.

8. Menurut kalian, apa yang dimaksud dengan tari kontemporer? Apa perbedaannya dengan tari tradisional?

Jawaban:

Tari kontemporer adalah tarian yang berkembang dari tradisi, tetapi dikreasikan kembali dengan gaya dan ide yang lebih modern dan bebas.

Perbedaannya dengan tari tradisional adalah tari tradisional mengikuti aturan, pola, dan gerakan yang sudah diwariskan secara turun-temurun, sedangkan tari kontemporer lebih menekankan pada kebebasan berekspresi dan penafsiran ulang terhadap tradisi.

9. Apakah kalian setuju dengan anggapan bahwa menari hanya cocok dilakukan oleh perempuan?

Jawaban:

Tidak setuju.

Karena menari adalah bentuk seni yang bisa dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Seperti Eko Supriyanto yang membuktikan bahwa laki-laki juga bisa sukses dan berprestasi dalam dunia tari, bahkan sampai tingkat internasional.

10. Eko Supriyanto terpilih sebagai penari latar Madonna melalui seleksi yang ketat. Ia menjadi satu-satunya orang asing yang terpilih. Apa yang dapat kalian pelajari dari hal ini?

Jawaban:

Dari hal ini, kita dapat belajar bahwa kerja keras, keahlian, dan keunikan budaya Indonesia dapat membawa seseorang meraih prestasi di tingkat dunia. Eko menunjukkan bahwa dengan percaya diri dan terus berusaha, kita bisa bersaing secara global.

11. Mengapa Eko Supriyanto tidak ingin tarian tradisi kita hanya dianggap sebagai barang eksotis? Jelaskan dalam kata-kata kalian sendiri!

Jawaban:

Eko Supriyanto tidak ingin tarian tradisi hanya dianggap barang eksotis karena jika hanya dianggap indah tanpa dikembangkan, maka tarian tradisional akan berhenti berkembang dan bisa punah. Ia ingin agar tari tradisional terus hidup, dikreasikan, dan diinterpretasi ulang agar tetap relevan dan dikenal dunia.

Dengan latihan mengerjakan soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 6 Semester 1 Kurikulum Merdeka di atas, siswa menjadi siap menghadapi ujian dan meningkatkan keterampilan berbahasa dengan baik. (Aya)

Baca juga: 10 Contoh Soal Dinamika Gerak Lengkap dengan Jawabannya