2 Anak Pakubuwono XIII dan Profil Singkatnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak Pakubuwono XIII kerap menjadi sorotan karena posisinya yang berkaitan dengan kesinambungan garis keluarga Keraton Surakarta.
Informasi tentang para putra dan putrinya kerap dicari karena berkaitan dengan perjalanan hidup sang raja yang dikenal tekun menjaga tradisi.
Setiap tokoh memiliki perjalanan masing-masing sehingga kisah keluarga PB XIII terus menjadi bagian penting dalam narasi sejarah keraton.
Anak Pakubuwono XIII
Dikutip dari p2k.stekom.ac.id, berikut adalah anak Pakubuwono XIII yang tercatat dalam lingkaran keluarga Keraton Surakarta.
Keberadaan para putra dan putri ini mencerminkan perjalanan panjang keluarga kerajaan yang melewati sejumlah fase penting dalam sejarah Keraton Surakarta.
Setiap anak lahir dari latar pernikahan berbeda, sehingga garis keluarga PB XIII cukup luas dan memiliki kisah tersendiri di baliknya. Dua putra PB XIII mendapatkan perhatian lebih karena memiliki posisi signifikan dalam struktur keluarga kerajaan.
1. GRM Suryo Suharto / GPH Mangkubumi / KGPH Mangkubumi / KGPH Hangabehi
Putra pertama Pakubuwono XIII ini lahir dengan nama Gusti Raden Mas Suryo Suharto dan merupakan anak dari PB XIII dengan istri keduanya, KRAy Winari Sri Haryani.
Perjalanan hidupnya dapat dilihat melalui pergantian gelar dari GPH Mangkubumi, kemudian menjadi KGPH Mangkubumi, hingga dikenal luas sebagai KGPH Hangabehi.
Setiap gelar mencerminkan perubahan posisi serta peran dalam lingkup keluarga dan adat keraton.
Hangabehi lahir pada 5 Februari 1985 dan sejak muda sudah dekat dengan kegiatan berunsur budaya Jawa, baik dalam urusan upacara maupun aktivitas keraton.
Kedudukannya sebagai putra sulung PB XIII menempatkannya pada posisi strategis dalam dinamika keluarga keraton, terutama ketika menyangkut urusan internal terkait adat dan struktur bangsawan.
Biodata:
Nama lahir: Gusti Raden Mas Suryo Suharto
Tanggal lahir: 5 Februari 1985
Ibu: KRAy Winari Sri Haryani
Gelar lain: GPH Mangkubumi, KGPH Mangkubumi, KGPH Hangabehi
2. GRM Suryo Aryo Mustiko / GPH Purubaya / KGPH Purubaya / KGPAA Hamangkunegara
Putra bungsu dari PB XIII ini lahir dengan nama Raden Mas Suryo Aryo Mustiko pada 26 September 2002 dari pernikahan PB XIII dengan GKR Pakubuwana.
Sosoknya dikenal luas karena kedekatannya dengan bidang kebudayaan sejak kecil, termasuk ketertarikan pada seni wayang dan tradisi keraton lainnya.
Perjalanan gelarnya dimulai dari GPH Purubaya, kemudian berubah menjadi KGPH Purubaya, hingga akhirnya mendapat gelar KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, sebuah kedudukan yang menandai posisinya sebagai putra mahkota.
Penetapan tersebut memperlihatkan kepercayaan besar terhadap kemampuannya untuk meneruskan kesinambungan tradisi.
Aktivitasnya di berbagai acara adat, kegiatan budaya, maupun kegiatan internal keraton memperlihatkan kedekatannya dengan nilai-nilai Jawa yang dijaga PB XIII.
Biodata:
Nama lahir: Raden Mas Suryo Aryo Mustiko
Tanggal lahir: 26 September 2002
Ibu: GKR Pakubuwana
Gelar lain: GPH Purubaya, KGPH Purubaya, KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram
Selain kedua putra di atas, Pakubuwono XIII memiliki lima anak lainnya dari pernikahan berbeda. Dari pernikahan pertama dengan KRAy Endang Kusumaningdyah lahir GKR Timoer, GRAy Devi Lelyana Dewi, dan GRAy Dewi Ratih Widyasari.
Dari pernikahan kedua dengan KRAy Winari lahir pula BRAy Sugih Oceania serta GRAy Putri Purnaningrum. Seluruh putri ini tumbuh dalam tradisi keraton dan dikenal sebagai bagian penting keluarga besar kasunanan.
Sementara dari pernikahannya yang ketiga bersama GKR Pakubuwana lahir seorang putra yang kini menempati posisi penting dalam garis keturunan, yaitu KGPAA Hamangkunegara.
Tujuh anak dari tiga pernikahan tersebut membentuk struktur keluarga Pakubuwono XIII yang luas dan memiliki peranan beragam dalam kehidupan Keraton Surakarta.
Setiap anak tumbuh dalam tradisi budaya Jawa yang kental, sehingga perjalanan hidup masing-masing turut memperkaya dinamika keluarga kasunanan dari masa ke masa.
Di sisi lain, kabar wafatnya Sri Susuhunan Pakubuwono XIII mengguncang keluarga Keraton Surakarta dan masyarakat yang menghormatinya.
Sebelum tutup usia, beliau menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di wilayah Solo Baru karena kondisi kesehatan yang semakin menurun akibat komplikasi penyakit yang diderita dalam beberapa waktu terakhir.
Pada 2 November 2025, Sang Raja akhirnya berpulang dalam usia 77 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi lingkungan keraton dan para abdi dalem yang selama ini mengabdi kepadanya.
Setelah dinyatakan meninggal, jenazahnya dibawa kembali ke Keraton Surakarta untuk disemayamkan sesuai tata protokol keraton yang sarat tradisi dan penghormatan.
Sebagai penutup, gambaran mengenai anak Pakubuwono XIII memperlihatkan betapa lekatnya nilai-nilai tradisional diwariskan kepada generasi penerus.
Keberadaan para putra dan putrinya menjadi fondasi kuat untuk melanjutkan warisan budaya dan tradisi keraton Surakarta. (Suci)
Baca Juga: Kereta Jenazah Keraton Kasunanan Surakarta, Pembawa Jenazah yang Sakral
