Konten dari Pengguna

30 Soal SAS Bahasa Indonesia Kelas 4 Semester 1 dan Kunci Jawabannya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1,Pexels/Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1,Pexels/Pixabay

SAS Bahasa Indonesia menjadi sarana untuk melihat sejauh mana siswa menguasai materi dengan baik. Soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1 bisa digunakan untuk latihan menjelang ujian.

Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang penting dalam membentuk kemampuan literasi, memahami bacaan, serta keterampilan berbahasa siswa. Latihan soal tentu akan membantu siswa terbiasa dengan variasi pertanyaan yang mungkin muncul.

Soal SAS Bahasa Indonesia Kelas 4 Semester 1

Ilustrasi soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1,Pexels/Nitin Arya

Terdapat beberapa soal yang bisa digunakan sebagai latihan soal SAS Bahasa Indonesia. Inilah soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1 dan kunci jawabannya berdasarkan buku Bahasa Indonesia Lihat Sekitar SD Kelas IV oleh Eva Y. Nukman dan C. Erni Setyowati.

Teks 1: Tak Muat Lagi

Lala baru saja pulang sekolah. Cuaca panas membuatnya buruburu masuk rumah. Segelas air dingin, itulah yang diinginkannya. “Kakak pasti haus. Ini, minum dulu.” Kiki menyodorkan segelas air. Adiknya itu memang baik.

“Waaaah, terima ka ….” Lala menghentikan ucapannya begitu melihat baju yang dipakai Kiki. Itu baju biru polkadot favoritnya! “Kenapa kamu memakai bajuku?” Lala bertanya dengan kesal.

“Kata Ibu, baju ini untukku. Kakak kan sudah tidak pernah lagi memakainya,” jawab Kiki bingung. “Tidak pernah kupakai bukan berarti boleh diambil.” Lala mulai marah. “Ayo ganti bajumu.” “Tapi … baju ini pas untukku.” Kiki mengelak.

“Pasti sudah kekecilan untuk Kak Lala.” “Tidak! Ini bajuku, bukan bajumu,” Lala berkeras. Akhirnya, Kiki mengalah. Lala mendapatkan kembali bajunya. Langsung saja Lala ke kamar untuk berganti pakaian. Kiki mengikutinya.

“Hmmm, masih cukup.” Lala berdiri di depan cermin. “Kenapa belakangan ini aku tidak pernah memakainya, ya?” Lala terus mematut diri. Awalnya tidak ada masalah, tetapi lama-lama Lala merasa gerah. Dia juga sulit bernapas dengan lega.

Kulitnya mulai terasa gatal. Lala lalu berusaha menggaruk punggungnya. Breeet …! “Kak, baju Kakak sobek!” Kiki berteriak. Lala terdiam. Dengan sedih dia meraba bagian baju yang sobek. “Nanti minta tolong Ibu untuk menjahitnya, Kak,” usul Kiki.

“Bisa sih, tapi ….” sahut Lala pelan. Dalam hati dia mengakui, memakai baju sempit sungguh tidak nyaman. Lala juga menjadi paham mengapa akhir-akhir ini dia tidak pernah lagi memakai baju itu.

Mungkin baju itu akan bertambah sobek kalau dia terus memakainya. Lala melihat bayangan dirinya dan Kiki di cermin. Ternyata, Lala memang sudah besar. Dia sudah tak cocok lagi memakai baju itu. “Ya, nanti kita minta tolong Ibu menjahit baju ini,” katanya.

Kemudian Lala menambahkan, “Nanti baju ini buat kamu saja.” “Yang benar, Kak? Horeee!” teriak Kiki senang. Lala mengangguk pelan. “Iya, untukmu saja.” “Terima kasih.” Kiki langsung memeluk kakaknya. Cerita oleh Dian Kristiani

  1. Sampaikan kembali cerita “Tak Muat Lagi” dalam tiga kalimat buatanmu sendiri!

  2. Mengapa Lala kesal kepada Kiki?

  3. Dari mana Lala mengetahui baju itu tidak muat lagi untuknya?

  4. Menurutmu, bagaimana perasaan Lala setelah memutuskan akan memberikan bajunya kepada Kiki?

  5. Apakah kalian juga punya adik? Bagaimana perasaan kalian jika barang kalian diminta adik?

  6. Bayangkan diri kalian sebagai Kiki. Bagaimana perasaan kalian jika memiliki kakak seperti Lala?

  7. Kalimat Transitif dan Kalimat Intransitif dalam cerita “Tak Muat Lagi”

  8. Coba perhatikan cerita “Tak Muat Lagi”. Carilah kalimat transitif dan intransitif di dalamnya. Tuliskan 5 kalimat transitif dan 5 kalimat intransitif yang kalian temukan dalam cerita “Tak Muat Lagi”. Tuliskan pula kata yang menjadi objek pada kalimat transitif.

Teks 2: Kepala Suku Len

Tigor suka menyiram tanaman karena Tigor suka bermain air. Dengan semprotan air di tangannya, Tigor dapat membuat hujan. Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kanan, Tigor bisa menyemprotkan air lebih jauh.

Jika Tigor memutar kepala semprotan ke kiri, air keluar seperti hujan gerimis. Kadang-kadang Tigor dapat melihat pelangi! Sayangnya, Molen tidak suka. Kucing yang suka membuntuti Tigor itu takut air.

Begitu Tigor menyalakan keran, Molen segera kabur dan masuk rumah. Baiklah, Tigor bekerja sendiri saja. Rasanya Tigor ingin menyiram tanaman seharian, apalagi saat cuaca panas seperti ini.

Tentu saja Inang tidak membolehkannya karena halaman akan menjadi becek. Kata Inang, menyiram tanaman secara berlebihan itu membuang-buang air. Itu tidak baik. Tigor hampir sampai di tanaman kecil-kecil punya Kak Tiur.

Tiba-tiba … “Jangan! Kemarin sudah. Tanaman ini bisa mati kalau sering disiram,” kata Kak Tiur. “Kenapa?” Tigor heran sekali. “Ini sukulen. Lihat, daunnya tebal sekali. Ini untuk menyimpan air. Kalau sering disiram, sukulen bisa membusuk,”

Kak Tiur menjelaskan. “Su-ku-len? Suku Len? Aku baru tahu tanaman juga punya suku,” sahut Tigor heran. Tigor tahu keluarga mereka bersuku Batak. Tigor dan Kak Tiur bermarga Siregar, mengikuti marga Bapak.

Syuuur! Syuuuur! Tigor beraksi. Dari tanaman berbunga ungu di pojok kiri sampai pohon mangga besar di kanan, semua disiram Tigor. Tigor melakukannya secara sistematis agar tidak ada yang terlewat.

“Kita bersuku Batak dan bermarga Siregar. Tanaman ini bersuku Len dan bermarga apa?” tanya Tigor. Kak Tiur tertawa. “Bukan begitu. Namanya memang sukulen. Bukan karena punya suku.”

Tigor ikut tertawa. Seru juga seandainya tanaman juga punya suku. Ada suku Mawar, suku Mangga, suku Anggrek, dan suku Singkong. Eh, kenapa Molen mengendus-endus?

Tigor terpikir, “Hei, namamu juga ada ‘Len’. Mo-Len. Hmmm …, bagaimana kalau kamu menjadi Kepala Suku? Kepala Suku Len.” “Meooong …,” jawab Molen.

Cerita oleh Eva Nukman

Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini! Kalian tidak diperbolehkan membuka Buku Siswa untuk mencari jawabannya. Tuliskan jawaban kalian di buku tulis!

  1. Mengapa Tigor suka menyiram tanaman?

  2. Apakah yang sering dilakukan Tigor saat menyiram tanaman?

  3. Disebut apakah tanaman Kak Tiur?

  4. Mengapa tanaman Kak Tiur tidak boleh sering disiram?

  5. Siapakah Molen?

  6. Siapakah yang tidak membolehkan Tigor menyiram tanaman secara berlebihan?

  7. Apakah nama suku keluarga Tigor?

  8. Apakah nama marga Tigor dan Kak Tiur?

  9. Mengapa Tigor mengira Molen ada hubungannya dengan tanaman Kak Tiur?

  10. Jabatan apa yang disebutkan Tigor untuk Molen?

Teks 3: Ada Vampir di Rumah Ini

Klik! Kipas angin pun menyala. “Sejuknya,” gumam Sani. Setelah berdiri sebentar di depan kipas angin, Sani kembali memilih-milih buku di rak.

Klik! Kipas angin berhenti berputar. Kak Lita mematikannya. “Kipas angin ada di sini, kamu di sana, percuma kamu menyalakan kipas angin. Membuang energi saja,” kata Kak Lita.

“Aku kan mau membaca di sofa,” ucap Sani. Sani menyalakan lagi kipas angin, lalu duduk di sofa. Baru sebentar Sani membaca, Kak Lita kembali mematikan kipas angin.

“Kak, jangan dimatikan,” pinta Sani. “Gerah.” Kak Lita tak menjawab. Dia malah membuka jendela lebar-lebar. “Sejuk, kan? Tidak perlu kipas angin dan hemat listrik,” kata Kak Lita sambil duduk di samping Sani.

Tiba-tiba dia melompat, lalu melepaskan kabel kipas angin yang tertancap di stopkontak. Aduh, jika tentang listrik, Kak Lita cerewet sekali. Sani sering diomeli jika lupa melepaskan kabel atau mematikan sakelar.

Kak Lita juga menempel tulisan di tiap stopkontak di rumah ini: MATIKAN LAMPU! LEPASKAN KABEL! TARIK STEKERNYA, BUKAN KABELNYA!

“Kak, kok sukanya repot seperti itu?” tanya Sani. Kak Lita membelalak, “Repot bagaimana? Melepaskan kabel kok dibilang repot.”

“Yang penting elektroniknya sudah dimatikan. Kenapa harus dicabut kabelnya?” “Kalau kabelnya tidak dicabut, daya listriknya masih jalan terus.” Kak Lita lalu berbisik, “Kalau sudah begitu, kita seperti memberi makan vampir.”

“VAMPIR? Kak, jangan main-main, aku takut,” Sani menoleh ke sekelilingnya dengan cemas. Masa di rumah ini ada kelelawar pengisap darah?”

“Bukan vampir yang itu. Vampir yang ini mengisap listrik.” Kak Lita tertawa, lalu menunjukkan gambar yang ada di koran. “Lihat ini,” katanya.

“Wah!” seru Sani terkejut. “Jadi, walau televisi sudah dimatikan, kalau kabelnya tetap tercolok ke stopkontak, listrik tetap mengalir?” “Nah, pintar adikku!” Kak Lita tertawa sambil menjawil dagu Sani.

Cerita oleh Dian Kristiani

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

  1. Menurutmu, apa yang diceritakan dalam kisah “Ada Vampir di Rumah Ini”?

  2. Sampaikan kembali secara singkat isi cerita tersebut!

  3. Cerita seperti apa yang kalian bayangkan saat pertama kali membaca judulnya?

  4. Bagaimana pendapat kalian tentang judul cerita tersebut?

  5. Apa yang membuat sikap Sani berubah di akhir cerita?

  6. Apakah gambar diatas membantu kalian memahami cerita?

  7. Menurut kalian, apa hubungan antara vampir, kelelawar, dan alat listrik di dalam cerita ini?

Teks 4 : Dikenal karena Menari

Indonesia memiliki banyak sekali budaya, khususnya tarian. Taritarian itu menjadi ciri khas suatu daerah. Berikut ini dihimpun lima desa yang terkenal dengan ciri khas tarian dan para penarinya.

Desa pertama adalah Desa Olehsari di Banyuwangi, Jawa Timur, yang terkenal dengan tari seblang. Tarian yang dilakukan setiap tahun ini diyakini untuk menghindarkan desa dari bahaya. Penarinya biasanya wanita dewasa yang wajahnya ditutupi daun kelapa.

Penari memperagakan kegiatan membajak sawah sambil menggendong boneka mengikuti irama musik. Desa kedua adalah Desa Cempaga di Bali dengan tari baris. Tari ini dibawakan oleh laki-laki dewasa.

Gerakannya menirukan pemuda gagah berani yang menerjang medan perang. Tari baris dibedakan menjadi dua berdasarkan jumlah penarinya. Tarian yang dibawakan seorang penari disebut tari jojor.

Sementara tarian yang dilakukan berkelompok disebut tari dadap. Selanjutnya adalah Desa Barikin di Kalimantan Selatan dengan tari baksa kembang. Tarian ini dibawakan oleh penari perempuan yang jumlahnya ganjil, misalnya satu, tiga, atau lima penari.

Gerakannya meliuk-liuk menggambarkan seorang putri yang sedang bermain di taman bunga. Tari baksa kembang sering dipentaskan di acara besar. Desa keempat adalah Desa Situraja di Jawa Barat yang terkenal dengan tari umbul.

Para penarinya adalah perempuan berkebaya, berselendang, dan memakai kacamata hitam. Gerakannya gemulai, menggoyangkan badan, dan sedikit menirukan gerakan pencak silat.

Tari ini mengandung pesan bahwa perempuan juga bisa menjaga diri dengan ilmu bela diri. Desa terakhir adalah Desa Gigieng di Aceh dengan tari seudati. Fungsi tarian ini bukan hanya sebagai pertunjukan hiburan untuk rakyat,

melainkan juga sebagai sarana dakwah untuk mengembangkan ajaran agama Islam. Tari seudati dibawakan oleh delapan pemuda. Gerakan yang dibawakan menggambarkan seorang syekh bersama para pembantunya.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dan tuliskan di buku kalian!

  1. Sebutkan nama-nama desa yang diceritakan di atas dan nama tarian masing-masing!

  2. Berapakah jumlah penari pada tari seudati?

  3. Tari apakah yang menggambarkan seorang putri di taman bunga?

  4. Apakah nama tari yang gerakannya seperti ada gerakan silat?

  5. Ada tarian yang dilakukan untuk tujuan tertentu. Sebutkan nama dan tujuannya!

Kunci Jawaban Soal SAS Bahasa Indonesia Kelas 4 Semester 1

Ilustrasi soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1,Pexels/Pixabay

Kunci jawaban diperlukan untuk mengkoreksi soal yang telah dikerjakan oleh siswa. Berikut adalah kunci jawaban soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1.

Teks 1: Tak Muat Lagi

  1. Lala marah karena Kiki memakai baju biru polkadot kesayangannya. Setelah dipakai kembali, Lala menyadari bahwa baju itu sudah tidak muat lagi dan membuatnya tidak nyaman. Akhirnya Lala memutuskan memberikan baju itu kepada Kiki, dan Kiki sangat senang.

  2. Karena Kiki memakai baju biru polkadot milik Lala tanpa izin.

  3. Dari rasa gerah, sulit bernapas, gatal, dan akhirnya baju itu sobek saat dipakai.

  4. Lala merasa lebih ikhlas, lega, dan senang karena membuat adiknya bahagia.

  5. Aku akan merasa senang jika barang itu masih bisa dipakai dan adikku membutuhkannya, tetapi aku juga harus diizinkan terlebih dahulu.

  6. Aku akan merasa senang karena kakak mau berbagi dan akhirnya memberikan bajunya kepadaku.

  7. 5 Kalimat Transitif + Objeknya. Kiki menyodorkan segelas air → objek: segelas air Kenapa kamu memakai bajuku? → objek: bajuku. Ayo ganti bajumu → objek: bajumu Lala mendapatkan kembali bajunya → objek: bajunya Kiki memeluk kakaknya → objek: kakaknya 5 Kalimat Intransitif Lala baru saja pulang sekolah. Kiki mengikutinya. Lala berdiri di depan cermin. Lala terdiam. Kiki berteriak.

Teks 2: Kepala Suku Len

  1. Karena Tigor suka bermain air.

  2. Tigor memutar kepala semprotan untuk mengatur jauh dekatnya air dan membuat hujan-hujanan.

  3. Tanaman itu disebut sukulen.

  4. Karena sukulen menyimpan air di daunnya sehingga bisa membusuk bila disiram terlalu sering.

  5. Molen adalah kucing peliharaan yang selalu membuntuti Tigor.

  6. Inang.

  7. Suku Batak.

  8. Marga Siregar.

  9. Karena nama “Mo-Len” mirip dengan kata “sukulen”.

  10. Kepala Suku Len.

Teks 3: Ada Vampir di Rumah Ini

Cerita tentang Sani dan kakaknya yang mengajarkan cara menghemat listrik serta bahaya alat yang tetap tercolok meski sudah dimatikan.

Sani ingin menyalakan kipas angin, tetapi Kak Lita berulang kali mematikannya untuk menghemat listrik. Kak Lita menjelaskan bahwa alat elektronik yang tetap tercolok akan menyedot listrik seperti vampir. Akhirnya Sani mengerti dan setuju untuk hemat energi.

Awalnya terlihat seperti cerita seram tentang vampir sungguhan.

Judulnya menarik dan membuat penasaran karena ternyata “vampir” yang dimaksud adalah alat penyedot listrik, bukan makhluk menyeramkan.

Penjelasan dan gambar dari koran yang menunjukkan bahwa alat listrik tetap menghabiskan daya meski sudah dimatikan.

Ya, gambarnya membantu menjelaskan maksud “vampir listrik”.

Vampir dan kelelawar hanya perumpamaan. “Vampir” di sini adalah alat yang terus menyedot listrik bila kabelnya tetap tercolok.

Teks 4: Dikenal Karena Menari

  1. Desa Olehsari (Banyuwangi) → Tari Seblang. Desa Cempaga (Bali) → Tari Baris (jojor & dadap). Desa Barikin (Kalimantan Selatan) → Tari Baksa Kembang. Desa Situraja (Jawa Barat) → Tari Umbul. Desa Gigieng (Aceh) → Tari Seudati

  2. Delapan pemuda.

  3. Tari Baksa Kembang.

  4. Tari Umbul.

  5. Tari Seblang → untuk menghindarkan desa dari bahaya. Tari Seudati → sebagai sarana dakwah untuk mengembangkan ajaran Islam.

Soal SAS Bahasa Indonesia kelas 4 semester 1 bisa digunakan untuk membantu proses belajar. Soal-soal disusun mengikuti karakteristik pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, sehingga relevan dan mudah dipahami oleh siswa. (Fia)

Baca juga: 18 Soal UAS IPS Kelas 7 Semester 1 Kurikulum Merdeka Contoh Soal HOTS