Konten dari Pengguna

5 Puisi tentang Pahlawan Nasional sebagai Bentuk Apresiasi

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Puisi tentang pahlawan nasional, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/Bisma Mahendra
zoom-in-whitePerbesar
Puisi tentang pahlawan nasional, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/Bisma Mahendra

Puisi tentang pahlawan nasional banyak dicari menjelang peringatan Hari Pahlawan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi sekaligus memperkenalkan para pahlawan kepada anak-anak yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November. Adanya Hari Pahlawan Nasional menjadi momen untuk mengingat kembali jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk bangsa ini.

5 Puisi tentang Pahlawan Nasional yang Menyentuh Hati

Ilustrasi puisi tentang pahlawan nasional, foto bukan yang sebenarnya: Unsplash/t k

Selain memperkenalkan pahlawan kepada anak-anak, puisi juga bisa menggambarkan rasa hormat. Dikutip dari buku Kumpulan Puisi Pahlawan, Siti Isnatun M., dkk., (2011:4), berikut adalah 5 puisi tentang pahlawan nasional sebagai bentuk apresiasi melalui tulisan.

1. Elegi 10 November

Hari ini kami memandang

wajah-wajah pada bingkai yang terpajang

Menunduk membisikkan doa

dalam semat kenangan akan jasa

Separuh asa kami melayang

dalam bayang-bayang

akan masa yang tlah silam

Darah yang tlah mengalir

Keringat yang tlah bergulir

bagai sebutir safir

dalam ruang yang temaram

Bukan lagi tangis yang seharusnya kami berikan

Bukan!

Meski air mata membayangi kenangan

akan pengorbanan yang tlah dipersembahkan

10 November ini

Bersama duka ini

Kami sematkan setangkup doa

Bersama tekad dan asa

Bahwa kami adalah tonggak penerus

untuk jiwa kepahlawananmu yang tulus

2. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan

Saat goresan hatimu mengenai jantung lawan

kau dibuang di pengasingan

Saat itulah, kau belajar tentang pendidikan

kau belajar tentang arti kebenaran

Kau belajar tentang bagaimana meraih harapan

untuk bangsamu tercinta, Indonesia...

Kaudirikan Taman Siswa, taman pendidikan

agar anak negeri dapat mengukir masa depan

Berlandaskan impian dan harapan

akan cerahnya kemerdekaan

Ki Hajar Dewantara...Bapak pendidikan...

Semboyanmu hingga kini masih termakna dan terbaca

Ing ngarsa sung tuladha

ing madya mangun karsa

tut wuri handayani

di depan menjadi teladan

di tengah membangun semangat

di belakang menyokong dengan dukungan

3. Kepergian Pahlawanku

Senja yang pilu,

membuat hari kian membiru

Langit tampak keruh,

mengantar kepergianmu… pahlawanku

Gerimis jatuh membasahi pucuk sunyi,

melagukan nada-nada lara hati

Saat doa-doa ikut tertanam,

bersama bayangmu yang kian tenggelam

Kaulah, pahlawan hidupku

meninggalkan berjuta jejak

dalam rentang waktuku

mengukir berjuta cinta

dalam lembar hidupku

Kepergianmu ini,

membuatku bagai kota mati

Namun, aku mengerti

bahwa engkau...lbu

takkan pernah layu dalam kalbuku

dalam setiap kenangan, kulantunkan doaku

tenang dan bahagiamu

kembali kepada-Nya

4. Kartini

Saat wanita ditabukan untuk belajar;

suaramu lembut menentang

batinmu lantang menerjang

Sekuat tenaga kaunyalakan harap,

bagai gemerisik angin dalam senyap

rebut hak untuk kaum wanita

perjuangkan masa depan untuk kaum wanita

Kartini...

Saat ini rasamu tlah membahana...

namamu tak lagi lantang disebutkan

usahamu tak lagi ramai dibicarakan

Kau kian terlupakan...

bagai kota yang tlah lama ditinggalkan

5. Sepotong Sunyi di Taman Makam Pahlawan

Di sebuah makam

jauh dari kehidupan

yang tersimpan hanyalah kenangan

akan keabadian yang temaram

Sepotong sunyi menepi

di antara nisan-nisan berjejer rapi

seolah jadi teman yang peduli

menyanyikan sepi tanpa henti

Berkalang tanah engkau para kebanggaan

tenggelam bersama keteladanan

betapa tamanmu kini sunyi dan sepi

seakan duniamu tlah ikut mati

Taman makammu makin tak terjamah

Perjuanganmu makin terlupa sejarah

Sungguh ironis dan menggugah

Semua terjadi saat jasamu terasa indah

Nisanmu yang dulu megah

kini tampak mulai layu dan jengah

bagai bunga kamboja berguguran ke tanah

tak terusik oleh deretan kisah

Sepotong sunyi terus menggelanyuti

taman makammu… wahai pahlawan negeri

Hati berbisik dengan sepi

akankah kami bisa berbagi

meski hanya kisah yang tak selesai

dari perjalananmu yang telah usai

Itu dia puisi tentang pahlawan nasional untuk memperkenalkan pahlawan kepada anak-anak. Dengan adanya Hari Pahlawan Nasional, maka bisa mengajak anak untuk turut mengenang jasa pahlawan dan memberikan apresiasi. (Prima)

Baca juga: Siapa Nama Pahlawan yang Memakai Baju Lurik? Ini Dia Profil Lengkapnya