Konten dari Pengguna

80 Pantun Pembuka Presentasi Lucu untuk Mencairkan Suasana

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 9 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pantun Pembuka Presentasi Lucu. Foto: Pexels/fauxels
zoom-in-whitePerbesar
Pantun Pembuka Presentasi Lucu. Foto: Pexels/fauxels

Pada saat presentasi, mencairkan suasana adalah salah satu kunci keberhasilan agar audiens lebih fokus dan terhibur. Salah satu cara unik dan menarik yang bisa digunakan adalah dengan menyelipkan pantun pembuka presentasi lucu.

Mengutip dari Jurnal Sosial Budaya, Tuti Andriani, (2020:195), pantun merupakan bentuk puisi dalam kesusastraan Melayu yang paling luas dikenal. Pada masa lalu, pantun digunakan untuk melengkapi pembicaraan sehari-hari.

Pantun Pembuka Presentasi Lucu untuk Hiburan Audiens

Pantun Pembuka Presentasi Lucu. Foto: Pexels/祝 鹤槐

Berikut adalah kumpulan pantun pembuka presentasi lucu untuk mencairkan suasana.

  1. Ke pasar beli kelapa muda, Jatuh ke got kena semangka. Kalau presentasi terasa garing juga, Tenang saja, saya sudah bawa tawa.

  2. Ayam jago berkokok pagi, Ikan hiu giginya runcing. Kalau saya grogi sedikit tadi, Wajar ya, ini bukan audisi kucing!

  3. Naik sepeda ke Kota Blitar, Lewat jalan banyak beloknya. Saya hadir bukan mau gemetar, Tapi bawa ilmu dan sedikit lawaknya.

  4. Buah mangga enaknya dikunyah, Kalau asem, mata bisa sipit. Santai saja, jangan terlalu parah, Ini cuma presentasi, bukan audit!

  5. Beli sosis di ujung jalan, Dibungkus plastik warna merah. Kalau saya ngomongnya kebablasan, Tolong diingatkan dengan ramah.

  6. Menang lomba dapat piala, Langsung foto pakai kamera. Presentasi ini bukan cuma gaya, Tapi semoga juga bermanfaat nyata.

  7. Makan ketupat di pagi hari, Minumnya kopi, bukan teh basi. Kalau saya nanti lupa teori, Anggap saja itu efek nasi.

  8. Naik motor sambil nyanyi, Eh, helmnya ketinggalan di rumah. Kalau nanti saya jadi lucu sendiri, Itu memang gaya, bukan salah.

  9. Ke pasar beli ketela, Dibuat kolak pakai gula. Kalau presentasi terasa gila, Itu karena saya mau kita gembira.

  10. Jalan-jalan ke Malioboro, Beli batik dan kaos distro. Kalau saya mulai ngelantur dikit bro, Anggap aja itu bonus intro.

  11. Beli gorengan satu ribu, Dapatnya malah tahu isi. Kalau saya senyum melulu, Biar suasana makin berseri.

  12. Mancing ikan pakai umpan, Dapatnya malah sepatu butut. Kalau nanti saya kelepasan, Mohon jangan sampai ikut-ikut.

  13. Naik delman ke Cikini, Kuda nyanyi lagu lucu. Saya di sini bukan nyanyi, Tapi biar presentasi jadi seru.

  14. Beli sambal level pedas, Langsung minum dua gelas. Kalau saya sedikit terbatas, Tolong bantu, jangan membalas.

  15. Bawa kamera mau foto, Eh, baterainya malah habis. Kalau nanti saya ngaco, Anggap saja itu hiburan gratis.

  16. Ke taman lihat anggrek, Ketemu tante jual kerupuk. Kalau nanti saya ngelawak becek, Semoga tidak bikin ngantuk.

  17. Naik kapal ke Pulau Seram, Bawa bekal penuh semangat. Kalau saya mulai terlalu diam, Artinya saya sedang ingat skrip sahabat.

  18. Beli rujak di samping sekolah, Mangga muda pakai cabai merah. Kalau suara saya agak pasrah, Mungkin semalam kebanyakan ceramah.

  19. Ke bioskop nonton drama, Malah nangis satu ruangan. Kalau saya baper karena tema, Tolong semua tepuk tangan.

  20. Jalan-jalan ke Cibinong, Pulang-pulang bawa bakso. Kalau saya nanti ngomong kosong, Anggap saja sedang cari tempo.

  21. Beli sate di pojok taman, Lupa bayar malah kabur. Kalau saya grogi di depan, Anggap aja lagi belajar tampil jujur.

  22. Minum kopi di pinggir danau, Tiba-tiba datang angin ribut. Kalau saya nanti ngomong ngelantur jauh, Itu artinya saya udah sangat takut.

  23. Ke pasar beli celana, Dapat diskon dua ribu. Kalau saya agak lupa materinya, Mungkin semalam terlalu seru.

  24. Naik mobil ke Surabaya, Lupa bawa dompet malah heboh. Kalau saya bicara tak berdaya, Itu karena laptopnya nge-lag parah, loh!

  25. Beli kerupuk di warung Mak Minah, Pakai sambal level sebelas. Kalau suara saya terdengar lemah, Itu bukan malas, tapi agak gugup dan cemas.

  26. Main layangan pakai tali, Tersangkut di tiang listrik. Kalau saya mulai salah arti, Tolong bantu tanpa panik.

  27. Beli duren di tepi kali, Eh ternyata rasanya amis. Kalau saya mulai salah sekali, Anggap saja demi suasana manis.

  28. Pergi ke sawah naik perahu, Lupa jalan pulangnya mana. Kalau saya mulai kaku, Itu karena tak kuat lihat mata kalian semua.

  29. Ke pasar beli bayam, Dapat bonus daun pepaya. Kalau saya mulai melamun diam-diam, Berarti otak sedang berputar luar biasa.

  30. Makan es krim sambil jongkok, Lupa diri sampai beku. Kalau presentasi saya bikin bengong ngelotok, Itu memang jurus humor satu-satu.

  31. Beli roti di ujung gang, Eh rotinya rasa durian. Kalau saya ngomongnya ngambang, Jangan langsung bilang kurang pikiran.

  32. Naik sepeda ke Taman Safari, Pulangnya kehujanan total. Kalau saya ngelawak sendiri, Itu demi bikin kalian ngakak maksimal.

  33. Main bola di tengah jalan, Tendangannya ke warung soto. Kalau saya sok-sokan, Tolong ingatkan, jangan cuma nonton foto.

  34. Pergi ngaji di sore hari, Dapat ceramah tentang ikhlas. Kalau saya nanti salah arti, Tolong bantu dengan tulus dan ikhlas.

  35. Mancing ikan di sungai Bu Ineh, Eh, yang dapet malah baju. Kalau saya mulai nyeleneh, Itu biar suasana nggak beku.

  36. Beli martabak isi telur asin, Minumnya es jeruk peras. Kalau suara saya bikin pusing, Anggap saja itu efek suara emas.

  37. Ke Cianjur naik delman, Sambil makan kerupuk udang. Kalau saya mulai kebanyakan candaan, Itu demi biar kalian senang.

  38. Naik bus ke Tanah Abang, Lupa bawa uang jajan. Kalau saya nanti sok tenang, Itu topeng biar nggak kelihatan ketar-ketir jalan.

  39. Main gitar sambil nyanyi, Ternyata senarnya putus tiga. Kalau saya nanti agak nyeleneh, Bukan salah naskah, tapi saya terlalu gaya.

  40. Beli es campur di terminal, Pakai sirup rasa markisa. Kalau saya bicara terlalu formal, Tolong tampar pakai tawa biasa.

  41. Minum teh di atas becak, Lupa kalau jalanan macet. Kalau saya nanti mendadak ngacak, Itu strategi biar kalian semangat.

  42. Naik sepatu tapi kebalik, Kanan di kiri, kiri di kanan. Kalau materi saya terlalu unik, Tolong nikmati tanpa tekanan.

  43. Beli topi di toko dekat sekolah, Eh dikasih helm bekas. Kalau saya mulai panik tak jelas, Tolong bantu biar tetap ikhlas.

  44. Main kucing-kucingan di sawah, Dikejar sapi malah jatuh. Kalau saya nanti banyak salah, Itu karena semangat saya tumbuh.

  45. Ke taman bawa tikar, Pikniknya cuma lima menit. Kalau saya mulai ngelantur benar, Berarti otak saya lagi transit.

  46. Naik bajaj ke Stasiun Senen, Sopirnya ngajak nyanyi dangdut. Kalau saya nanti sedikit lebay men, Itu biar kalian ikut seru banget.

  47. Minum susu di warung depan, Salah ambil malah minum teh. Kalau saya tiba-tiba diam, Itu karena lupa naruh contekan di meja sebelah.

  48. Beli kue di pasar Rebo, Lupa bawa kantong kain. Kalau saya presentasi sambil ngelawak bro, Tolong jangan dilempar sandal kanan.

  49. Jalan-jalan ke Bukit Tinggi, Pulangnya bawa semangka dua. Kalau saya terlihat pede sendiri, Itu karena groginya sudah saya sewa.

  50. Main basket pakai sepatu roda, Langsung jatuh kena tiang. Kalau saya mulai cerita kemana-mana, Tolong tepuk tangan biar saya tenang.

  51. Makan sate sambil berdiri, Dagingnya jatuh ke lantai. Kalau saya salah sedikit teori, Mohon jangan langsung ditertawai.

  52. Jalan-jalan ke Kalimantan, Beli durian satu truk. Kalau saya terlihat kebingungan, Itu sinyal butuh tepuk.

  53. Minum es teh di pagi hari, Eh perut malah masuk angin. Kalau saya bicara tak terarah lagi, Itu karena sinyal belum stabil mungkin.

  54. Pergi ke pasar beli jam tangan, Tapi malah dapet kacamata. Kalau presentasi saya terkesan mengambang, Itu karena ngantuk habis sahur tadi mata.

  55. Naik kapal ke pulau seberang, Ombaknya besar seperti naga. Kalau saya bicara agak tegang, Bantu saya dengan senyum saja.

  56. Lihat drama Korea semalam, Akhir ceritanya bikin nangis. Kalau saya nanti diam-diam, Berarti ingat naskahnya masih manis.

  57. Pergi belanja ke supermarket, Lupa beli sabun cuci. Kalau saya mulai nge-blank dikit, Anggap saja sedang cari solusi.

  58. Main TikTok sambil duduk, Kepalanya goyang ke kiri. Kalau saya tiba-tiba ngelawak buruk, Maaf, memang itu bakat alami.

  59. Ke kantor pakai sepatu baru, Tapi kaus kaki beda warna. Kalau saya mulai banyak ngelucu, Itu strategi biar nggak ngantuk semua.

  60. Naik kereta ke Bandung pagi, Duduknya dekat nenek-nenek. Kalau saya nanti salah lagi, Tolong jangan langsung naik sentek.

  61. Beli es cendol di simpang tiga, Diminum sambil naik sepeda. Kalau saya semangatnya berlebih juga, Anggap saja bonus biar semua ceria.

  62. Jalan-jalan ke Gunung Kidul, Makan mi instan pakai sambal. Kalau saya ngomongnya terlalu ngelantur, Berarti saya butuh sinyal dari kabel.

  63. Naik becak sambil makan nasi, Nasinya jatuh ke baju. Kalau saya nanti grogi sekali, Tolong tenangkan saya pakai candu lucu.

  64. Nonton bola di warung kopi, Teriak-teriak kayak wasit. Kalau saya kelewatan ekspresi, Anggap saja bagian dari script.

  65. Ke taman bawa gitar tua, Main lagu zaman SD. Kalau presentasi terasa biasa, Tenang, ini baru pemanasan aja.

  66. Pergi camping ke atas bukit, Tenda sobek kena batu. Kalau saya nanti agak sulit, Mohon bantu walau cuma satu.

  67. Minum teh manis dua gelas, Eh, ternyata gula habis. Kalau presentasi saya terasa malas, Mungkin tadi kurang tidur semalam habis.

  68. Beli bakso di pinggir jalan, Duduk makan sambil nyender. Kalau saya nanti sedikit nyinyiran, Itu biar suasana jadi benderang.

  69. Ke Jakarta bawa koper, Isinya cuma sandal jepit. Kalau saya tampil agak super, Itu karena saya mimpi semalam jadi komik.

  70. Main catur di taman kota, Lawan main malah baper. Kalau presentasi saya tak sempurna, Tolong sambut dengan tawa yang sabar.

  71. Jalan-jalan ke Palembang, Beli pempek enak sekali. Kalau saya suara agak gemetar kadang, Itu karena deg-degan bukan mimpi.

  72. Nonton film di bioskop baru, Duduk depan layar besar. Kalau saya kelihatan terlalu seru, Itu efek latihan semalam di pasar.

  73. Beli kopi di depan taman, Minum sambil lihat burung. Kalau saya mulai banyak candaan, Itu trik biar presentasi nggak kaku burung.

  74. Makan siang di warung tenda, Menu andalan sambal hijau. Kalau saya agak lupa agenda, Itu karena semangat saya meletup-letup dulu.

  75. Beli pisang di dekat rel, Dimakan sambil hujan turun. Kalau saya mulai cerita ga nyambung, Tenang, itu cuma intro yang seru.

  76. Ke pasar bawa ember, Pulang-pulang dapet benang. Kalau saya jadi presenter, Mohon bantuannya biar tetap tenang.

  77. Naik sepeda lewat gang kecil, Ketemu nenek jual roti. Kalau saya mulai ngelantur dikit, Bantu dengan senyum, bukan koreksi.

  78. Pergi ke sawah lihat bebek, Bebeknya joget pakai sarung. Kalau saya tiba-tiba ngakak jelek, Itu tandanya saya udah ngerasa beruntung.

  79. Mancing ikan di selokan, Eh yang dapet malah kodok. Kalau presentasi saya berantakan, Bantu saya dengan tepuk yang gokil banget dong.

  80. Naik perahu ke danau seberang, Bawa bekal cuma kerupuk. Kalau saya nanti banyak ngarang, Anggap saja saya pawang ngantuk.

Dengan menyisipkan pantun pembuka presentasi lucu di awal, tak hanya menciptakan kesan ramah, tetapi juga mampu membangun koneksi emosional dengan audiens. Humor yang ringan melalui pantun dapat menjadi pembuka yang efektif sebelum memasuki materi yang lebih serius. (Dista)

Baca Juga: 90 Pantun Lucu Bikin Ngakak, Mulai dari Gombalan sampai Sindiran Halus