Konten dari Pengguna

85 Contoh Kalimat Majas Metafora dan Maknanya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Contoh Kalimat Majas Metafora, Foto: Álvaro Serrano
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Contoh Kalimat Majas Metafora, Foto: Álvaro Serrano

Disadari atau tidak, contoh kalimat majas metafora sudah sering dipakai pada percakapan sehari-hari. Majas ini digunakan sebagai kata kiasan yang memperindah untaian kalimat.

Dikutip dari buku Ultralengkap Peribahasa Indonesia Majas Plus Pantun, Puisi dan Kata Naku Bahasa Indonesia, Nur Indah Sholikhati 2019:(101) majas merupakan gaya bahasa yang digunakan seorang penulis untuk menyampaikan suatu pesan secara imaginatif dan kias atau tidak sebenarnya. Tujuannya adalah membuat pembaca mendapatkan efek tertentu yang cenderung ke arah emosional.

Majas terbagi menjadi empat bagian yaitu majas perbandingan, majas pertentangan. Majas sindiran dan majas penegasan. Majas metafora termasuk ke dalam suatu majas perbandingan.

Daftar isi

Pengertian Majas Metafora

Ilustrasi Contoh Kalimat Majas Metafora, Foto: Unsplash/Thought Catalog

Majas metafora adalah salah satu gaya bahasa yang termasuk dalam majas perbandingan yang menyatakan perbandingan analogis antara dua hal yang sama. Majas ini dimaknai sebagai frasa yang implisis tak memiliki arti, tetapi secara eksplisit mewakili maksud tertentu melalui persamaan atau perbandingan.

Contoh kalimat majas metafora adalah “Pertarungan sang raja hutan dan harimau berlangsung sengit”, sang raja hutan memiliki arti yaitu singa sang predator puncak yang berada di posisi teratas dalam rantai makanan. Kekuatannya inilah yang menjadikan singa dijuluki raja hutan.

Jenis-Jenis Majas Metafora

Ilustrasi Contoh Kalimat Majas Metafora, Foto: Unsplash/Ksenia Makagonova

Berdasarkan jenisnya, majas metafora terbagi lagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

1. Metafora Sinestesia

Metafora sinestesia adalah gaya bahasa berdasarkan pada pengalihan indra manusia. Metafora ini kerapkali digunakan oleh sastrawan. Contohnya seperti sedap dipandang atau enak didengar.

2. Metafora Antromorfik

Metafora antromorfik adalah gaya bahasa berdasarkan pada gejala alam semesta atau benda-benda yang tidak bernyawa memiliki nilai yang dimiliki manusia. Contohnya seperti jantung kota, bahu jalan dan lain-lain.

3. Metafora Hewan

Metafora hewan adalah gaya bahasa berdasarkan pada bagian tubuh atau sesuatu yang berkaitan dengan hewan untuk menggambarkan sesuatu yang lain. Contohnya seperti membabi buta, jalan tikus, antrean mengular dan lain-lain.

4. Metafora Abstrak

Metafora abstrak adalah gaya bahasa yang berawal dari sesuatu yang tidak terlihat atau abstrak menjadi sesuatu yang lebih nyata ataupun sebaliknya. Contohnya seperti anak emas, yang memiliki makna anak yang dibanggakan dalam keluarga.

Contoh Kalimat Majas Metafora

Ilustrasi Contoh Kalimat Majas Metafora, Foto: Unsplash/David Iskander

Berikut ini adalah beberapa contoh majas metafora dan maknanya:

  1. Cinta ibu kepada buah hatinya tak pernah berhenti. (Buah hati = anak)

  2. Akhirnya dia menikah dengan pujaan hatinya. (Pujaan hati = kekasih)

  3. Dia keras kepala, tidak mempan dilarang. (Keras kepala = teguh pendirian)

  4. Dia berasal dari Kota Gudeg. (Kota gudeg = Yogyakarta)

  5. Junkyu baru saja pulang dari Negeri Sakura. (Negeri sakura = Jepang)

  6. Raja itu menjadi tersulut api amarah. (Api amarah = luapan amarah yang diibaratkan seperti api)

  7. Pria itu adalah seorang buaya darat. (Buaya darat = pria yang medekati banyak wanita)

  8. Memang si otak udang, malas membaca. (Otak udang = bodoh)

  9. Sore itu awan menangis. (Awan menangis = hujan)

  10. Perpustakaan adalah gudang ilmu pengetahuan. (Gudang ilmu = perpustakaan memiliki berbagai jenis buku)

  11. Perbuatan tidak terpuji itu, membuatnya naik pitam. (Naik pitam = marah)

  12. Ia memasang muka tembok di depan banyak orang yang tahu perlakuannya. (Muka tembok = orang tidak tahu malu; enggan merasa bersalah)

  13. Sebagai tunas bangsa, kita harus rajin belajar. (Tunas bangsa = generasi penerus bangsa)

  14. Jangan berkecil hati, tetap semangat! (Berkecil hati = sensitif; mudah tersinggung; kecewa)

  15. Banyak tikus berdasi di kantor ini. (Tikus berdasi = pejabat yang berani melakukan hal keji)

  16. Dasar dia memang sampah masyarakat. (Sampah masyarakat = orang yang memberi kontribusi negatif kepada masyarakat)

  17. Gadis cantik itu adalah kembang desa di kampung ini. (Kembang desa = Gadis paling cantik)

  18. Karena prilakunya, dia sering menjadi buah bibir sekampung. (Buah bibir = yang selalu menjadi bahan permbicaraan orang)

  19. Ayah adalah tulang punggung keluarga. (Tulang punggung = orang yang menafkahi keluarga)

  20. Ketika tanggal tua, makanan wajib anak kos adalah mie instan. (Tanggal tua = akhir bulan)

  21. Dalam menyelesaikan masalah tidak boleh menjadi orang yang ringan tangan. (Ringan tangan = mudah memukul)

  22. Hati-hatian terhada si tangan panjang yang ada di sekitar Anda. (Tangan panjang = pencuri)

  23. Dimas adalah tangan kanan Pak Yudi. (Tangan kanan = orang kepercayaan seorang pemimpin atau bos)

  24. Seratus rumah habis dilahap si Jago Merah. (Jago merah = api)

  25. Dasar kepala batu! Dinasehati tak pernah mendengar. (Kepala batu = tidak menurut; sesukanya sendiri)

  26. Ani selalu menjadi bintang kelas sejak dulu. (Bintang kelas = siswa cerdas)

  27. Hormatilah ayahmu, dia banting tulang setiap hari demi keluarga. (Banting tulang = kerja keras)

  28. Permasalahan ini harus diselesaikan dengan kepala dingin. (Kepala dingin = sikap sabar; sikap tenang)

  29. Wanita itu memiliki sifat bermuka dua. (Bermuka dua = sangat suka mencari perhatian)

  30. Bulan pertama menjadi anak bawang di kantor sangat berat. (Anak bawang = anak baru)

  31. Banyak lelaki memperebutkan mawar desa itu untuk dipersunting. (Mawar desa = gadis; cantik; wanita yang belum menikah)

  32. Dia dikenal sebagai kutu buku di kelas kami. (Kutu buku = gemar membaca)

  33. Dalam mengambil keputusan, janganlah berat sebelah! (Berat sebelah = keputusan yang tidak adil)

  34. Kasus pembunuhan FS telah di bawah ke meja hijau. (Meja hijau = pengadilan)

  35. Andi bukan orang sembarangan, dia adalah keturunan darah biru. (Darah biru = bangsawan; keluarga kerajaan)

  36. Jangan heran, dia memang adalah anak emas di kelas ini! (Anak emas = orang yang paling disayang)

  37. Dia selalu mengkambinghitamkan orang lain, padahal dia sendiri berbuat jahat. (Mengkambinghitamkan = menyalahkan korban)

  38. Menjadi anak yatim adalah ujian berat bagi saya. (Ujian = cobaan)

  39. Bobo disenangi banyak orang karena rendah hati. (Rendah hati = tidak sombong dan baik)

  40. Jangan sampai menjadi orang yang tinggi hati, itu sifat yang tidak terpuji. (Tinggi hati=sombong; arogan)

  41. Seorang Ibu berat hati berpisah dengan anaknya. (Berat hati = enggan)

  42. Sekarang waktunya kita unjuk gigi di depan panggung. (Unjuk gigi = unjuk kekuatan, kepandaian, kekuasaan)

  43. Setiap pulang, ayah selalu membawa buah tangan dari luar kota. (Buah tangan = kenang-kenangan; oleh-oleh)

  44. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. (Pahlawan tanpa tanda jasa = gelar bagi guru yang memberi kontribusi besar bagi bangsa)

  45. Pengetahuan adalah jendela dunia. (Jendela dunia = wawasan yang luas)

  46. Pasti ada teman kamu yang suka cari muka di depan guru. (Cari muka = cari perhatian)

  47. Dewi malam telah keluar dari balik awan. (Dewi malam = bulan)

  48. Pak Alex terkesan cuci tangan terhadap kasus penipuan ini. (Cuci tangan = tidak bertanggung jawab)

  49. Kita harus berlapang dada menerima kekalahan ini. (Berlapang dada = menerima apa adanya dengan ikhlas)

  50. Senyummu bagaikan embun pagi yang menyejukkan. (Embun pagi = kerendahan hati; tulus)

  51. Bisnisnya tidak berjalan lancar sampai gulung tikar. (Gulung tikar = bangkrut)

  52. Mendengar kabar itu, dia langsung kebakaran jenggot. (Kebakaran jenggot = ribut)

  53. Tina hanya bisa gigit jari melihat tiket konsernya hangus. (Gigit jari = gemas)

  54. Laki-laki hidung belang itu perlu diberi pelajaran. (Hidung belang = genit)

  55. Meskipun sedang naik daun, artis itu tidak pernah sombong. (Naik daun = karir yang sedang naik; terkenal; viral)

  56. Anak-anak muda adalah tunas-tunas bangsa. (Tunas-tunas bangsa = harapan bangsa di masa depan)

  57. Perempuan itu bekerja sebagai kupu-kupu malam. (Kupu-kupu malam = wanita tunasusila; pelacur)

  58. Seorang anak adalah harta karun bagi kedua orang tuanya. (Harta karun = harta benda yang sangat dihargai pemiliknya)

  59. Mereka hidup sebatang kara di jalanan tanpa orang tua. (Sebatang kara = sendirian)

  60. Angin puting beliung itu membabi buta tanpa ampun. (Membabi buta = mengamuk atau bertindak tanpa perhitungan)

  61. Orang yang bertanggung jawab tidak sepantasnya berpangku tangan. (Berpangku tangan = tidak mau ikut campur)

  62. Kejadian itu membuat ayah Rita naik darah. (Naik darah = emosi)

  63. Orang yang bermulut harimau pasti tidak disukai teman temannya. (Bermulut harimau = berkata-kata kasar dan kejam)

  64. Seorang pengusaha bermain mata demi memenangkan proyeknya. (Bermain mata = mata-mata)

  65. Kau adalah belahan jiwaku satu satunya. (Belahan jiwa = orang yang dicintai begitu dalam)

  66. Raja siang menyengat terik dari sisi timur. (Raja siang = matahari)

  67. Dia mati kutu tak bisa berkutik saat warga memergokinya. (Mati kutu = bersusah payah tanpa hasil; sia-sia)

  68. Wanita adalah tulang rusuk laki-laki. (Tulang rusuk = wanita sebagai pendamping hidup laki-laki)

  69. Jangan pernah dengarkan omongan si mulut buaya. (Mulut buaya = ucapan yang belum tentu kebenarannya)

  70. Anak ini adalah darah daging kami. (Darah daging = anak kandung)

  71. Sejak kepergiannya banyak orang menjadi patah hati. (Patah hati = kesedihan mendalam)

  72. Jamal membelikan cendera mata untuk teman-temannya. (Cendera Mata = suvenir)

  73. Wanita itu memiliki akal bulus yang bisa menyesatkanmu. (Akal bulus = tipu muslihat)

  74. Dimas adalah orang yang murah hati. (Murah hati = suka memberi)

  75. Anak tersebut telah dicuci otak. (Cuci otak = memengaruhi pikiran.)

  76. Ayah sedang memperbaiki kuda besinya di bengkel. (Kuda besi = motor)

  77. Banyak orang menjadi gelap mata saat melihat harta benda. (Gelap mata = mengamuk)

  78. Maling itu mengambil langkah seribu ketika dikejar warga. (Langkah seribu = lari sangat cepat)

  79. Jangan percaya itu hanyalah kabar burung. (Kabar burung = berita yang belum tentu benarnya)

  80. Sudah dibantu, malah lupa daratan. (Lupa daratan = bersikap tanpa menghiraukan harga diri; melampaui batas)

  81. Kejadian itu membuatnya naik pitam. (Naik pitam = sangat marah)

  82. Para saksi akhirnya angkat bicara di pengadilan. (Angkat bicara = mulai bicara menyampaikan pendapat)

  83. Lintah darat itu tak segan menyakiti korbannya. (Lintah darat = orang yang meminjamkan uang dengan bunga tinggi)

  84. Kabar angin tentang gempa meresahkan masyarakat. (Kabar angin = berita bohong)

  85. Kakek tutup usia di rumah sakit. (Tutup usia = meninggal dunia)

Baca Juga : 188 Contoh Majas Perbandingan dari Berbagai Jenis

Itulah informasi terkait contoh kalimat majas metafora, pengertian, jenis dan maknanya yang dapat dipelajari dan dapat dipergunakan untuk kata-kata yang disampaikan. (Mit)